Senin, 30 Juli 2012

Jabatan Kita, Tidaklah Abadi

Setiap karyawan sewajarnya memiliki ambisi untuk meraih posisi-posisi yang bisa meningkatkan tarap hidupnya.  Namun hati-hati, jangan sampai menodai perjuangan itu dengan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Nanti bisa menyesal. Kapan penyesalan itu datang? Nanti ketika sudah tidak menjabat lagi. Saat dunia terasa sunyi, rasa sesal itu bisa datang menghantui. Dan saat itu, semua sudah serba terlambat. Jadilah orang yang memiliki jabatan tinggi namun tetap rendah hati. Hal itu dimulai dari cara mendapatkannya dengan langkah-langkah terpuji. Saat nanti kita tidak menjabat lagi, kita akan merasa lega didalam hati. Lagi pula, tidak ada jabatan yang abadi. Yang ada adalah giliran untuk saling berganti. Maka penting untuk memastikan bahwa cara kita mendapatkannya baik. Dan cara mengembannya juga baik. Begitu pula cara mengakhirinya.
 
Tanggal 18 Oktober 2011 SBY mengumumkan perombakan kabinet. Hal ini  menegaskan bahwa setinggi apapun jabatan kita, bisa hilang begitu saja. Apakah ada orang yang ingin kehilangan jabatan tinggi secara tiba-tiba? Saya kira tidak. Apalagi jika jabatan itu sangat bergengsi. Memberikan penghasilan tinggi. Dan fasilitas yang serba mewah. Makanya kita sering terlalu terikat dengan jabatan. Mengejar-ngejarnya. Lalu mendekapnya seolah tidak ingin terpisahkan lagi. Padahal itu berbahaya sekali. Jika tiba saatnya harus mengembalikan mandat, kita bisa terkena sindrom kehilangan kekuasaan alias post power syndrom. Terkena serangan jantung. Atau sekedar merasa bingung dan linglung. Kita harus memiliki keinginan untuk meraih pencapaian yang tinggi. Namun, kita juga perlu memerdekakan diri dari belenggu ketergantungan pada jabatan tinggi. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membangun pencapaian tinggi namun tetap menjadi pribadi yang merdeka, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
 
1.      Bersiap-siaplah untuk kehilangan jabatan. Menteri, Direktur, CEO, bahkan Presiden pun cepat atau lambat akan berhenti juga. Tidak masalah apakah diberhentikan karena masa jabatannya habis, dinilai tidak bagus, atau pensiun. Meskipun masih ingin sekali untuk menjabat, tetap saja tidak bisa mengalahkan kodrat. Jabatan Anda apa? Pasti akan berakhir. Setiap jabatan empuk, memiliki sifat adiktif yang membuat kita lengket kepadanya. Terbuai dalam kenikmatannya sering membuat kita terlena, dan kurang siap menerima kenyataan ketika tiba saatnya untuk lengser. Kita justru perlu terus sadar jika jabatan itu hanya sementara. Dengan kesadaran itu, bukan hanya bisa menerima kenyataan saat kehilangannya. Lebih dari itu, kita bisa tetap rendah hati meski punya jabatan tinggi. Mereka yang tinggi hati dan ‘sok bossy’ menunjukkan rendahnya nilai kesadaran akan betapa tidak langgengnya jabatannya.  Jika saat itu tiba, mereka terkejut, dan sulit untuk menerima kenyataan. Sedangkan orang-orang yang sadar dengan ketidakabadian itu bisa bersiap lebih baik menyongsong saat akhir. Maka secara fisik dan mental pun dia sudah memiliki kesiagaan yang tinggi. Jika saat itu tiba? Mereka menyambutnya dengan senyum kepuasan dan kesiapan.
 
2.      Bersiap-siaplah untuk menerima tugas besar. Seperti dua sisi keeping mata uang; ada yang kehilangan jabatan, dan ada pula yang mendapatkannya. Kesempatan itu sering datang tidak terduga. Tiba-tiba saja boss kita mengundurkan diri. Tiba-tiba saja manager kita dihire oleh competitor. Tiba-tiba saja, ada posisi kosong yang menggiurkan. Bayangkan jika saat itu tiba; Anda tidak memiliki kesiapan untuk menunjukkan bahwa Anda layak mendapatkannya. Kesempatan itu akan kembali melayang ke tangan orang lain yang lebih siap dari Anda, bukan? Banyak orang yang merasa rugi kalau berperilaku, bertindak dan berprestasi tinggi jika posisinya belum tinggi. “Nanti saja kalau saya sudah mendapatkan jabatan tinggi,” begitu kilahnya. Padahal, orang tidak dipromosi sekedar dengan prestasi ‘nanti’, melainkan kinerja dan kualitas pribadinya selama ini. Jika Anda memiliki ambisi tinggi, maka Anda harus menunjukkan kesiapan untuk mendapatkan posisi tinggi itu sejak saat ini. Sungguh, Anda tidak pernah tahu kapan kesempatan itu akan datang. Namun selama Anda telah siap untuk mendapatkannya, Anda akan benar-benar berhasil meraihnya.
 
