Selasa, 31 Juli 2012

Hati Natin Seluas Samudera

Nyentrik.
Atau mungkin sedeng.
Salah satu dari dua kemungkinan itulah yang cocok untuk menggambarkan trainer itu. Beda banget dengan trainer-trainer yang jadi pembicara di outing tahun tahun-tahun sebelumnya. Trainer yang ini nggak sama.  
 
Anehnya. Anak-anak manut aja sama si Bapak bertubuh kecil itu. Disuruh apapun juga mau aja. Lagian. Seru juga. Ada banyak tertawanya. Meskipun kadang diselingi dengan debaran-debaran dan ketegangan saat melakukan kegiatan yang dimintanya. Cuman 2 jam ketemu dia. Tapi. Kayaknya bakal susah untuk melupakannya. Ada kesan mendalam yang ditinggalkannya.
 
Jam sepuluh pagi.  
Semua orang sudah siap dengan karungnya masing-masing. Orang-orang kubikal akan melakukan penyirisan di sepanjang pesisir. Lalu memunguti sampah yang berserakan disana. Sesuai tema outing tahun ini; “Bersihkan bumi, Bersihkan hati”.  
 
Setelah mendapatkan briefing dari Pak Mergy. Semua orang mulai bergerak. Tapi. Supaya kesannya tetap santai. Nggak ada pembagian kelompok atau pun teritori. Juga nggak ditentukan sampah apa yang boleh diambil dan yang tidak.
 
Pokoknya. Kita fun aja. Menikmati pemandangan pantai sambil membersihkannya dari sampah. Atau bisa juga dibalik. Membersihkan pantai dari sampah yang berserakan, sambil menikmati pemandangannya. Ah. Sama saja.
 
Inti dari outing kan ada 3. Pertama, mempererat persahabatan dengan sesama teman kubikal biar tambah kompak. Kedua, melakukan refreshing biar nggak suntuk sehingga jadi segar lagi sewaktu kembali bekerja. Dan ketiga, refleksi diri. Artinya, harus ada sesuatu yang bisa kita renungkan untuk meningkatkan kualitas diri.
 
Tanpa ketiga hal itu. Outing cuman sekedar buang-buang waktu dan uang perusahaan aja. Mesti dapet ketiganya dong. Tambah kompaknya dapet. Hepi-hepinya dapet. Refleksi dirinya juga dapet. Baru boleh disebut outing yang produktif.
 
Aturan mainnya cuman ada 2. Penuhi karung yang dibawa itu dengan sampah. Dan. kumpul lagi di titik pertemuan yang sudah ditentukan tepat jam 12.00.
 
Di pantai. Kadang-kadang ada sampah yang tidak terduga juga. Misalnya. Botol kecil berisi gulungan kertas. Dari bentuk botolnya. Kelihatannya sih asing sekali. Nggak seorang pun pernah melihat botol seperti itu. Totop botol yang terbuat dari gabus itu terlihat sudah sangat tua sehingga menambah rasa penasaran semua orang.
 
Aiti yang menemukannya pertama kali. Sebenarnya. Semua pada penasaran untuk melihat isi pesan yang tertulis didalam gulungan kertas itu. Tapi. Demi menjaga kebersamaan, mereka sepakat untuk membukanya bersama teman-teman lain di titik pertemuan nanti.
 
Ternyata tambah seru juga loh. Soalnya semua orang jadi menebak-nebak apa isinya. Mungkin peta harta karun. Mungkin ada puteri cantik yang terdampar di pulau terpencil. Atau mungkin ada petualang tampan yang kehabisan bahan bakar di tengah laut. Suka-suka yang mikir aja deh pokoknya.
 
Tepat jam 12.00.
Semua orang sudah berkumpul dengan karungnya masing-masing. Tugas selanjutnya adalah prosesi penyerahan tumpukan sampah itu kepada petugas pengawas pantai untuk diproses berikutnya. Nah yang itu. Terserah mereka.
 
Nggak nyangka. Tindakan kecil itu besar sekali dampaknya. Sepanjang pantai jadi bersih. Nggak ada lagi sampah berceceran meski cuman botol platik bekas air mineral.
 
Setelah serah terima itu berlangsung. Para petugas pantai menaikkan semua karung berisi sampah itu kedalam perahu boat. Kemudian mereka menghidupkan mesin. Dan pergi ke tengah laut.
 
Tak berapa lama setelah itu. Perahu berhenti. Lalu para petugas pantai itu melakukan sesuatu yang aneh. Dari kejauhan orang-orang kubikal memandang mereka sambil bertanya-tanya; “Apa yang mereka lakukan?”
 
Karena jaraknya cukup jauh, mereka sampai harus memicingkan mata. Untungnya ada beberapa orang yang membawa kamera video. Jadi bisa melihat jelas dengan memainkan zoomingnya.
 
“G3BL3K!” maki Opri. “Apa-apa-an sih mereka itu?”
Semua terperanjat ketika tahu apa yang dilakukan oleh petugas pantai itu. Mereka membuang sekarung sampah yang sudah cape-cape dikumpulkannya di tengah laut!
 
“WOOOOOIIIY….MAU GUA TONJOK YA LU!!!” Opri mengacungkan tinjunya. “SINI KALAU LU BERANI!!!!” teriaknya. Kesal banget rasanya. Tapi percuma aja. Mereka langsung pergi dengan perahunya.
 
Tak lama setelah itu. Sampah-sampah yang dibuang di laut itu tiba di bibir pantai. Lalu. Sambil bersungut-sungut mereka kembali memungutinya.
 
“Oke. Kita langsung menuju ke restoran,” teriak Sekris. Gara-gara sampah yang ditumpahin itu jadwal makan siang jadi mundur sekitar setengah jam. Makanya. Tanpa diperintah 2 kali. Semua langsung bersiap-siap.
 
Makan siang itu sangat istimewa. Karena mereka akan makan di restoran terapung di tengah laut. Seru banget. Sebuah pilihan tempat yang berkelas. Dikombinasikan dengan lelah dan rasa lapar. Semuanya berubah menjadi NAFSU MAKAN yang nyaris sulit dikendalikan.
 
Semua perut sudah pada membuncit. Biarin!
Ini bukan hari yang cocok untuk diet. Nikmati aja. Sambil menyandar di kursi yang dibelai-belai angin semilir. Hmmmh… nikmatnya.
 
“Minta perhatian ya teman-teman….” Aiti berdiri.
Semua orang melirik dengan malas kearahnya. Berat untuk bangkit dengan perut penuh seperti ini. Tapi mata mereka yang sudah 5 watt itu berubah jadi melotot ketika Aiti menunjukkan botol berisi gulungan kertas itu.
 
“Ini sampah istimewa yang nggak gue buang…” katanya.
Semua orang nggak sabar lagi untuk mengetahui isinya. Nggak ada yang nyandar lagi. Leher mereka sudah kuat untuk menyangga kepala masing-masing lagi.
 
Tutup botol dari gabus itu sudah lapuk. Bukannya copot. Malah merutul waktu ditarik. Akhirnya. Aiti menggunakan tusuk gigi untuk mencungkilnya sedikit demi sedikit.
 
Gulungan kertas kecoklatan itu sudah berada ditangan Aiti sekarang.
Orang-orang menatapnya dengan penuh debaran. Dan rasa penasaran. Apakah isinya gerangan?
 
Pelan-pelaaaan sekali Aiti membuka gulungan itu. Dia nggak mau kalau sampai kertas itu lapuk hingga isinya tidak bisa kebaca lagi.
 
Dan ketika gulungan itu sudah dibuka seperempatnya. Aiti melihat tulisan ini: “JIKA HATIMU LUAS SEPERTI SAMUDERA,”
 
Aiti kembali menarik gulungan kertas itu. Hingga terlihat baris yang kedua. “MAKA TIDAK ADA YANG BISA MEMBUATNYA KERUH”
 
Aiti menarik gulungan kertas itu sekali lagi: HATIMU AKAN TETAP BENING.
 
Sekali lagi dibukanya gulungan itu: SEPERTI SAMUDERA RAYA.
 
Sekarang dia bisa membaca semuanya. Dia tercenung sendiri. Tidak bisa berkata-kata.
“Apa sih isinya, Ti?” orang-orang yang tidak sabar meneriakinya. Meminta Aiti membacakannya untuk mereka. Bagaimanapun juga. Botol misterius itu Aiti yang menemukannya. Dan itu sudah menjadi miliknya.
 
Setelah menarik nafas panjang. Aiti membacanya dengan lantang:  
 
JIKA HATIMU LUAS SEPERTI SAMUDERA
 
MAKA TIDAK ADA YANG BISA MEMBUATNYA KERUH
 
HATIMU AKAN TETAP BENING
 
SEPERTI SAMUDERA RAYA
 
Semua orang tercenung. Bukan hanya oleh makna yang terkandung didalam nasihat yang tertulis di gulungan kertas dalam botol itu. Melainkan juga oleh sebuah pertanyaan yang sama-sama melintas di benak mereka;”Mungkinkah Natin yang menulis pesan itu?”
 
Jika benar gulungan kertas itu ditulis oleh Natin. Bagaimana bisa sampai ke tempat sejauh ini. Disaat dan lokasi yang tepat pula.
 
Benar. Samudera raya tidak pernah bisa dikeruhkan oleh sampah apapun. Semua sampah yang dibuang ke samudera selalu disingkirkannya. Sehingga air samudera tetap bersih dan jernih.
 
Setiap sampah yang mengapung disamudera. Dikirimnya kembali ke daratan. Hingga terdampar di bibir pantai.
 
Setiap sampah yang berat. Ditenggelamkannya hingga ke palung yang paling dalam.
 
Tak ada yang bisa membuat samudera menjadi keruh. Juga tak ada yang bisa membuat keruh hati yang luasnya seperti samudera. Karena hati yang luas seperti samudera sanggup membersihkan dirinya sendiri. Dari sampah apapun yang mengotorinya.
 
Kata-kata yang menyakiti hati. Perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan. Tindakan-tindakan yang menyebalkan. Semua hal buruk yang orang lain lakukan kepada kita. Nggak bakalan mempengaruhi suasana hati kita. Jika kita memiliki hati yang lapang. Luas. Dan dalam. Seperti samudera.
 
Begitu pula dengan cobaan yang menerpa kita. Apapun itu. Hanya akan membuat jiwa kita tertekan. Sedih. Perih. Pedih. Jika dan hanya jika hati kita terlampau kerdil untuk bisa menampungnya.
 
Luaskan hatimu. Seperti luasnya samudera. Maka dia akan bisa menampung beban seberat apapun yang menghunjam kedalamnya.
 
Lapangkan jiwamu. Seperti lapangnya samudera. Maka dia akan bisa menetralisir sekotor apapun pengaruh yang datang dari luar. Kita akan tetap tegar.
 
Bahkan sekalipun seseorang sengaja menumpahkan setumpuk perkataan atau perilaku sampah. Jika hati kita seluas samudera. Maka sampah itu tidak akan mengotorinya. Malah akan disingkirkannya keluar dari samudera. Persis seperti yang dicontohkan oleh para petugas penjaga pantai itu. Sesaat setelah sekarung sampah ditumpahkan dari perahu boat mereka. Sampah itu dikirim kembali ke daratan.
 
Samudera yang bersih tidak sudi menerima sampah apapun mencemarinya. Maka seperti itulah hati yang luas seperti samudera. Dia tidak akan membiarkan bahkan setitik kecil kotoran menodainya. Itulah sebabnya. Mengapa. Orang-orang yang memiliki hati seluas samudera. Selalu bisa melihat hikmah dalam setiap peristiwa.  
 
“Bagaimana Natin bisa mengirimkan pesan seakurat itu?” demikianlah pertanyaan yang mengganggu semua orang kubikal. Bagaimana pun juga. Nggak mungkin Natin melemparkan botol itu di Ancol. Lalu gelombang laut membawanya ke tempat yang tepat. Di pantai ini.
 
“Bagaimana Natin mengendalikan para petugas pantai itu?” Sampai mereka mau berkesperimen dengan sampah yang ditumpahkannya di tengah laut siang itu? Jangan-jangan. Natin ada di sekitar sini…….
 
Sungguh, teka-teki yang sangat sulit sekali untuk dipecahkan.
Ketika mereka tengah berkasak-kusuk tentang Natin yang misterius itu. Terdengar suara seseorang berteriak-teriak minta tolong. Sambil menggedor-gedor pintu.
 
Dari arah toilet.
“Tolong bukakan pintu dari luar, dong. Please…” teriaknya. Seseorang terjebak didalam toilet.

Petugas restoran segera berlari kearahnya. Lalu membukakan pintu dari luar. Seseorang melompat dari dalam sesaat setelah pintu terbuka.
 
 “Hadduh. Saya kebanyakan makan kepiting saus pedas tadi. Nggak tahan….” Kata orang itu. Semua orang sudah mengenalnya. Jadi nggak terlalu heran dengan kelucuannya.
 
“Gimana. Apakah kita sudah bisa membuka gulungan kertas didalam botol itu?” lanjutnya.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa hati kita bisa dibuat sedemikian sempitnya sehingga kita gampang sekali sakit hati. Mudah terpengaruh oleh cobaan dan godaan kecil. Mudah menjadi korban dari perkataan, tindakan dan cemoohan, nggak senonoh orang lain. Tapi. Kita juga bisa membuat hati kita seluas samudera. Sehingga kita. Tetap tangguh. Ogah mengeluh. Dan tetap menjadi pribadi yang bisa menjaga kebersihan hati. Meskipun kita menghadapi tantangan yang berat sekali.
 
Catatan Kaki:
Di hati yang sempit, hal baik pun bisa menjadi buruk. Di hati yang luas seperti samudera. Segala sesuatu tetap mengandung hikmah penuh makna.
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar