Tampilkan postingan dengan label Artikel-Dadang K. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel-Dadang K. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Ketika Jantung Berhenti Berdetak

Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan seseorang yang terkena serangan jantung. Meskipun cukup sering mendengar cerita-cerita tentang bagaimana menegangkannya saat-saat terjadi serangan itu, namun baru sekali itu saya menyaksikannya secara langsung. Pada saat yang paling kritis, saya mendengar suara seperti ‘mengorok’ di kerongkongan. Suara aneh itu membuat saya kalang kabut karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di rumah sakit dokter mengajak saya untuk masuk ke sebuah ruangan yang didalamnya terdapat beberapa monitor komputer. Melalui perangkat komputer yang dihubungkan dengan selang kepada jantung itu dokter meminta saya untuk melihat secara langsung, apa yang terjadi didalam jantung. Sungguh, seluruh bulu kuduk saya serasa merinding.
 
Jantung adalah organ pertama yang terbentuk ketika jabang bayi memulai proses penciptaan atas seizin Tuhan. Dan jantung jugalah yang menandai akhir hidup seseorang. Hari itu, saya benar-benar mendapatkan kehormatan untuk memperoleh sebuah proses penyadaran diri tentang betapa berharganya hidup ini. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memaknai hidup, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:  
 
1.      Menyadari betapa rentannya tubuh kita. Tubuh saya ini kurus, kecil; jauh dari bentuk ideal seorang pria jantan idaman para pemburu ketampanan. Bagaimana dengan Anda, apakah berperawakan sama seperti saya yang kerempeng? Ataukah Anda dianugerahi otot-otot yang kekar membentuk 6 gumpalan membanggakan ditengah-tengah perut seperti yang biasa dimiliki oleh para lelaki atletis?  Betapapun indahnya bentuk luar tubuh kita, boleh jadi isi didalamnya sama saja. Jantung yang saya lihat didalam tayangan langsung di ruang operasi itu menunjukkan bahwa tidak peduli sebesar dan sekekar apapun tubuh kita; kita ini sesungguhnya adalah mahluk yang rentan. Ketika Tuhan menyuruh jantung itu berhenti berdegup, maka tumbanglah tubuh setiap insan.
 
2.      Menyadari bahwa kita tidak tahu kapan hidup akan berakhir. Dua kakek saya meninggal dalam usia senja. Namun, salah satu anak saya meninggal hanya dalam hitungan minggu sejak dokter kandungan memberitahu kabar baik tentang detak jantungnya yang mulai terdeteksi oleh alat USG. Betapa penuh misterinya hidup yang kita miliki. Hingga tak seorangpun tahu kapan hidupnya akan berakhir. Setiap kali mengingat hal itu, saya selalu terdorong untuk bersegera menunaikan sembahyang yang sejak tadi masih tertunda-tunda. Setiap kali mengingatnya, kita termotivasi untuk mengurangi berbuat dosa. Dan setiap kali menyadarinya, kita kehilangan selera untuk berbuat curang atau nista. Semoga Tuhan berkenan membantu kita untuk selalu sadar bahwa kita tidak tahu kapan hidup ini akan berakhir.
 
3.      Menyadari bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup. Ketika nafsu dan keserakahan memenuhi pikiran dan hati kita, biasanya kita tidak segan untuk melakukan apapun. Termasuk didalamnya perbuatan-perbuatan yang melanggar norma, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Sesungguhnya kita tahu jika perbuatan itu salah, namun dorongan hawa nafsu jauh lebih besar daripada pengetahuan tentang kebenaran. Ya sudah lakukan saja, mumpung tidak ada yang memergoki atau berani menghalangi. Mungkin kita perlu ingat kembali bahwa setiap perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, mungkin kita masih sempat berpikir ulang, setiap kali hendak berbuat curang. Atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai oleh Tuhan.
 
4.      Menyadari bahwa kita tidak bisa membayangkan kerasnya sisksaan Tuhan. Jika Anda pernah memegang palu, mungkin tangan Anda pernah secara tidak sengaja terpukul palu saat hendak memaku. Rasa sakitnya tentu bukanlah tandingan bagi pukulan palu malaikat yang marah karena kenistaan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Jika Anda pernah memasak, mungkin tangan Anda pernah melepuh terkena kompor yang tengah menyala. Rasa panasnya bukanlah tandingan kobaran api didalam neraka yang menyala-nyala. Perlu berlatih dipukul martil sekeras apa supaya bisa tahan dari pukulan palu godam Tuhan? Harus latihan dibakar dengan api sebesar apa supaya bisa mengatasi panasnya api kemarahan Tuhan? Menyadari bahwa kita tidak bisa membayangkan kerasnya siksaan Tuhan, mungkin bisa lebih memotivasi kita untuk mengisi hidup dengan tindakan-tindakan yang bernilai.   
 
5.      Menyadari bahwa kita tidak berhak untuk menyulitkan orang lain. Kita sering mengira bahwa wacana tentang sorga dan neraka itu hanya cocok untuk dijadikan dongeng pengantar tidur saja. Hanya anak-anak yang layak mempercayainya. Orang dewasa seperti kita, tidak pantas lagi terbuai oleh cerita-cerita yang tidak ada bukti empiris tentang kebenarannya. Memang, hidup ini adalah pilihan. Kita boleh memilih untuk percaya, atau ingkar saja. Maka berbuat sesuka hati adalah hak kita. Namun, ada bagusnya jika kita sadar kita ini sama sekali tidak berhak untuk menyulitkan orang lain. Meski boleh berbuat nista, kita harus memastikan bahwa kenistaan yang kita buat itu tidak menjadikan orang lain menderita. Meski boleh mengambil yang bukan hak kita, namun kita tidak patut menyebabkan orang lain kehilangan kepemilikannya. Meski boleh mengambil sesuka hati kita, tapi kita tidak berhak menjadikan perusahaan mengalami kerugian. Menyadari bahwa kita tidak berhak untuk menyulitkan orang lain, mungkin membantu kita untuk menyadari bahwa tidak ada tindakan dan perilaku kita yang tidak terhubung dengan orang lain. Maka perilaku positif, hanya itulah pilihan yang kita miliki.
 
Menepuk dada adalah pertanda bahwa kita percaya diri dan yakin akan semua kemampuan yang kita miliki. Namun, kita sering tidak sadar bahwa didalam dada yang kita tepuk-tepuk itu ada sebuah organ penting yang menentukan hidup dan mati kita. Organ itu bernama jantung. Maka setiap kali kita menepuk dada, alangkah baiknya sambil mengatakan;”Tuhan, terimakasih telah Engkau izinkan aku memiliki jantung ini.” Dengan begitu, mungkin kita bisa semakin termotivasi untuk mengisi hidup yang singkat ini dengan segala hal yang Dia sukai. 

Catatan Kaki:
Tubuh kekar atau langsing. Wajah tampan atau cantik. Dompet tebal atau tipis. Semuanya tidak memiliki arti yang lebih besar daripada makna yang dikandung dalam sebuah organ bernama jantung.
 

Pendek dan Kecil Versus Panjang dan Besar

Daya imajinasi memungkinkan kita untuk mereka-reka rupa seseorang yang belum pernah kita temui secara fisik. Makanya Anda punya gambaran sosok sahabat pena yang Anda kenal didunia maya. Saya sering mengalami hal itu. Orang yang pertama kali bertemu dengan saya mengatakan;”Oh, ini toh Kang Dadang itu?”. Kejadian itu terulang lagi pada pertemuan dengan pengurus baru Alumni ITB Angkatan ‘89 hari sabtu lalu. Meski satu angkatan, semasa kuliah saya jarang sekali bertemu dengan mereka. Meski sama-sama aktivis berat, tetapi saya lebih banyak beraktivitas di luar kampus. “Kirain Dadang itu badannya tinggi dan besar, gitu.” Demikian kata teman saya begitu melihat bahwa sebenarnya saya ini pendek dan kecil. Tinggi 165 cm, berat 55 kg. Saya tidak keberatan menyebut diri sebagai orang yang ‘pendek dan kecil’. Karena kedua kosa kata itu bukanlah kebalikan dari ‘panjang dan besar’. Jadi, ya santai saja…
 
Meski demikian, kita tidak bisa benar-benar lepas dari dikotomi panjang dan pendek. Besar dan kecil. Dalam konteks umur, misalnya; kita selalu mendoakan agar orang yang sedang berulang tahun itu dianugerahi umur panjang. Kita juga selalu ingin menjadi orang besar, dan tidak ingin menjadi orang kecil.  Jadi, mau tidak mau memang harus diakui jika kita ini lebih menyukai yang panjang dan besar, daripada yang pendek dan kecil. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar cara mendapatkan yang panjang dan besar, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:  
 
1.      Menerima kenyataan bahwa segalanya sudah dijatah. Hidup dan mati kita. Jodoh dan rezeki kita. Nasib kita. Semuanya sudah tertulis dalam buku besar diharibaan Tuhan. Hal itu sama sekali tidak berarti Tuhan pilih kasih dan otoriter dalam menentukan semuanya, melainkan semakin menegaskan bahwa Tuhan sudah mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup kita sebelum kita sendiri mengalaminya. Tuhan sudah tahu kapan dan bagaimana cara kita akan mati, sehingga Dia sudah mencatatkan dalam buku itu. Jadi, sudahlah tidak perlu terlalu pusing apakah umur kita akan panjang atau pendek karena dalam konteks umur, size doesn’t matter. Yang menjadikannya ‘matter’ adalah apa yang kita lakukan dalam mengisi jatah umur yang kita miliki itu. Mau diisi dengan tindakan yang baik dan produktif atau dengan keburukan dan kesia-siaan belaka.
 
2.      Panjangkanlah ‘umur manfaat’ Anda, bukan ‘umur fisik’. Bukan hanya di dalam novel-novel fiksi kita bisa melihat betapa manusia mabuk dengan umur panjang. Dalam dunia nyata pun demikian. Padahal, kita melihat fakta bahwa diantara manusia yang umurnya panjang itu banyak yang secara mental kembali lagi kepada keadaan semasa mereka masih kecil. Sebaliknya, banyak orang yang sudah meninggal namun hasil karyanya masih digunakan oleh banyak orang. Temuan-temuannya masih terus digunakan. Ajaran-ajarannya masih tetap ditaati. Kalimat-kalimat penuh hikmahnya masih tetap diingat. Bukankah mereka inilah yang secara hakekat memiliki umur yang panjang? Bahkan Anda sendiri sering menyebut nama seseorang yang sudah meninggal sejak berabad-abad lamanya, bukan? Mungkinkan nama kita masih disebut oleh orang-orang yang hidup 500 tahun dari sekarang?
 
3.      Besarkanlah nilai manfaat diri Anda bukan ukuran tubuh Anda. Anda memiliki sebuah amplop berisi ratusan juta rupiah. Itu adalah uang berlebih Anda setelah dikurangi alokasi untuk kebutuhan hidup layak dan keperluan lainnya. Anda punya dua pilihan untuk menggunakan uang itu. Pertama, pergi ke dokter bedah platik, maka Anda akan awet muda. Uang itu cukup untuk melakukan perawatan seumur hidup. Kedua, pergi ke panti asuhan lalu Anda meletakkan amplop itu didepan pintu dengan pesan “Untuk Merenovasi Atap Panti Yang Bocor”. Jika Anda mengambil pilihan kedua, maka saya menjamin bahwa Anda akan berhasil membuat nilai hidup Anda jauh lebih besar tanpa harus membeli BH baru dengan nomor yang lebih besar.
 
4.      Berusaha untuk mendapatkan yang besar dan panjang. Kata orang, hanya ada dua kemungkinan mengapa seseorang sangat setia pada pameo ‘size doesn’t matter’, yaitu; size miliknya minimalis atau sedang berpura-pura puas dengan yang minimalis itu. Saya tidak tahu benar apa tidaknya. Tapi jika dipikir-pikir; kalau kita bisa mendapatkan yang panjang dan besar, mengapa harus terus mendekap yang pendek dan kecil? Bayangkan jika Anda bisa memiliki umur panjang hingga 110 tahun. Jika Anda mencapai akil baligh pada usia 10 tahun maka itu artinya Anda bisa memupuk amal dan kebajikan selama 100 tahun. Bukankah umur panjang dan besarnya nilai pahala yang Anda kumpulkan itu bisa menjadi bekal yang sangat banyak untuk mendapatkan karunia Tuhan? Masalahnya, kita tidak tahu sampai umur berapa kita beroleh hidup? Makanya hanya satu hal saja yang bisa kita lakukan, yaitu; memperbanyak amal baik. Jika bisa dengan uang, maka lakukan dengan uang. Jika hanya bisa dengan kata-kata bijak, maka lakukan dengan saling menasihati dalam kebaikan. Jika hanya bisa dengan perilaku baik, maka berperilaku baik yang tidak merugikan orang lainpun sudah menjadi amal saleh. Dengan begitu kita beroleh pahala besar.
 
5.      Mengoptimalkan yang pendek dan kecil. Semuanya ada ukurannya. Termasuk diri kita sendiri. Kalau memang DNA atau gennya pendek dan kecil mau diubah menjadi sepanjang dan sebesar apa lagi? Sudahlah terima saja. Anak ke-4 saya umurnya sangat pendek. Dia sudah meninggal saat berada dalam kandungan ibundanya pada usia kehamilan 12 minggu saja. Kami sedih. Tapi lebih banyak bahagianya. Kami yakin bahwa sang jabang bayi telah kembali keharibaan ilahi dalam keadaan suci. Kita yang terlanjur akil baligh ini tidak bisa kembali dalam keadaan suci seperti bayi. Tetapi, kita patut mensyukuri anugerah umur ini meskipun seandainya umur kita pendek. Kita ikuti saja meskipun takdir kita kecil, yang berarti kita memang hanya cocok untuk yang kecil-kecil. Sungguh tidak pas jika kita yang memiliki gen kecil ini melakukan dosa-dosa besar. Tahu dirilah sedikit jika mau melakukan dosa besar. Orang-orang yang punya ukuran pendek dan kecil mah cocoknya mengisi umur yang pendek itu dengan amal-amal yang banyak, meskipun hanya bisa melakukan hal-hal yang kecil.   
 
Size doesn’t matter. Bisa iya, bisa juga tidak. Selama kita bersedia untuk menerima diri sendiri dengan ikhlas, maka panjang atau pendeknya umur kita tidak akan menjadi kekhawatiran. Semoga saja dalam panjang atau pendeknya umur itu, Tuhan memperkenankan kita untuk mengumpulkan bekal hidup dan pahala dalam jumlah besar dan menjauhi dosa-dosa hingga sekecil-kecilnya. 

Catatan Kaki:
Orang besar itu beruntung, karena dengan kebesarannya dia bisa berkontribusi kepada orang-orang kecil. Orang kecil itu beruntung, karena dengan kekecilannya itu dia memberi tempat kepada orang-orang besar untuk menyalurkan jalan amalnya.
 

Employee Engagement Itu Siapa Yang Butuh Sih?

Dalam artikel sebelumnya kita telah membahas tentang tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang atasan untuk meningkatkan employee engagement para karyawan di unit kerjanya masing-masing. Boleh jadi, sekarang para atasan sedang mencoba mempraktekannya di kantor kita. Sekalipun demikian, upaya itu tidak akan pernah berhasil jika sebagai bawahan kita tidak mengambil porsi tanggungjawab untuk turut mewujudkannya juga. Lho, bukankah meningkatkan employee engagement itu tanggungjawab perusahaan dan atasan kita? Benar. Tetapi jika kita sendiri tidak peduli, maka semua upaya itu akan sia-sia saja. Terus, mengapa kita harus peduli sih? Memangnya siapa yang butuh employee engagement? Namanya juga employee engagement, ya management dong yang lebih berkepentingan? Argumen-argumen itu benar. Sekaligus keliru.
 
Benar karena employee engagement mempengaruhi suasana dan kinerja perusahaan. Keliru karena perusahaan bisa mengganti kita dengan karyawan yang lebih baik, sedangkan kita tidak bisa semudah itu mengganti perusahaan. Lebih keliru lagi karena rendahnya tingkat engagement kita ternyata sangat berpengaruh buruk kepada kesehatan fisik maupun mental kita sendiri. Oleh sebab itu, kita mesti mulai iklhas menerima dan menjalani profesi yang kita pilih. Jika tidak, maka kita akan terkena pengaruh buruknya, baik secara fisik maupun mental. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memahami dampak negatif rendahnya employee engagement (EE) kepada pekerjaan, saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:  
 
1.      Rendahnya EE merusak suasana hati sendiri. Rendahnya EE ditandai dengan ketidakikhlasan Anda terhadap pekerjaan atau penugasan yang Anda terima. Jika Anda tidak ikhlas dengan pekerjaan Anda, apakah saat bangun pagi Anda akan merasa senang? Tidak. Anda justru akan menyesali mengapa setiap hari tanggalnya tidak merah semua. Sejak hari Senin hingga Jumat suasana hati Anda terus buruk. Ketika Sabtu tiba, kekesalan Anda masih tersisa. Sedangkan di hari minggu, Anda sudah memikirkan kembali bahwa besok, adalah hari Senin. Banyak orang yang tidak menyadari jika suasana hatinya telah dirusak oleh rendahnya engagement mereka terhadap pekerjaan. Karena itu, mereka mengira perasaan tidak enak saat pergi kerja adalah hal biasa. Padahal, itu harus segera dibenahi.
 
2.      Rendahnya EE menyiksa diri sendiri. Banyak orang yang tahu jika bersikap negatif kepada pekerjaan adalah salah satu cara efektif untuk menunjukkan rendahnya EE. Dan banyak orang yang mengira bahwa bersikap negatif kepada pekerjaan juga sangat efektif untuk ‘memberi pelajaran’ kepada atasan-atasan mereka. Kenyataannya, para atasan yang cerdas tidak terlalu ambil pusing dengan sikap anak buahnya terhadap pekerjaan. Selama tugas-tugas anak buahnaya diselesaikan dengan baik, mereka tidak terlalu mempermasalahkan sikap. Dan jika sikap anak buahnya sudah kelewatan, mereka juga tidak terlalu ambil pusing. Karena mereka memiliki kekuatan untuk menggantinya dengan orang-orang yang lebih baik. Makanya, keliru jika kita mengira bisa ‘mengirim pesan’ negatif kepada atasan dengan cara itu. Sebab, rendahnya EE kita hanyalah akan menyiksa diri kita sendiri.
 
3.      Rendahnya EE menurunkan hasil penilaian kinerja. Misalnya, Anda adalah seorang atasan yang mempunyai anak buah dengan EE yang sangat rendah. Apakah di akhir tahun Anda akan memberi penilaian kinerja yang baik kepadanya? Anda mungkin memberi nilai bagus untuk penyelesaian tugas-tugas sesuai job desc. Tetapi performance appraisal tidak melulu soal selesai atau tidaknya pekerjaan, melainkan juga penilaian tentang perilaku dan sikap karyawan. Jika Anda pun tidak akan pernah memberi nilai bagus kepada anak buah yang punya EE rendah, maka mengapa Anda berharap atasan memberi nilai tinggi kepada Anda yang memiliki EE sama rendahnya? Hukum yang sama pasti berlaku; atasan Anda pun tidak akan pernah memberi penilaian kinerja yang baik kepada Anda jika engagement Anda kepada pekerjaan juga rendah.
 
4.      Rendahnya EE menyebabkan timbulnya penyakit. Ada orang yang memasabodohkan penilaian kinerja atasannya. “Percuma!” katanya. “Tidak ada pengeruhnya kepada kenaikan gaji, juga.” Begitu komentar yang lazim saya dengar. “Bonus saya tidak ada kaitanya dengan appraisal Pak,” kata yang lainnya. Anda boleh tidak peduli seperti mereka itu. Tetapi, penting bagi Anda untuk mengetahui bahwa penelitian yang dilakukan di tingkat global menunjukkan adanya hubungan yang erat antara rendahnya EE dengan penyakit-penyakit yang diderita seorang karyawan. Diantara penyakit yang berkaitan dengan rendahnya EE adalah; sakit kepala, pusing, asam lambung, dan stress yang tidak kunjung sembuh. Menurut pendapat Anda, pentingkah kesehatan itu? Jika iya, naikkah tingkat engagement Anda kepada pekerjaan. Karena rendahnya EE terbukti menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit fisik dan mental yang berkepanjangan.
 
5.      Rendahnya EE menjauhkan kesempatan dipromosi. Tidak perduli betapa banyaknya peluang promosi di tempat kerja Anda, jika hasil penilaian kinerja tahunan Anda buruk, ditambah dengan kesehatan fisik dan mental Anda yang juga buruk, maka kecil sekali kemungkinannya bagi Anda untuk mendapatkan promosi itu. Lagi pula, orang lain bisa dengan mudah merasakan jika Anda tidak benar-benar ikhlas dengan pekerjaan Anda. Orang lain juga tahu jika Anda tidak nyaman di kantor. Jadi, orang lain juga punya alasan untuk mendukung Anda dipromosikan. Padahal setahu saya, sebelum keputusan promosi dibuat; nama setiap kandidat terlebih dahulu ‘diedarkan’ kepada beberapa pengambil keputusan untuk diberi komentar dan masukan. Jadi jika Anda ingin dipromosi, maka pastikan bahwa Anda memiliki tingkat engagement yang tinggi. Karena rendahnya EE hanya akan semakin menjauhkan Anda dari kesempatan untuk dipromosi.
 
Siapa yang lebih berkepentingan dengan engagement selain karyawan sendiri? Tidak ada. Kita sendirilah yang paling berkepentingan. Karena itu, berhentilah menyalahkan perusahaan dan atasan Anda untuk rendahnya tingkat engagement Anda kepada perusahaan. Andalah yang paling berkepentingan. Dan Andalah yang bisa membenahinya untuk diri Anda sendiri.

Catatan Kaki:
Sesehatan fisik dan mental seorang karyawan sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat engagement yang dia miliki terhadap pekerjaan.

Membaca Buku Yang Dihadiahi Taburan Pahala

Buku apa yang paling sering Anda baca? Jika Anda penggemar novel, tentu Anda sangat senang membaca novel. Sedangkan bagi orang-orang yang gemar mencari penyemangat diri, buku-buku motivatif dan inspiratif tentu menjadi pilihan mereka. Ketika membaca buku, kita mendapatkan kepuasan dengan cara kita masing-masing. Tetapi, tahukah Anda bahwa ada jenis buku tertentu yang hanya dengan membacanya saja kita mendapatkan hadiah berupa pahala? Yang pasti, buku yang dimaksud bukanlah dari jenis buku-buku seperti yang saya karang selama ini. Lantas apakah gerangan jenis buku itu?
 
Saya yakin Anda sudah mengetahui jawabannya. Dan Anda benar. Buku yang pahala membacanya sangat tinggi adalah buku yang diturunkan oleh Tuhan. Alias buku yang berisi petunjuk Tuhan bagi manusia agar bisa menjalani hidupnya sesuai dengan tujuan penciptaan dirinya. Itulah buku berisi wahyu yang Tuhan firmankan melalui para Nabi yang dipilih oleh Tuhan sendiri. Kita percaya bahwa Tuhan itu suci. Dia menghendaki setiap manusia untuk juga menjaga kesucian dirinya dengan perilaku dan tindak tanduk yang juga suci. Oleh karena itu pula, kita percaya bahwa buku yang berisi tuntunan Tuhan itu adalah buku suci.
 
Saya sering merasa aneh kepada diri sendiri. Sebagai seorang pribadi yang meyakini keberadaan Tuhan, saya sering malas untuk membaca buku suci yang berisi wahyu Tuhan. Keasyikan saya membaca buku-buku lain seperti novel, managemen, self-help dan sebangsanya itu jauh melampaui kegandrungan saya membaca buku suci. Setiap hari, saya hanya sanggup membaca rata-rata 2 ’ain saja. Jarang sekali lebih dari itu. Bahkan masih banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa membaca buku suci.
 
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda telah secara konsisten membaca buku suci yang Anda yakini? Saya tidak memiliki kepentingan untuk mempermasalahkan apa buku suci Anda. Jika Anda adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu satu dan hanya satu, maka itu berarti bahwa Tuhan Anda dan Tuhan saya sama. Dan faktanya, kita tidak bisa melarikan diri kepada Tuhan manapun selain kepada Tuhan yang satu itu. Kalaupun untuk satu atau lain alasan kita tidak menuhankan Dzat yang sama, maka itupun bukan urusan saya. Sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk saling berselisih. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. Jika memang Tuhan kita berbeda, maka biarlah Tuhan kita menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi jika ternyata Tuhan kita sama, maka semua urusan akan selesai antara saya dengan Dia. Dan antara Anda dengan Dia. Peace.
 
Saya meyakini bahwa buku suci yang saya imani berisi wahyu yang benar-benar berasal dari Tuhan. Bukan rekaan manusia. Bukan pula buatan para ahli sastra. Apalagi sekedar pelintiran pemikiran para politisi agama. Tentu Anda juga memiliki keyakinan yang sama bahwa buku suci Anda benar-benar berisi wahyu dari Tuhan. Maka tidak ada yang berhak untuk mengganggu keyakinan kita atas buku suci itu. Baik keyakinan Anda kepada buku suci Anda. Maupun keyakinan saya kepada buku suci saya. Tetapi, tahukah Anda; mengapa Tuhan memberi pahala kepada orang yang berkenan membaca buku suci yang berisi wahyu-Nya?
 
Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan seorang famili yang menyampaikan pesan dari salah seorang sesepuh di keluarga kami. Beliau ini membaca buku-buku yang saya tulis. Rupanya beliau sudah selesai membaca semua buku karangan saya. Meski merasa risih, saya bahagia sekali. Apalagi dengan embel-embel pujian terhadap isinya yang katanya berbobot tinggi, menyentuh, dan bisa menginspirasi pembacanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Boleh jadi, apa yang beliau katakan itu lebih dimaksudkan untuk menyemangati saya daripada menilai isi buku yang sesungguhnya. Tapi, saya senaaaaaaang sekali mendengarnya. Sekarang, saya menjadi tahu; mengapa Tuhan begitu senang kepada seorang hamba yang membaca buku suci-Nya. Maka tidak heran jika Tuhan memberinya pahala. Jika orang itu memuliakannya, maka Tuhan pun memuliakan orang itu.
 
Oleh sebab itu, tidak ada buku lain yang dengan membacanya saja kita mendapatkan pahala yang begitu banyak selain membaca buku suci. Sebab, ketika kita membaca buku suci yang berisi wahyu Tuhan, maka kita tahu apa yang Tuhan inginkan. Lalu kita menjalani hidup kita persis seperti yang Tuhan ingin kita menjalaninya. Maka dengan cara itu, kita bisa menjadi pribadi yang patuh kepada Tuhan. Inilah tantangan berat berikutnya bagi saya. Kelemahan saya sebagai manusia sering mengurangi kemampuan saya untuk menjalankan firman Tuhan yang tertera didalam buku suci itu. Jadi, Anda tidak perlu terkejut jika suatu ketika nanti memergoki perilaku dan tindak tanduk saya tidak mencerminkan isi dan tuntunan Tuhan dalam buku suci itu. Jika Anda ingin menilai, hendaknya Anda melihat itu sebagai kesalahan saya. Bukan kesalahan tuntunan Tuhan dalam buku suci itu. Sebab buruknya perilaku saya bukanlah cerminan buruknya petunjuk Tuhan dalam buku suci yang saya baca.  
 
Sekarang saya mulai faham, mengapa saat menjelang wafat Rasulullah salallaahu ’alaihi wasallaam mewasiatkan tentang warisan yang hendak ditinggalkannya. Warisan itu bukan emas atau harta maupun permata. Melainkan buku suci yang berisi firman Tuhan. Sampai hari ini, buku suci itu tetap terjaga sehingga tidak pernah ada yang berani mengubah isinya. Sungguh, buku suci itu mengajak manusia untuk hanya menyembah Tuhan. Sesuatu yang sama sekali tidak berlebihan, karena kenyataannya; tidak ada yang berkuasa atas hidup dan mati kita selain Tuhan. Tidak ada raja yang lebih berkuasa selain Tuhan. Maka ketika buku suci itu mengajak kita untuk hanya menyembah Tuhan, baik jasad kasar maupun ruh halus kita sesungguhnya sangat mengerti dan menerima serta tunduk kepada ajakannya. Tetapi, mengapa kadang kita enggan melakukannya sehingga kita masih sibuk mencari tuhan-tuhan yang lain? Mungkin karena kita lebih suka mengikuti nafsu kesombongan dan ego serta dengki yang bersembunyi didalam hati kita daripada mengikuti fitrah Tuhan.
 
Dalam buku suci yang diwariskan Rasulullah itu juga secara gamblang dijelaskan bahwa; wahyu Tuhan yang dirangkum didalamnya membenarkan wahyu-wahyu Tuhan yang telah difirmankan-Nya kepada Nabi-Nabi suci lain yang diutus sebelumnya. Buku suci itu membenarkan ajaran Nabi Ibrahim. Menjadi saksi kesalihan Nabi Ismail, dan mengisahkan kepatuhan Nabi Ya’kub. Buku suci itu juga menjadi penegas atas wahyu yang disampaikan oleh Nabi Musa, serta mencatatkan kemurnian tauhid yang diajarkan oleh Nabi Isa kepada para pengikutnya yang setia. Betapa dalam buku suci itu dikatakan bahwa semua Nabi yang telah diutus Tuhan itu berada dalam naungan-Nya. Mereka bersaudara disisi Tuhan. Mereka saling merelakan disisi Tuhan. Dan mereka mengajak umat manusia untuk tunduk patuh dan berserah diri hanya kepada-Nya. Hanya kepada-Nya saja.
 
Sekarang, saya juga mulai faham; mengapa orang-orang yang membaca dan mengerti isi buku sucinya bersedia tunduk kepada keputusan Tuhan. Karena buku suci menjelaskan segala hal yang mencakup kehidupan umat manusia. Didalamnya, ada peraturan Tuhan tentang tata cara berbisnis. Tentang cara berbicara. Tentang cara memperlakukan tetangga. Bayangkan, Tuhan mengatur tentang tetangga dalam buku sucinya. Tentang tanggungjawab pribadi bahwa; amalmu adalah untukmu, sedangkan amalku untukku. Tidak mungkin tertukar. Dalam buku suci itu ditegaskan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas pilihan hidup yang diambilnya. Sehingga tidak relevan jika saya mencampuri keputusan orang lain lebih dari sekedar saling mengingatkan.
 
Jika Anda pernah membaca buku-buku saya, maka ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih. Namun, ijinkan pula saya untuk secara terbuka mengatakan kepada Anda bahwa; buku-buku saya itu tidak memiliki nilai apa-apa. Kebenaran yang ada didalamnya sangat nisbi alias lemah dan relatif. Jika Anda ingin membaca buku terbaik yang berisi sebenar-benarnya inspirasi; maka bukan buku saya pilihannya. Melainkan buku berisi firman yang Tuhan wahyukan kepada Nabi-Nabi sucinya. Itulah buku suci milik Tuhan. Buku yang bukan manusia pengarangnya. Anda, pasti memiliki buku suci seperti itu. Maka bacalah. Dan bagi saya pribadi, buku suci itu adalah Al-Qur’an.


Catatan Kaki:
Salah satu alasan mengapa kita menyebutnya kitab suci adalah karena kita meyakini bahwa dia berisi firman Tuhan. Kalimat-kalimat Tuhan dalam wahyu kepada Nabi-Nabinya. Maka memuliakannya, adalah bagian dari memuliakan Tuhan.

Cukup Berhargakah Pekerjaan Anda?

Pernahkah anda memiliki sesuatu yang tidak anda sadari betapa pentingnya dia hingga anda kehilangan benda itu? Saya sering mengalami hal semacam itu. Misalnya, lampu senter. Ketika arus listrik mengalir lancar, saya sering tidak peduli pada keberadaan lampu senter itu. Namun, ketika lampu mati, saya kelimpungan mencari-cari dimana saya meletakkan benda kecil itu. Tiba-tiba saja saya merasakan betapa berharganya sebuah lampu senter. Dan betapa hidup saya bergantung kepadanya. Ketika seluruh ruangan dirumah saya menjadi gelap gulita, saya baru menyadari bahwa saya telah menyia-nyiakan sang lampu senter selama ini. Itu hanya soal lampu senter. Bayangkan seandainya itu menyangkut sesuatu yang sangat menentukan kelangsungan hidup kita? Misalnya pekerjaan yang kita miliki ini. Bukankah kita sering kurang menyadari betapa berharganya pekerjaan kita ini; sampai-sampai kita lebih sering mengeluh daripada mensyukurinya?
 
Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke sebuah mal. Ada hal aneh di mal itu, namun saya tidak begitu yakin apa penyebabnya. Setelah cukup lama berkutat dengan rasa penasaran, akhirnya saya menemukan kejanggalan itu. Di Mal itu, ada beberapa outlet yang menghilang. Salah satunya adalah counter makanan kecil dimana saya biasa membeli kuaci untuk cemilan selagi menonton televisi. Ada outlet fashion yang berubah menjadi ruangan kosong melompong, sebuah restoran yang raib, dan space sebuah cafe yang tinggal setengahnya.
 
Untuk sejenak saya terpana. Membayangkan orang-orang yang beberapa hari lalu ada di mal ini untuk melayani pelanggan-pelanggan nya. Namun, hari ini mungkin mereka berada dirumah, tanpa tahu kapan akan kembali melakukan pekerjaannya lagi. Anda yang tidak pernah kehilangan pekerjaan mungkin tidak akan mampu membayangkan betapa beratnya itu. Tapi mereka yang mengalaminya, tahu persis bagaimana rasanya. Pertanyaannya adalah; apakah kita harus menunggu kehilangan terlebih dahulu untuk bisa benar-benar menyadari betapa bernilainya pekerjaan kita ini?
 
Pengabaian kita terhadap pekerjaan memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan dengan pengabaian kita kepada benda-benda kecil seperti lampu senter tadi. Mengapa? Karena kita seringkali menganggap bahwa ’kitalah sang pemilik’ pekerjaan itu. Oleh karena itu, sebagai pemilik kita merasa memiliki segala kewenangan untuk memperlakukan kepemilikan kita itu sesuka hati kita. Padahal, faktanya; ’kita bukanlah pemilik pekerjaan itu’. Perusahaan tempat kita bekerjalah yang memilikinya. Bukan kita. Buktinya, jika perusahaan ingin mengambil kembali pekerjaan yang kita pegang, maka kita dengan sukarela atau terpaksa mesti ’mengembalikan’ pekerjaan itu kepada perusahaan.
 
Jebakan rasa kepemilikan semu itu menimbulkan otoritas imitatif pada kebanyakan pekerja. Sehingga, mereka mengira boleh bersikap apapun terhadap pekerjaannya. Ya, namanya juga pemilik. Mau melakukan apapun semau-maunya juga boleh saja, bukan? Makanya, begitu banyak orang yang terlambat menyadari bahwa pekerjaannya benar-benar berharga, yaitu ketika mereka kehilangan pekerjaannya. Sebaliknya, ketika mereka masih ’memiliki’ pekerjaan itu, mereka cenderung mengabaikannya.
 
Salah satu ciri paling umum orang yang seperti itu adalah; mereka tidak sungguh-sungguh menuangkan seluruh potensi dan kapasitas dirinya untuk menghasilkan kinerja terbaik dalam pekerjaannya. Mereka mengira bahwa dengan tidak menggunakan kapasitas dirinya itu, perusahaan yang akan rugi. Padahal, kerugian paling besar dialami oleh dirinya sendiri. Mengapa begitu? Ada 2 alasan. Pertama, dengan tidak mencurahkan seluruh potensi dirinya secara optimal akan memperkuat alasan bagi perusahaan untuk mencari orang lain yang bisa menggantikannya. Kedua, tidak mendayagunakan potensi diri sama artinya menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan kepadanya. Bukankah Tuhan pun belum tentu suka kepada orang yang menyia-nyiakan anugerahNya?
 
Ciri lainnya adalah; rendahnya tingkat disiplin kerja mereka. Orang-orang yang percaya bahwa pekerjaannya berharga tidak mungkin mengabaikan disiplin diri dalam bekerja. Sebab, mereka tahu bahwa perusahaan bisa sewaktu-waktu mengambil pekerjaan itu darinya lalu diberikan kepada orang lain yang lebih bisa berdisiplin. Dengan kata lain, mereka tahu bahwa satu-satunya cara untuk mencegah hal itu tidak terjadi adalah; menunjukkan disiplin yang tinggi saat bekerja. Sebaliknya, orang-orang yang lupa betapa berharganya pekerjaannya sering menganggap bahwa disiplin mesti dijalankan jika dan hanya jika dia diawasi. Jika tidak ada yang mengawasi, mengapa mesti berdisiplin tinggi?
 
Padahal, disiplin adalah urusan pribadi. Karena, kedisiplinan berhubungan langsung dengan integritas diri. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki integritas diri pasti akan menghargai pekerjaannya. Sehingga selama bekerja, dia akan bersungguh-sungguh, dan mengerahkan seluruh potensi dirinya. Untuk mencapai prestasi. Yang tinggi.

Catatan Kaki:
Saat yang tepat untuk menghargai sesuatu adalah pada saat kita masih memilikinya, bukan ketika kita telah kehilangannya.
 

Bersaing Dengan Teman Secara Sportif

“Sesama bis kota dilarang saling mendahului,” dulu dikaca belakang bis umum selalu ada tulisan seperti itu. Saya selalu tergelitik setiap kali ingat kalimat itu. Mengapa ‘sesama bis kota’, ya? Tapi benar juga, soalnya bis kota kan tidak mungkin saling mendahului dengan kereta api. Apalagi dengan pesawat terbang. Meski sekarang sudah tidak ada lagi tulisan seperti itu, tetapi tidak berarti kalimat itu tidak relevan lagi. Khususnya bagi kita yang bukan pengemudi bis kota. Lho, kok kita? Iya, karena perilaku ‘mengemudi’ ugal-ugalan yang kita lakukan dalam mengarungi roda kehidupan sering jauh lebih parah dari persaingan antar bis kota. Persis seperti bis kota yang bersaing dengan sesama bis kota, kita hanya bersaing dengan sesama kita juga. Dan, persaingan kita sering dikasih bonus berupa rasa iri didalam hati.
 
Persaingan terjadi dimana-mana. Di panggung politik. Di lingkungan tempat tinggal. Di kantor. Dimana saja. Zaman sekarang, kita sudah jarang melihat persaingan yang sportif. Contoh tidak sportif yang paling buruk ada di panggung politik yang penuh dengan intrik. Disusul oleh persaingan dikantor yang sering dicederai oleh manuver-manuver kotor. Di lapangan olah raga, sesekali kita juga melihat ada noda. Mungkin sudah saatnya kita galakan lagi semangat bersaing secara sportif. Bagi kebanyakan orang sportivitas itu bukan dalam konteks panggung politik atau lapangan olah raga, melainkan dalam persaingan dengan teman di kantor. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar bersaing dengan teman di kantor secara sportif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Mencari kelebihan sang pesaing. Dalam bersaing, kebanyakan orang gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal, kesalahan orang lain sama sekali tidak memberi energy positif bagi diri kita. Belajarlah untuk mencari kelebihan dan keunggulan orang lain. Dengan begitu kita akan semakin termotivasi untuk terus meningkatkan diri. Inti dari sebuah persaingan bukan sekedar bisa ‘meraih’ sesuatu yang diperebutkan, melainkan ‘bisa melakukan apa’ dengan sesuatu yang kita raih itu. Setelah meraihnya, kita bisa apa. Salah satu sumber kekecewaan kita kepada para ‘juara’ adalah ketika kita tahu bahwa setelah memenangkan persaingan itu, ternyata sang juara tidak bisa melakukan sesuatu yang kita harapkan. Maka ketika kita yang menjadi juaranya, orang lain juga memiliki tuntutan yang sama kepada kita. Hanya jika kita benar-benar ‘mampu’ saja orang lain akan menghargai ‘kemenangan’ kita. Jika tidak? Mereka akan berpaling kepada orang lain sekalian berharap kita segera tergantikan. Maka carilah kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Dan jadikan hal itu motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri.
 
2.      Menggandeng tangan sang pesaing. Dijalan-jalan, sekarang kita sudah mulai melihat banyak bis gandengan. Ada 2 bis yang berjalan bersama-sama. Dengan bis gandeng itu, lebih banyak penumpang yang bisa diangkut dalam satu waktu. Lebih sedikit bahan bakar yang dihabiskan. Dan lebih efisien tenaga sopir yang dikeluarkan. Ini adalah symbol indahnya sinergi yang bisa kita bangun dengan sesama pesaing kita. Mari kita tengok teman-teman yang menjadi pesaing terkuat di kantor. Bagaimana kalau kita konversi saja energy untuk saling menyalip itu dengan kesediaan untuk berkolaborasi. Dijamin, manfaat yang bisa kita kontribusikan kepada perusahaan akan jauh lebih baik dibandingkan dengan ketika kita sama-sama ngotot untuk saling sikut. Tapi kan jabatan yang diperebutkan hanya ada satu. Yang diperlukan oleh perusahaan bukanlah sekedar kemampuan untuk mengalahkan pesaing. Tetapi ada soft skill yang jarang dimiliki orang namun sangat penting, yaitu; ‘mengelola kekuatan orang lain’. Ketika Anda mendemonstrasikan kemauan dan kemampuan untuk berkolaborasi dengan pesaing terkuat Anda; maka Anda sudah menunjukkan kemampuan langka itu.
 
3.      Berikan pujian yang tulus kepada pesaing. Saat bersaing, kita sering enggan untuk memberi pujian kepada lawan. Padahal, pujian memberikan efek energy positif bagi kedua belah pihak. Lebih dari itu, pujian tulus yang kita lontarkan bagi orang lain mengundang simpati pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan secara langsung. Jika saya memuji Anda dengan tulus hati, maka bukan hanya Anda yang bisa merasakan ketulusan saya. Orang-orang lain yang melihat saya memuji Anda pun merasakan hal yang sama. Sebagai bonusnya, orang lain itu mempunyai kesan yang positif terhadap saya. Sama halnya jika pujian atau kredit poin tulus itu Anda yang memberikan kepada pesaing Anda. Dan biarkan orang lain mengetahui Anda melakukan itu. Maka selain Anda bisa membangun hubungan emosi positif dengan pesaing Anda, maka orang-orang lain yang ‘berada di luar arena’ akan memberikan simpatinya kepada Anda. Bagaimana jika pujian itu malah membuat pesaing Anda semakin besar kepala? Bagus. Karena semua orang akan semakin tahu kualitas yang sesungguhnya. Bukankah orang menyukai sifat sportif dan ketulusan?
 
4.      Menyokong kemajuan pesaing. Menjegal langkah orang lain? Ah, itu sudah terlampau biasa kita temukan. Selain bukan perilaku bermartabat, itu juga tidak menunjukkan keunggulan apa-apa. Kualitas kepemimpinan seseorang justru terlihat dari kemampuannya untuk menyokong kemajuan orang lain. Mengapa harus begitu? Karena menjadi pemimpin adalah tentang bagaimana membantu orang-orang yang kita pimpin maju lebih pesat dan mengembangkan dirinya lebih cepat. Mengapa banyak pemimpin yang tidak mampu untuk mengembangkan bawahannya? Karena sebelum menjadi pemimpin mereka tidak belajar menyokong kemajuan orang lain. Maka jadikanlah pesaing terdekat Anda sebagai ‘murid’ yang bisa Anda gunakan untuk berlatih mengembangkan orang lain. Jika memang dia pesaing hebat, tentu dia punya bakat. Sehingga Anda dijamin akan berhasil mengembangkannya. Dan itu adalah prestasi kepemimpinan yang layak Anda rayakan. Lalu Anda pikirkan lagi, “aspek apa lagi yang bisa Anda kembangkan dari pesaing yang satu ini?” Secara tidak langsung, Anda telah menempa diri sendiri menjadi seorang pemimpin sejati.
 
5.      Adopsi kualitas yang mutlak harus dimiliki seorang pemimpin. Ada satu hal yang sulit untuk dipahami, namun harus kita terima dengan lapang dada. Apakah itu? Itu adalah fakta bahwa yang mendapatkan promosi di kantor, tidak selalu merupakan orang yang paling terampil. Tidak juga selalu orang yang pencapaian kerjanya paling tinggi. Misalnya, orang yang menjadi Sales Manager tidaklah selalu orang yang persentase pencapaian salesnya paling tinggi. Mungkin hanya 101% saja. Fakta ini sering membuat mereka yang meraih sales 110% uring-uringan. Mengapa? Karena mereka tidak faham bahwa untuk memimpin, dibutuhkan banyak aspek. Bukan sekedar angka-angka diatas kertas. Lihatlah point 1,2,3 dan 4 yang baru kita bahas. Itu adalah aspek-aspek lain yang mutlak dibutuhkan dari seorang pemimpin. Karena kepemimpinan bukanlah soal penguasaan aspek-aspek teknis belaka. Melainkan sebuah seni mengelola orang lain, mengenali potensi-potensi mereka, dan menggunakannya untuk mencapai tujuan perusahaan.
 
Tanpa disadari, kita sering menganggap teman sebagai ancaman. Ambisi-ambisi pribadi kita sering membisikan jika mereka bisa menjadi penghalang atas apa yang kita inginkan. Mulai sekarang, mari kita ubah cara pandang terhadap para pesaing. Bantulah mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tolonglah mereka untuk bisa menghasilkan kinerja yang lebih tinggi. Doronglah mereka untuk terus berprestasi. Kembangkanlah mereka, karena itulah hakekat kemimpinan yang harus Anda miliki didalam diri Anda.   

 
Catatan Kaki:
Sangat mudah untuk menemukan orang-orang yang siap bersaing, namun sangat sedikit orang yang bisa bersaing secara sportif.  
 

Pengacara Dalam Persidangan Setiap Orang

Salah satu hal yang ingin saya hindari dalam hidup adalah; terlibat masalah hukum. Saya ingin terhindar dari urusan seperti itu karena jika menyimak kasus-kasus hukum yang terjadi di sekitar kita, kelihatannya sungguh sangat menyulitkan. Sidang bolak-balik. Masuk bui. Kehilangan harga diri, serta sejumlah konsekuensi lainnya. Setiap orang yang menghadapi masalah hukum harus didampingi oleh pengacara. Makanya pengacara menjadi salah satu profesi yang paling bergengsi sekaligus paling menghasilkan di seluruh dunia. Namun ada satu jenis persidangan dimana pengacara paling kondang sekalipun tidak akan sanggup untuk memberikan pembelaan. Jangankan membela orang lain. Membela dirinya sendiri pun belum tentu berhasil. Ingatkah Anda persidangan apakah gerangan itu?
 
Dalam sebuah majlis ilmu seorang pengacara kawakan berkata begini;”Di dunia Anda bisa menyewa pengacara seperti saya. Di akhirat, Anda harus bisa membela diri Anda sendiri.”  Saya sungguh tergelitik dengan pernyataan beliau. Kalimat itu meluncur dari mulut seorang ahli hukum yang profesinya adalah mendampingi orang-orang yang sedang berperkara di persidangan. Maka bobot perkataannya sungguh sangat tinggi. Oleh karenanya, setiap pribadi wajib mempersiapkan diri menghadapi persidangan yang harus kita hadapi sendiri itu. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mempersiapkan diri menghadapi majlis persidangan Tuhan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Mempersiapkan saksi-saksi kita. Dalam setiap persidangan selalu ada saksi. Perannya sangat krusial dalam menentukan keputusan hakim. Maka mempersiapkan saksi menjadi bagian yang sangat penting untuk memenangkan sebuah perkara dalam persidangan. Kita sering mendengar pernyataan yang berbeda 180 derajat dari saksi-saksi di persidangan. Padahal, sebelum bersaksi mereka terlebih dahulu bersumpah. Jika untuk satu perkara ada 2 pernyataan yang bertolak belakang, ada kemungkinan salah satunya berisi kebohongan. Dalam syairnya yang dipopulerkan oleh Chrisye, Pak Taufik Ismail menyatakan jika akan datang hari ketika mulut dikunci, dan kata tak ada lagi. Akan tiba masa dimana tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita, kemana saja melangkah. Bersama anggota badan lainnya mereka akan menjadi saksi bagi kita. Oleh sebab itu, kita perlu mempersiapkan saksi-saksi itu untuk memberikan pembelaan kepada diri kita. Karena kesaksian mereka akan menentukan keputusan sidang Tuhan yang akan kita terima.
 
2.      Memperbanyak amal-amal kita. Salah satu kabar tak sedap yang melanda dunia peradilan kita adalah kentalnya peran uang dalam sebuah persidangan. Ruang sidang seolah sudah menjadi milik mereka yang banyak uang. Di persidangan Tuhan juga demikian. Bedanya, yang berperan disana bukan uang, melainkan amal saleh yang pernah kita lakukan. Setiap kebaikan yang kita kerjakan dengan tulus ikhlas hendaknya disertai dengan pengharapan balasan Tuhan. Semakin lurus niat kita, semakin murni pahala yang kita terima. Itulah yang akan menjadi tabungan akhirat kita. Amal saleh tidak harus selalu dilakukan dengan sokongan materi. Tidak mesti menjadi orang kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu hingga mempunyai banyak uang untuk melakukan kebaikan. Tanpa uang pun kita bisa mengambil peran. Amal saleh juga tidak selalu harus berupa tindakan besar. Hal-hal kecil pun tetap dihitung. Bahkan sekedar menyingkirkan paku yang kita temukan di jalan. Karena dimata Tuhan, bahkan amalan sekecil biji sawi ada hitungannya. Maka perbanyaklah amal saleh. Karena amal-amal itulah yang bisa menentukan kemenangan dalam persidangan.
 
3.      Menghindari perbuatan-perbuatan tercela. Berapa banyak kesaksian di ruang pengadilan yang dibalas oleh teriakan; bohong!. Mungkin kita ingin sekali meneriakan kata yang sama ketika sekujur tubuh kita memberikan kesaksian yang memberatkan. Percuma. Tidak ada kesaksian palsu dalam sidang Tuhan. Maka hanya ada satu cara untuk bisa mencegah kesaksian memberatkan, yaitu; menghindari perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan. Berhentilah berbuat dosa-dosa yang disengaja. Apa saja dosa yang disengaja itu? Hanya Anda sendiri yang mengetahuinya. Memang berat menghentikan sebuah kebiasaan yang memberikan rasa nikmat. Meski kita sadar bahwa kenikmatan itu berselumur dosa. Namun sungguh, setiap anggota tubuh kita yang terlibat dalam perbuatan itu akan memberikan kesaksian yang memberatkan bagi kita. Yuk, kita hentikan semua perbuatan dosa itu. Lalu sama-sama berkomiten untuk menghindari perbuatan tercela lainnya.
 
4.      Banyak-banyaklah meminta maaf. Perilaku terdakwa selama menjalani persidangan juga merupakan faktor penting. Mereka yang kooperatif, tidak berbelit-belit, serta menunjukkan penyesalan biasanya mendapatkan penilaian positif dari hakim. Itu dalam persidangan manusia. Di persidangan Tuhan tidak demikian. Mengapa? Karena sejak di dunia Tuhan sudah tahu perilaku buruknya, dan Dia telah menyerunya untuk berhenti. Namun, orang tidak menggubris  peringatan itu. Pantas jika Tuhan marrrrahh. Penyesalan sudah tidak memiliki makna lagi, karena tempat menyesal itu adalah dunia. Jika sungguh menyesali perbuatan-perbuatan nista, maka tunjukkanlah sejak kita masih punya kesempatan di dunia. Minta maaflah sebanyak-banyaknya kepada sesama manusia. Ikutilah permintaan maaf itu sengan insyaf. Dan tinggalkanlah semua perilaku keliru yang pernah kita terjadi. Hanya itu cara satu-satunya untuk menunjukkan kesungguhan dan kerjasama kita dengan majlis hakim di sidang Tuhan. Kita harus melakukannya sebelum memasuki ruang sidang, sebab setelah berada didalamnya; tidak berlaku lagi kata taubat. Maka bertaubatlah secara sungguh-sungguh. Kemudian, katakanlah dengan sepenuh ketulusan “Tuhan, terimalah taubatku.”
 
5.      Memilih pembela terbaik. Sang pengacara benar ketika mengatakan bahwa diakhirat kita harus bisa membela diri kita sendiri. Tetapi guru kehidupan saya pernah menjelaskan bahwa didalam pengadilan akhirat kelak ada satu orang manusia istimewa yang bersedia membela kita. Siapakah gerangan orang itu? Dia adalah Nabimu. Utusan yang engkau taati seruannya dalam iman. Maka penting bagi setiap orang untuk menentukan siapa Nabi bagi dirinya dan benar-benar mengikuti ajarannya. Saya tidak tertarik untuk mengajak Anda agar mengimani Nabi yang saya yakini. Karena mengimani para Rasul suci utusan Tuhan adalah bagian dari keimanan yang diajarkan oleh Nabi yang saya imani. Saya lebih tertarik untuk mengajak Anda bersama-sama mengimani mereka dengan sungguh dan utuh, karena hanya dengan kepatuhan itu saja kita berharap Sang Nabi berkenan menjadi pembela kita dihadapan Tuhan. Jika kita tidak patuh kepada ajarannya, mengapa pribadi suci itu harus memberikan pembelaan? Maka, patuhilah Nabi-mu dan murnikanlah kepatuhan pada ajarannya. Karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi pembela bagi kita.
 
Setiap orang perlu memiliki kemampuan untuk membela diri. Latihlah kemampuan membela dirimu. Karena hal itu akan sangat diperlukan ketika kita menghadapi pengadilan Tuhan. Caranya, bukan dengan sekolah di fakultas hukum. Bukan pula ikut kelas kursus debat. Melainkan dengan menggunakan seluruh bagian tubuh kita untuk belajar melakukan kebaikan-kebaikan. Karena dalam sidang Tuhan; tangan, kaki, telinga, mulut, kulit dan seluruh bagian dalam tubuh kita memiliki argumennya sendiri-sendiri ketika mengatakan apa yang sudah kita lakukan semasa hidup. 
 
Catatan Kaki:
Cara terbaik melatih diri sendiri untuk menjadi pembela dalam sidang Tuhan adalah; menggunakan seluruh anggota tubuh kita untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan.
 
 

Menjadi Pribadi Yang Membumi

Membumi. Apa artinya ya? Apakah hal itu hanya berlaku untuk gagasan-gagasan kita? Saya kira tidak. Mengapa? Karena kemajuan peradaban manusia justru lahir dari gagasan-gagasan yang semula dianggap tidak membumi. Soal gagasan, sebaiknya kita bikin yang tidak membumi. Agar seluruh daya diri kita bisa dieksplorasi. Lantas, untuk apa kita mempunyai kosa kata ‘membumi’? Bukankah sudah tidak berguna lagi. Berguna atau tidaknya sesuatu bukan terletak kepada keberadaannya, melainkan kepada bagaimana cara dan untuk apa kita menggunakannya. Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk menggunkan kata itu dalam kalimat ‘menjadi pribadi yang membumi’. Yo opo iki, Rek? Se, toh Pak Manteb. Kita ulik-ulik dulu.
 
Tadi malam, kami berjalan-jalan di luar rumah. Sambil menatap langit anak perempuan mungil kami berkata; “Ayah, langit sekarang ada diatas kita,” katanya. Saya mengangguk. “Orang dibelahan bumi yang lain bagaimana dong?” lanjutnya. Saya terhentak. Hingga berjam-jam kemudian, saya masih terus memikirkan pertanyaan itu. Pertanyaan anak saya sudah sedari tadi terjawab. Sekarang, saya tenggelam dalam lautan pertanyaan yang membajiri benak saya sendiri. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Berpijaklah pada satu titik yang sama. Seberapa sering Anda berselisih dengan teman di kantor? Misalnya saja, orang finance yang sering tidak akur dengan orang sales & marketing. Orang marketing bilang ‘bayar, dong!”, orang finance bilang ‘sabar, dong!’. Masing-masing punya argumennya sendiri-sendiri. Saya mengajak anak-anak berhenti sejenak, lalu memperhatikan bagaimana kedua kakinya berpijak. “Kalau kaki kita bisa menembus kedalam bumi. Lurus terus sampai keluar lagi diujung bumi yang lain, maka telapak kaki kita akan bertemu dengan telapak kaki seseorang yang sekarang sedang berdiri di suatu tempat di Kota New York.” Kita tahu bahwa Jakarta berada kira-kira ‘diseberang’ garis diameter bumi New York. Telapak kaki orang NY tepat berada di telapak kaki orang Jakarta. Maka arah yang disebut sebagai ‘atas’ oleh orang NY adalah arah yang sama yang ditunjukkan oleh telapak kaki kita, dan sebaliknya. Kita hanya benar-benar memiliki arah yang sama ketika kita pergi ke NY, atau orang NY datang ke Jakarta. Hidup juga sama. Kita sering berpijak di dua tempat yang berbeda untuk memperdebatkan suatu urusan. Maka lain kali jika sedang berselisih, berdirilah pada satu titik yang sama. Ketika kita berpijak pada satu titik yang sama, maka kita akan mempunyai standar penilaian yang sama. Jika Anda benar-benar ingin mendapatkan solusi, berpijaklah pada satu titik yang sama.
 
2.      Milikilah tekad yang bulat. Pertanyaan; adakah benda langit yang bentuknya tidak bulat? Coba perhatikan sekali lagi, semua komponen pembentuk tata surya mempunyai bentuk dasar bulat. Tidak ada yang segi empat atau segi tiga. Bahkan bentuk bintang pun tidak seperti yang biasanya kita gambarkan. Mengapa begitu? Karena bulat adalah bentuk paling efisien untuk bisa bertahan dalam proses jangka panjang. Makanya benda langit selama berjuta bahkan bermilyar tahun tetap kokoh dalam formasinya yang berbentuk bulat. Sama seperti ketika kita sedang bertekad untuk melakukan sesuatu. Hanya jika kita memiliki tekad yang bulat, kita bisa bertahan sampai berhasil meraih apa yang kita impikan. Tanpa tekad yang bulat? Kita hanya akan segera terhenti begitu rintangan menghadang dan menghalang. Adakah benda langit yang tidak bulat? Ada. Itulah benda yang disebut sebagai ‘sampah antariksa’. Jika tekad kita tidak bulat, bisa jadi kita hanya akan menjadi sampah dunia. Maka milikilah tekad yang bulat. Karena kebulatan tekad menjadikan kita pribadi yang mempunyai endurance alias daya tahan yang tinggi.
 
3.      Berdirilah diatas pijakan yang kuat. Dulu manusia pernah mengira jika bumi ini bentuknya seperti permukaan meja. Makanya kita dilarang untuk ‘berlayar terlalu jauh’, nanti terjatuh. Sekarang kita tahu jika bumi ini bulat, maka pergi sejauh apapun tidak akan sampai ke ‘ujung meja’ seperti yang kita takutkan. Dalam menjalani hidup, kita sering takut kalau-kalau kita terjatuh. Makanya kita memilih diam ditempat atau berkutat di teritori sendiri. Padahal kalaupun kita terjatuh, gaya gravitasi menjamin kita tetap memiliki tempat untuk berpijak. Jika kita terjatuh lagi, mungkin kita belum berdiri diatas pijakan yang kuat. Selama kita perpijak ditanah yang lembek, maka posisi kita akan tetap labil. Berdirilah diatas pijakan yang kuat. Pengetahuan yang kuat. Keterampilan yang kuat. Semangat yang kuat. Jiwa yang kuat. Kemauan yang kuat. Keyakinan yang kuat. Keimanan yang kuat. Maka kita akan bisa berdiri lebih lama. Bahkan mungkin, tidak pernah terjatuh lagi.
 
4.      Bergeraklah dalam kecepatan yang tinggi. Anak saya bilang;”Katanya bumi berputar. Tapi kita kok tidak merasakannya sih, Yah?” Secara sains, jawabannya mudah saja;bumi berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga gerakannya tidak bisa dirasakan lagi. Kecepatan yang tinggi adalah wujud komitmen bumi pada pergerakannya. Isyarat kesungguhannya. Kita sering merasa bosan dalam hidup. Waktu seolah berjalan sedemikian lambatnya ketika kita menjalani sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi, coba ingat-ingat kembali ketika Anda sedang asyik-asyik mengerjakan sesuatu dengan komitmen yang tinggi. Anda sering sampai lupa waktu bukan? Lho, kok sudah malam? Barulah Anda sadar jika teman-teman di kantor sudah pada pulang. Bayangkan seandainya bumi berputar dalam gerak lambat seperti komedi putar di dunia fantasi atau taman hiburan. Kita hanya akan menikmatinya sebentar, setelah itu menjadi bosan. Sungguh, kita butuh perputaran yang cepat. Karena kecepatan menunjukkan komitmen dan kesungguhan. Bekerjalah dengan penuh komitmen dan kesungguhan. Maka Anda akan terdorong untuk bergerak lebih cepat. Dan kita tidak lagi merasakan beratnya.
 
5.      Tetaplah berada di jalur yang lurus. Saya punya sebuah pertanyaan untuk Anda; seandainya Anda berjalan lurus tidak berbelok sedikitpun, dimana tempat terjauh yang bisa Anda tempuh? Jawaban yang benar adalah; tempat ketika pertama kali Anda melangkah. Jika Anda bergerak lurus di bumi, maka pencapaian tertinggi Anda ditandai dengan kembalinya Anda di titik yang sama. Jika Anda memutari bumi, maka Anda akan kembali ketempat semula. Ini adalah isyarat spiritual penuh makna. Jika kita menjaga kehidupan kita tetap berada dijalan yang lurus, yaitu jalan yang ditunjukkan Tuhan melalui para Nabi; maka kita akan sampai di titik awal penciptaan diri kita. Apakah gerangan titik awal penciptaan kita? Itu adalah tempat tinggal manusia pertama yang Tuhan ciptakan. Dimanakah manusia pertama itu tinggal? Di surga. Itulah titik awal hidup kita. Dan ketempat itu pulalah inginnya kita bisa kembali kelak. PerintahNya sederhana; tetaplah berada dijalan yang lurus. Maka dibimbingNya kita dengan surah Al-Fatihah; ‘Ihdina shirootol mustaqiem’, tunjukilah kami jalan yang lurus.
 
Menjadi pribadi yang membumi bukanlah untuk melahirkan gagasan yang dangkal. Menjadi pribadi yang membumi adalah memiliki kesadaran akan tibanya saat dimana kita  ‘masuk’ kedalam bumi. Adalah kesadaran bahwa ada langit yang melingkupi bumi. Ketika jasa melebih dengan bumi, jiwa kita terbang tinggi. Di langit, kita akan tinggal dimana?  Silakan tentukan sendiri pilihannya.    

Catatan Kaki:
Semasa hidup kita tinggal diatas permukaan bumi. Setelah mati, kita akan masuk kedalamnya, lalu menjadi bagian tak terpisahkan dengannya. Karenanya, bumi adalah diri kita. 

Bayarlah Hutangmu, Atau Korbankanlah Akhiratmu

Saya tidak akan bertanya apakah Anda mempunyai hutang atau tidak. Selain karena itu adalah hal yang sensitif, kita juga sudah sama-sama mafhum jika berhutang sudah menjadi bagian dari kisah hidup manusia modern. Rumah saya, juga dibeli dengan hutang ke bank. Belanja bulanan saya, dibayar dengan uang plastik alias kartu hutang. Begitulah fakta hidup kita. Tetapi, berhutang pun tidak masalah, selama kita bersedia dan mampu untuk membayarnya. Mengapa? Karena hutang yang tidak terbayarkan bukanlah sekedar urusan dunia, melainkan juga akan menjadi beban di akhirat. Jika kita tidak mau membayar hutang, maka akhirat kita yang dikorbankan.
 
Sabtu tanggal 13 Agustus 2011 tukang pos datang membawa sepucuk surat. Amplopnya berlogo sebuah perusahaan yang cukup terkenal. “Wah, ada order training dari perusahaan besar nih,” saya langsung ke-GR-an. Bukan GR, tapi berbaik sangka saja. Ketika dibuka, ternyata surat itu dari Kantor Akuntan Publik atas nama perusahaan besar tersebut. Dalam suratnya, dituliskan bahwa auditor mereka menemukan catatan hutang saya kepada perusahaan itu sebesar Rp. 140,000,000.- (seratus empat puluh juta rupiah). Saya tersenyum membaca surat itu. Bagaimana sampai ada hutang itu tidak dijelaskan. Kalau mengutang barang membeli apa; kalau pinjam, ya pinjamnya kapan, kepada siapa, dan buktinya apa? Karena saya tidak pernah belanja atau meminjam uang ke perusahaan itu, maka saya menganggapnya sebagai intermezzo saja. Orang yang mengemplang hutang, pasti terkena laknat. Dan orang yang menuduh orang lain berhutang tanpa kebenaran pasti juga akan menanggung akibatnya. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar tata karma berhutang, saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Akuilah hutang-hutangmu. Zaman sekarang nyaris menjadi kelaziman untuk melakukan penyangkalan terhadap hutang. Bahkan ada orang yang balik marah hanya karena diingatkan tentang hutangnya. Padahal, ketika seseorang berhutang sesungguhnya dia berkomitmen untuk membayarnya. Kalau sewaktu meminjam itu tidak berniat untuk membayar ya sebaiknya ‘minta’ saja. Karena hukum meminta berbeda dengan berhutang.  Selain mengundang penyangkalan, hutang juga bisa menjadikan kita seorang pembohong. Hutang pun sering mendorong kita memberikan janji-janji palsu. Kapan akan dibayar? ‘Minggu depan,’ tapi dalam hati kita tidak sungguh-sungguh ingin membayarnya minggu depan. Seseorang yang menyangkal hutang tidak memiliki motivasi yang kuat untuk membayarnya. Makanya dia akan selalu menunda-nunda pembayarannya. Bahkan sekalipun sebenarnya dia memiliki cukup uang untuk mencicilnya. Maka mengakui hutang-hutang kita, adalah langkah paling penting yang harus kita lakukan.
 
2.      Bayarlah hutang-hutangmu. Ada sebuah kalimat yang selalu diucapkan seseorang dalam setiap upacara pemakaman. Kalimat itu berbunyi begini,”Kalau ada dosa almarhum mohon dimaafkan, dan kalau ada urusan hutang piutang dengan almarhum silakan menghubungi kami sebagai keluarga dan ahli warisnya.” Hal ini menunjukkan bahwa kita semua sadar jika hutang itu bukan urusan sepele. Maka membayar hutang semasa hidup menjadi penting artinya bagi siapapun yang berhutang. Jika keburu meninggal, akibatnya bisa sangat fatal. Guru kehidupan saya menceritakan betapa Rasulullah sangat memperhatikan urusan hutang. Sebagai seorang kepada Negara, beliau tidak hidup bermewah-mewah. Kemana harta beliau? Antara lain, digunakan untuk membayarkan hutang-hutang umatnya yang sudah wafat. Sekarang, kita tidak punya pemimpin mulai seperti Rasulullah. Maka bertekadlah untuk membayar sendiri hutang-hutang kita sebelum meninggal. Sekalipun kita baru bisa mencicilnya.
 
3.      Batasilah jumlah hutangmu. Zaman ini sudah sangat aneh. Nyaris setiap saat kita disodori oleh tawaran untuk berhutang. Lewat surat, telepon, ataupun SMS. Jerat hutang terpasang disetiap jalan yang hendak kita lalui. Tanpa saya ketahui, limit kartu kredit saya sudah menjadi 50 juta. Hah? Memangnya saya bisa belanja sebanyak itu setiap bulannya? Kalau pun bisa belanjanya, apakah saya mampu membayarnya? Kita sering terjebak untuk mengabaikan kemampuan membayar. Sedangkan para pemilik modal terus membombardir kita dengan rayuan berutang yang semakin menjadi-jadi. Disaat semakin banyaknya pihak yang membuka jurang hutang, maka satu-satunya yang bisa membatasi hutang adalah diri kita sendiri. Tak seorang pun peduli apakah kita bisa membayar hutang atau tidak. Tak seorang pun bersedia untuk menebus hutang-hutang kita. Dan tak seorang pun sanggup mendampingi kita menghadapi sidang Tuhan setelah kita mati kelak. Hanya kita sendiri yang bisa. Maka mari, batasilah jumlah hutang kita. Jangan sampai melampaui kemampuan kita sendiri.
 
4.      Terbukalah dengan keadaan keuanganmu. Ada kalanya keadaan kita memang sedang tidak memungkinkan untuk membayar hutang. Tapi kita sering gengsi mengakuinya. Meski begitu, mengelak dan menyangkal hutang bukanlah jalan keluar yang tepat. Penyangkalan hanya akan menimbulkan kemarahan pemilik piutang. Jauh lebih baik untuk mengakui saja jika kita memang sedang tidak mampu untuk membayar hutang. Terbukalah kepada pemilik piutang, dan mintalah penjadwalan ulang. Bagaimana jika mereka menyita barang-barang kita? Itu memang berat. Tetapi jika tidak memiliki solusi yang lebih baik dari itu, mengapa harus sembunyi dibalik gengsi? Percayalah, jikapun terjadi penyitaan, itu jauh lebih baik daripada berhadapan dengan penyiksaan. Banyak bukti kesadisan yang sudah kita saksikan. Bahkan ada yang tak segan sampai menghabisi nyawa seseorang. Itu didunia. Bagaimana dengan diakhirat? Jadi, tak ada gunanya menyangkal. Tak ada artinya melarikan diri. Dan tidak ada manfaatnya untuk berdiri diatas ego bernama gengsi. Terbukalah kepada pemilik piutang tentang kondisi keuangan kita. Lalu bicarakanlah jalan keluar yang terbaik bagi kedua belah pihak.
 
5.      Bersihkanlah harta kekayaanmu dari unsur hutang. Cicilan yang kita bayarkan untuk rumah, kendaraan, kartu kredit dan lain-lainnya adalah bukti komitmen kita untuk selalu membersihkan diri dari hutang. Kepatuhan kita dalam membayar hutang sesuai jadwal adalah sifat terpuji yang perlu kita rawat. Namun, kita kadang tergoda untuk mencicil hutang sesedikit mungkin hanya karena ingin melihat sejumlah dana dalam buku tabungan kita. Maka meski punya uang, kita cenderung untuk membayar tagihan kartu kredit seminimalnya saja. Percayalah, Anda rugi jika demikian. Uang yang kita simpan di bank hanya menghasilkan pemandangan indah sementara pada buku tabungan. Tidak lebih dari itu, karena bunganya tidak seberapa. Tetapi hutang yang ditunda-tunda pembayaranya menggerogoti harta kita dengan sedemikian rakusnya. Maka jika masih ada harta yang tersisa, dahulukan kewajiban membayar hutang. Dengan begitu, harta kita akan semakin bersih dari hutang. Kalau harta kita juga ikut ‘bersih’ hingga tidak bersisa? Maka kita punya jiwa yang bersih dari hutang. Dan kita bisa mulai dari awal lagi. Bukankah itu jauh lebih mulia?
 
Dizaman modern seperti saat ini, sungguh tidak mudah untuk bisa membebaskan diri dari hutang. Sekalipun begitu, mari kita saling mendoakan agar kita semua diberi kekuatan untuk mengelola hutang dengan sebaik-baiknya, tanpa harus mengorbankan harga diri kita. Ada sebuah doa yang diajarkan oleh guru kehidupan saya. Doa itu berbunyi seperti ini; “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan yang halal dari-Mu. Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu. Hingga aku tidak butuh lagi kepada siapapun selain Engkau….”  Kata beliau, ini adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada seseorang yang mengadukan tentang beban hutang yang sedang menderanya. Semoga, doa ini menjadi kekuatan bagi kita semua untuk menghadapi zaman yang penuh dengan godaan untuk berhutang. Beruntung, jika kita bisa terlepas dari hutang.   

Catatan Kaki:
Hutang sudah mulai bergeser dari sekedar sebuah kebutuhan menjadi gaya hidup. Maka berhati-hatilah dengan gaya hidup. Karena gaya hidup, menentukan gaya mati kita.
 

Menyambut Kedatangan Si Kembar

Saya tidak tahu apa yang dirasakan oleh orang tua yang mempunyai anak kembar. Tapi setiap kali melihat anak kembar, saya selalu tekagum-kagum. Ada ‘nilai lebih’ pada segala sesuatu yang kembar. Makanya si kembar selalu mampu menarik perhatian. Pada 17 Agustus 2011 kita kedatangan si kembar. Satunya adalah peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, dan satu lagi adalah peringatan turunnya kitab suci Al-Qur’an yang bertepatan dengan 17 Ramadhan 1432H. Jika bukan pemeluk Islam, mungkin Anda tidak merasa berkepentingan. Tetapi, mengapa tidak kita gunakan momentum ini untuk sama-sama menilai kembali pemahaman kita terhadap kitab suci masing-masing?
 
Saya bertanya kepada teman-teman di facebook; apa hikmah kembaran hari kemerdekaan dengan hari turunnya Al-Quran? Teman saya menjawab begini; kalau ingin merdeka, maka bacalah kitab sucimu. Sungguh, hal itu merupakan sebuah jawaban yang memiliki begitu banyak makna. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar menemukan makna apa saja yang bisa kita dapatkan dari fenomena kembaran itu, saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Bacalah kitab sucimu. Sudah bukan rahasia lagi jika kitab suci dirumah-rumah sering menjadi mahluk yang kesepian. Karena jarang disentuh oleh pemiliknya, kitab suci juga menderita penyakit jablay. The Book of Eli adalah sebuah film futuristik yang menceritakan tentang zaman dimana manusia kehilangan pegangan. Perang nuklir menyebabkan segala sesuatu di muka bumi musnah kecuali sedikit orang yang sempat bersembunyi di bunker perlindungan. Setelah itu, manusia harus berjuang untuk mengumpulkan sisa-sisa peradaban. Hampir semua faktor penting berhasil ditemukan. Namun ada satu buku yang masih hilang. Buku apakah itu? Holy book alias kitab suci. Tanpa kitab suci, ternyata manusia tidak bisa merekonstruksi kehidupannya. Mengapa? Karena hanya kitab suci yang bisa membimbing kita menuju peradaban yang sebenarnya. Film itu mengingatkan kita; jangan menunggu bumi hancur dulu baru mau membaca kitab suci. Bacalah sekarang, karena hanya kitab suci yang bisa menjadikan hidupmu bermakna. Maka, bacalah kitab sucimu.
 
2.      Berdayakanlah dirimu. Apalah artinya kemerdekaan jika kita masih terbelenggu dalam ketidakberdayaan. Jika segala sesuatunya masih bergantung kepada orang lain, kita belum benar-benar merdeka. Lho, bukankah sebagai mahluk sosial kita ini saling membutuhkan? Iya, tapi derajatnya setara. Kita membutuhkan orang lain, dan orang lain membutuhkan kita juga. Artinya, ada sesuatu yang bisa kita lakukan sehingga bisa memberi nilai tambah bagi kehidupan orang lain. Jangan pernah mau menjadi benalu yang hanya bisa menerima tetapi tidak bisa memberi. Mengapa? Karena ketika kita tidak bisa memberi, maka itu berarti kita menyerahkan nasib kepada orang lain. Ketika orang lain menilai tidak ada lagi gunanya kita, maka pasti kita akan dicampakkan juga. Orang lain hanya akan mau menerima kita, jika dan hanya jika kita cukup berharga. Jadi, berdayakanlah dirimu. Karena harga diri kita, ditentukan oleh daya diri kita.
3.      Berikanlah kontribusimu. Salah satu ciri manusia merdeka adalah; bersedia melakukan sesuatu bagi orang lain tanpa takut akan menjadi miskin. Saat saya mencanangkan program 2 JAM SEIKLASNYA™ Since 17 August 2011, ada angin sepoi berkata;”Seperti pembicara murahan.” Kan hanya ’seperti’, bukan murahan beneran. Itulah respon saya. Profesi saya adalah penulis dan pembicara publik. Untuk ikut berkontribusi, saya baru bisa menggunakan lidah dan jari jemari. Belum bisa dengan uang atau pengaruh, apalagi kekuasaan. Kalau biasanya saya pasang tarip untuk bicara 2 jam, sekarang saya tidak mau begitu lagi. Harapannya, perusahaan atau lembaga yang ingin ‘nanggap’ saya tidak lagi terjajah oleh tarip yang belum tentu cocok dengan budget mereka. Sejak dulu pun saya bertekad untuk melakukan itu, tapi  ‘nanti’ kalau saya sudah kaya. Sekarang saya belum kaya, tapi sudah merdeka. Maka saya mempercepat keputusan untuk tidak menetapkan tarip bukan ‘nanti’, tapi sejak hari kemerdekaan ini. Saya menyediakan diri untuk berkontribusi. Sekarang, apa yang akan Anda kontribusikan bagi bangsa ini?  Devisa, hasil karya, lapangan kerja, pemikiran, gagasan, atau apa saja. Rakyat berterimakasih kepada Anda.
 
4.      Hargailah pendahulumu. Ini bukan soal senioritas. Tetapi soal fakta bahwa kemerdekaan ini tidak didapatkan dengan penjuangan kita. Sudah kesiangan untuk menjadi pahlawan. Lagipula, kita tidak bisa melepaskan diri dari masa lalu yang sudah susah payah dibangun oleh para pendahulu kita. Salah satu hal yang telah secara gamblang kita sepelekan adalah bagaimana para founding fathers kita meletakkan dasar-dasar kenegaraan. Bahkan kita masih sering mentertawakan Dasar Negara Pancasila. Kritik kita begitu pedasnya. Padahal kita pun belum tentu sanggup merancang pengganti yang sepadan apalagi lebih baik darinya. Sudah cukup mengobrak-abrik fondasi bangsa kita. Kalau mau berdebat, tidak perlu menjadikan Pancasila sebagai sasaran. Fokuslah kepada apa yang benar-benar bisa kita lakukan untuk bangsa ini. Berhentilah menggugat para pendahulu kita. Perjuangan mereka, sudah nyata hasilnya. Sekarang, giliran kita untuk meneruskan. Jika ada yang harus diperbaiki dari kiprah mereka, lakukan saja tanpa harus mencederai nama baik dan jasa-jasanya.
 
5.      Merdekakanlah dirimu dari sifat penjarah. Kita sudah lama tidak lagi berhadapan dengan penjajah. Sebagai gantinya, kita dipusingkan oleh para penjarah. Ironisnya, sang penjarah bisa jadi sebelumnya adalah orang yang paling lantang suaranya ketika berdiri diatas mimbar orasi demokrasi. Benar, kita memang punya sifat menghujat orang lain. Tetapi, begitu mencicipi nikmatnya keju yang dipercayakan untuk kita jaga, kita tergoda oleh aromanya yang menggiurkan. Setelah menduduki kursi empuk, janganlah sampai ikut-ikutan menjadi tikus yang sama rakusnya dengan tikus-tikus yang sebelumnya kita berangus. Hati-hati dengan tikus, karena wajahnya mirip kelelawar. Hati-hati dengan kelelawar, karena dia dia temannya vampire. Hati-hati dengan vampire karena gigitannya menyebabkan virus para tikus menular. Nah. Kalau sudah tertulas virus tikus itu, biasanya kita berubah dari pejuang demokrasi menjadi tikus yang lebih rakus lagi. Maka masa penjajahan yang sudah lewat, digantikan oleh masa penjarahan yang sulit dihentikan. Jadi, merdekakanlah dirimu dari sifat penjarah.
 
Merdeka! Itu tidak berarti hidup tanpa aturan hingga boleh melakukan apa saja sesuka hati kita. Merdeka! Itu adalah isyarat untuk secara leluasa mengekspresikan nilai tertinggi kita sebagai manusia. Peringatan hari kemerdekaan kita tahun ini diiringi oleh peringatan turunnya kitab suci. Bukankah ini isyarat dari langit agar kita bisa mau kembali membaca kitab suci? Jika mau menjadi pemimpin Negara yang baik, bacalah kitab suci. Jika ingin menjadi warga Negara yang baik, bacalah kitab suci.
  
Catatan Kaki:
Kemerdekaan paling tinggi adalah ketika kita tidak lagi membiarkan diri sendiri dijajah oleh hawa nafsu untuk melakukan tindakan yang tidak disukai oleh Tuhan.