3.      Ingatlah bahwa jabatan itu adalah amanah. Masalah terbesar kita adalah sering mengira bahwa jabatan itu adalah keadaan dimana kita bisa mereguk semua kenikmatan. Makanya tidak heran jika setelah menjabat kita tergoda untuk sekedar menikmati fasilitasnya, memamerkan kementerengannya, dan ngotot untuk mempertahankannya. Lha, hasil kerja kita apa? Tenang saja, pejabat lain juga tidak hebat-hebat amat tapi aman-aman saja tuch. Keliru, jika kita merujuk kepada orang lain yang kinerjanya biasa-biasa saja. Ini tentang diri kita. Dan ini tentang jabatan kita. Maka ini, adalah tentang bagaimana kita menjalankan amanah sebaik-baiknya. Orang-orang yang tidak menjalankan amanah dengan baik justru beresiko besar kehilangan jabatannya. Sebaliknya mereka yang mampu menjaga dan menunaikan amanah, lebih berpeluang untuk mendapatkan amanah yang lebih besar. Ingatlah bahwa jabatan Anda adalah amanah yang harus ditunaikan. Sebagai imbalannya, Anda mungkin akan terus diberi kepercayaan. Atau, saat pensiun nanti; Anda mempunyai kisah yang pantas untuk diceritakan kepada anak cucu.
 
4.      Sadarlah jika pemegang amanah pasti diawasi. Soal pekerjaan, mungkin urusannya hanya antara Anda dengan perusahaan. Namun soal amanah, bukan hanya dengan manusia kita berurusan. Ada Tuhan. Kita yang mengaku percaya kepada adanya Tuhan tidak patut mengabaikan amanah. Terutama karena jabatan tinggi itu memiliki efek samping bernama ‘lupa diri’. Kita bisa lupa bahwa derajat kita sama dengan mereka yang lebih rendah posisinya, misalnya. Kita juga bisa lupa bahwa benda-benda dan uang itu bukan milik kita, sehingga disadari atau tidak; kita mengklaimnya sebagai property pribadi. Kita juga sering lupa bahwa keberadaan amanah itu satu paket dengan kejujuran, sehingga ‘asal semua bisa dibungkam segalanya aman’. Saya kan bekerja di swasta, mana ada peluang itu? Hmmh, setahu saya, sifat amanah itu diperlukan di semua lokasi lho. Ah, kejujuran itu siapa yang tahu? Beranikah Anda menganggap Tuhan tidak tahu? Rasanya terlalu beresiko ya? Orang yang sadar amanah tidak akan berani menyalahgunakan jabatannya untuk hal-hal yang tidak disukai Tuhannya. Dan dia, pasti akan menjaganya sebaik-baiknya. Apakah dia bekerja di instansi pemerintah. Atau di perusahaan swasta. Karena amanah, adalah bahasa universal untuk apa yang kita sebut sebagai integritas diri.
 
5.      Siapkanlah pertanggungjawaban didewan tertinggi. Setiap jabataan menuntut adanya pertanggungjawaban. Performance appraisal yang kita jalani setahun sekali itu adalah salah satu contoh forum yang memfasilitasinya. Presiden berpidato didepan anggota dewan. Dan CEO berpidato dihadapan para pemegang saham. Dengan atasan, Anda bisa berdebat untuk mendapatkan penilaian yang baik. Dengan anggota dewan Presiden bisa melakukan lobby politik agar sidang menerima pidatonya. Kepada para pemilik saham, CEO bisa bernegosiasi. Semuanya bisa diatur. Makanya, dihadapan sesama manusia, kebenaran dan kejujuran bisa bersifat nisbi. Pertanyaannya adalah; bisakah Anda berargumen dihadapan dewan tertinggi yang dipimpin langsung oleh Tuhan? Setiap pribadi adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka penting bagi kita untuk mempersiapkan laporan pertanggungjawaban atas semua amanah yang kita emban. Baik sebapai pemimpin pribadi. Maupun sebagai pengemban tugas sebuah jabatan. Sebab sekecil apapun jabatan itu, akan dimintai pertanggungjawaban.
 
Mengejar jabatan itu baik adanya. Keinginan untuk meraihnya memberi kita energy untuk berprestasi tinggi. Namun, hendaknya kita tetap berpegang teguh kepada prinsip-prinsip kehormatan. Karena tanpa kehormatan, kita bisa menghalalkan segala cara. Selain penting untuk menjaga kesucian proses meraihnya, juga sangat penting untuk tetap mengembannya dengan nilai-nilai kemuliaan. Sebab setelah semua jabatan itu kita tanggalkan, tidak ada lagi yang kita miliki selain catatan tentang bagaimana dahulu kita menunaikannya. Jika kita baik, maka baiklah akhir kehidupan kita. Jika buruk? Maka bersiaplah untuk menghadapi konsekuensinya. Tetapi, bukankah kehidupan didunia ini hanya sementara saja? Sedangkan kehidupan akhirat adalah abadi. Terlalu beresiko jika demi kebanggaan dan kenikmatan fana ini kita mengorbankan peluang mendapatkan  pahala dan kesempatan untuk hidup bahagia selama-lamanya. Ingatlah selalu bahwa jabatan kita, tidaklah abadi. Namun semua tindakan dan perilaku kita selama menjabat itu akan tetap tercatat dalam kitab langit. Yuk, kita kejar jabatan tinggi dengan cara yang baik. Dan kita tunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya.
 
Catatan Kaki:
Siapapun yang menginginkan kehormatan dan kenikmatan abadi, perlu menggunakan semua fasilitas di dunia untuk mendapatkan keridoan Ilahi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar