Tampilkan postingan dengan label natin-dadang kadarusman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label natin-dadang kadarusman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Sepasang Kacamata Untuk Atasanku

Sesekali saya menemani anak lelaki kami yang berusia 7 tahun untuk menonton film kesukaannya; Shaun The Sheep. Film tentang seekor domba yang diternakan oleh seorang petani bersama domba-domba penghasil wol lainnya dan seekor anjing penjaga. Shaun adalah domba yang paling kecil, kurus, dan kerempeng sehingga bulu-bulu yang dihasilkannya sangat sedikit. Tapi Shaun memiliki kecerdasan yang sangat tinggi dan hati yang jernih. Suatu ketika sang petani kehilangan kacamatanya, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas. Karena penglihatannya yang terganggu, maka petani itu tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Semua yang dilakukannya menjadi salah, padahal tak seorang pun tinggal didaerah itu untuk membantunya melihat dengan lebih baik. Apa yang dilakukan oleh Shaun si domba kurus itu?
 
Shaun berpikir keras untuk menolong sang petani sampai akhirnya dia berhasil membuatkan sepasang kacamata untuk tuannya itu. Maka pada saat yang paling kritis, Shaun bisa membantunya untuk melihat lebih jelas, sehingga tuannya bisa kembali menjalankan tugas-tugas hariannya dengan baik. Menyaksikan film itu saya menjadi teringat tentang kita. Khususnya yang memilih untuk menjadi karyawan professional. Petani itu bagaikan atasan yang menggembalakan, sedangkan para karyawan adalah domba-dombanya yang mereka jaga dan arahkan. Seperti petani itu, atasan kita tidak selamanya benar. Namun, disaat kita tahu atasan kita melakukan kekeliruan, apa yang kita lakukan? Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mengambil peran positif disaat atasan melakukan kesalahan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:  
 
1.      Berilah atasan Anda ruang untuk melakukan kesalahan. Secara tidak langsung kita sering menuntut atasan untuk melakukan keajaiban. Salah satu keajaiban yang kita tuntut adalah; mereka tidak boleh salah. Jangan terlalu membanggakan atasan yang tidak pernah berbuat salah. Karena hanya ada 2 kemungkinan bagi mereka yang tidak pernah salah, yaitu; (i) tidak  melakukan apapun, atau (ii) tidak belajar sesuatu yang baru dalam hidupnya. Anda justru harus memberi ruang kepada atasan Anda untuk melakukan kesalahan konstruktif. Yaitu kesalahan yang dilakukannya dalam usaha untuk semakin mengembangkan teamnya, meraih pencapaian yang lebih tinggi, serta bereksperimen dengan hal-hal yang baru. Jika Anda menilai kesalahan atasan sebagai sesuatu yang tabu, maka atasan Anda juga tidak akan mengambil resiko untuk melakukan hal-hal besar. Mengapa? Karena atasan pun menginginkan penilaian yang baik dimata bawahannya.
 
2.      Sadarilah bahwa kita pun bisa melakukan kesalahan yang sama. Ketika atasan melakukan kesalahan, apa yang dilakukan oleh bawahan? Pada umumnya mereka menggunjingkan kesalahan atasannya di toilet atau di kantin-kantin. “Orang G0610K begitu kok diangkat jadi manager!” begitu ejekan yang sering kita dengar. Saya sudah cukup banyak menyaksikan fakta bahwa mereka yang dulunya sering mengkritik atasannya tentang cara memimpin ternyata juga tidak hebat-hebat amat ketika kebagian giliran dirinya yang mengambil tampuk kepemimpinan. Terimalah kenyataan bahwa kita ini manusia biasa. Selama tidak melanggar integritas, maka wajar jika melakukan kesalahan. Oleh sebab itu setiap kali menemukan atasan kita melakukan kesalahan, maka sebelum memakinya dalam hati atau mentertawakannya dibelakang mereka; mawas dirilah terlebih dahulu. Bukankah kita juga bisa melakukan kesalahan yang sama?
 
3.      Sadarilah bahwa kita ada untuk menjadi penolong bagi atasan. Setiap bawahan itu ada untuk menolong atasan menyelesaikan tugas-tugasnya dalam mencapai business objective-nya. Ini yang sering tidak disadari oleh para bawahan. Padahal, tidak butuh mengerti tentang Balance Score Card dulu untuk memahami hal ini. Kinerja semua orang dalam organisasi saling mempengaruhi satu sama lain. Apalagi antara atasan dengan bawahan. Makanya strategic objective setiap atasan selalu diturunkan kepada bawahannya, bukan malah sebaliknya. Dari presiden direktur ke para direktur, lalu manager dan kemudian staffnya masing-masing. Dengan begitu akan ada keselarasan antara apa yang dikerjakan oleh atasan dan bawahan dengan porsinya masing-masing. Jika para atasan itu bisa melakukan semuanya sendiri maka dia tidak butuh bawahan. Itu artinya posisi yang kita pegang itu tidak perlu ada. Mengapa sekarang jadi ada? Karena para atasan membutuhkan seseorang yang membantunya untuk mentjapai boesiness obdjective mereka. Hal itu berarti bahwa setiap bawahan yang tidak bisa memainkan perannya, tidak cocok untuk diberi kepercayaan itu.
 
4.      Fahamilah bahwa atasan membutuhkan kita untuk melihat lebih jernih. Banyak bawahan yang bisanya hanya mengkritik atasan tanpa bisa berkontribusi pada perbaikan. Jika sikap itu dibumbui oleh rasa iri atau tidak suka, maka kemudian akan berkembang kepada kasak-kusuk untuk menjatuhkan. Apa yang dilakukan oleh Shaun? Dia tidak mentertawakan atasannya yang berkelahi dengan orang-orangan sawah  karena kelamuran pandangan tuannya itu membuat dia mengira ada yang hendak mencuri dombanya. Shaun ‘melerai’ perkelahian itu. Ketika tuannya keliru menggunting tumpukan jerami yang dikiranya wol domba yang sudah siap dicukur, Shaun berpikir keras; bagaimana caranya membuat sang tuan kembali dapat melihat dengan lebih baik? Ketika dia berhasil mendapatkan kacamata itu, maka dia memasangkannya dimata tuannya. Maka seketika itu pula sang petani bisa melihat dengan jernah apa yang sesungguhnya terjadi di tanah pertaniannya. Semuanya berjalan lancar setelah itu. Bisakah kita membantu atasan untuk melihat lebih jernih?
 
5.      Posisikanlah diri Anda sebagai pemberi solusi. Mencari masalah itu gampang. Bahkan tanpa dicari pun masalah mah pasti datang. Kalau kita hanya bisa menambah masalah, maka sebenarnya kita merupakan bagian dari masalah itu sendiri. Saat seseorang membuang masalah itu, maka bisa jadi kita pun harus ikut dibuang juga. Mencari solusi, itulah yang memiliki nilai seni. Hanya sedikit orang yang bisa melakukannya, sehingga orang-orang yang berfokus kepada upaya untuk memberikan solusi masih termasuk mahluk langka. Seperti hukum supply dan demand, harga orang-orang yang bisa memberikan solusi ini sangat tinggi sekali. Makanya, aneh sekali jika kita ingin dibayar lebih tinggi tetapi tidak memposisikan diri sebagai pemberi solusi. “Be the part of the solution, not the problem.” Begitu nasihat guru management saya. Saya berani bersaksi jika nasihat itu benar. Karena saya sendiri pernah mempraktekannya. Dan hasilnya? Hmm, Anda buktikan saja sendiri. Berfokuslah untuk memberikan solusi, maka Anda akan merasakan sendiri bagaimana keajaiban karir dan penghasilan mendatangi Anda.
 
Jika Anda melihat kesalahan para atasan. Tetaplah bersikap positif terhadap kesalahan atasan Anda, dan berfokuslah untuk berkontribusi dalam melakukan perbaikan. Toh suatu saat nanti boleh jadi Anda pun akan menjadi seorang atasan. Apalagi jika saat ini Anda juga sudah punya anak buah. Boleh jadi, kekurangan yang Anda lihat pada atasan Anda itu sesungguhnya adalah kelemahan Anda sendiri dimata anak buah Anda. Tidak zaman lagi untuk terus berusaha melihat semut diseberang lautan, sambil mengabaikan gajah yang melambai-lambaikan belalainya persis dimuka kita sendiri. Berhentilah menilai atasan secara negatif. Dan mulailah mempraktekkan ke-5 uraian diatas, sekarang juga.

Catatan Kaki:
Ketika atasan kita melakukan kesalahan, mereka membutuhkan sepasang kacamata yang kita buatkan agar bisa melihat lebih jelas dan kembali menjalankan fungsinya dengan lebih baik.

Natin Dipanggil Presiden Direktur

Jam makan siang sudah sejak tadi berakhir.
Orang-orang masih belum juga kembali ke kubikalnya masing-masing. Keadaan itu membuat Sekris serba salah. Kalau dia melaporkannya pada Pak Mergy maka dia akan disebelin oleh teman-temannya sendiri. Tapi kalau dia tidak melaporkannya, maka dia akan dimarahi atasannya itu.
 
Sekris hanya bisa berharap orang-orang itu segera kembali ke kubikal masing-masing. Sebelum Pak Mergy kembali dari rapat dengan kliennya di luar kantor. Kalau Pak Mergy sudah keburu kembali, sudah deh. Dia nggak bisa berbuat lain selain mencatat siapa saja yang datang telat dari makan siangnya.
 
Bagaimanapun juga Sekris tidak mau mengambil resiko disebelin teman-temannya atau dimarahin atasannya. Apa boleh buat. Dia hanya punya pilihan memainkan jempolnya untuk mengingatkan teman-temannya agar cepat-cepat balik ke kubikal.
 
”Tapi rapat kita belum kelar Kris...” Balas Opri lewat pesan singkatnya.
Hah! Rapat? Rapat soal apa lagi? Pertanyaan Sekris membawanya kepada pengetahuan bahwa ternyata orang-orang pada ngumpul di Amigos untuk meneruskan rapat soal Natin yang nggak masuk kantor.
 
Kali ini Sekris kecewa sekali. Dia tidak diajak orang-orang untuk ikut rapat itu. Rupanya teman-temannya masih kesal karena kesalahannya mengirim pesan yang belum diedit kepada Pak Mergy.
 
Untuk pertama kalinya selama Sekris bekerja di perusahaan itu merasa ditinggalkan sendiri. Teman-temannya tega mengabaikan keberadaannya. Jika mengingat apa yang selama ini dia lakukan untuk teman-temannya. Sungguh sangat menyakitkan.
 
Mencarikan alasan setiap kali Pak Mergy menemukan kesalahan teman-temannya di kubikal. Meyakinkan Pak Mergy untuk mempertimbangkan usulan teman-temannya. Meloby Pak Mergy agar tahun ini ada outing. Semuanya sudah dia lakukan. Demi teman-temannya. Kurang apa lagi, coba?!
 
Apa balasan semua kebaikan itu?
Teman-temannya malah mencapakkannya hanya karena kesalahan kecil saja.....
 
Persahabatan macam apa sih ini?
Di kantor seharusnya orang-orang saling menolong satu sama lain. Bukan saling menyingkirkan seperti itu. Apa lagi hanya gara-gara kesalahan kecil. Masa sih untuk orang yang selama ini banyak berjasa pun mereka sampai hati begitu?
Hanya ada setetes air mata yang menggelayut di pojok mata Sekris. Dia buru-buru mengusapnya. Menarik nafas dalam-dalam. Dan menahan jangan sampai ia jadi menangis. Kehidupan di kubikal memang bisa sekeras. Dan sekejam itu. Tapi sudahlah. Tidak semua orang menghargai jasa orang lain.
 
”Pak Mergy balik jam berapa Kris?” tiba-tiba saja ping dari Aiti masuk.
 
Nggak ada selera untuk membalasnya. Biarkan saja mereka terlambat. Nggak usah dibela-belain lagi. Sekris meletakkan gadgetnya di atas meja. Hampir melemparnya seandainya saja dia tidak segera ingat kalau itu adalah gadget kesayangannya. Tapi keburu kejeduk agak keras juga tadi.
 
Sekris memungutnya kembali. Lalu membelainya dengan penuh kasih sayang. ”Maafkan aku yang bebembi.....” katanya. Sambil menciuminya beberapa kali.
 
”Kris, Pak Mergy balik jam berapa?” ping dari Aiti masuk lagi.
”Tauk! Liat aja sendiri.” balas Sekris ketus. Nggak perlu lagi baik-baikin teman yang nggak setia kawan. Mereka cuman mau enaknya aja dari kita. Tapi mereka nggak peduliin perasaan kita. Perih.
 
Sepuluh menit kemudian orang-orang pada berlarian menuju ke kubikal. Sebelum sampai di mejanya Fiancy sempat berhenti di kubikal Sekris. ”Pak Mergy belon datang kan...hhh.hhhhh.hhhh?”
 
Pertanyaanya itu hanya dibalas dengan bibir mencibir dan bahu besar yang terangkat.
Nggak ada orang yang berani menebak-nebak. Lebih baik berasumsi jika Pak Mergy sudah datang duluan. Meskipun itu berarti mereka semua harus kena marah lagi.
 
Mungkin beberapa detik lagi pintu ruangan Pak Mergy akan terbuka. Lalu suara kerasnya akan menggelegar seperti biasa. Tapi mau gimana lagi? Pasrah aja. Emang sih salah orang-orang juga. Keasyikan rapat soal Natin yang nggak masuk kantor di Amigos sambil makan siang.
 
Keheningan orang-orang yang bersembunyi di kubikal terpecahkan oleh bunyi pintu yang terbuka. Untungnya bukan pintu ruangan Pak Mergy. Seseorang membuka pintu masuk ke kubikal. Lalu...
 
”Hallo semua!” suara Pak Mergy terdengar begitu renyah.
”Haallloooo Pak Mergyyyyyyy.....” sambutan semua orang lebih renyah lagi. Bukan karena mereka suka dengan sapaan ramah Pak Mergy. Tapi mereka senang karena atasannya datang lebih terlambat lagi. Aman.....
 
Pak Mergy berhenti sejenak. Memiringkan wajahnya. Seola-olah sedang mendengarkan sisa-sisa alunan sapaan hangat anak buahnya. Kemudian dia tersenyum. Lalu melangkah menuju ke ruang kerjanya.
 
Fiuh....
Orang-orang di kubikal bernafas lega......
Nggak jadi kena marah meskipun telat balik dari makan siang.
 
Dalam kelegaan itu, tiba-tiba saja Sekris berkata; ”Kalian habis rapat apa-an sih sampai selama itu....?”
 
Haddduuuuh..., si bongsor itu kenapa ngomong keras-keraaaaaaaaas.... hiiiiih.....
Batin semua orang di kubikal menggerutu. Pertanyaannya membuat jantung semua orang di kubikal nyaris berhenti.  
 
Orang-orang di kubikal menahan nafasnya.
Pak Mergy yang sedang melangkah nggak jadi menginjak lantai. Kaki kanannya masih melayang di udara. Dan berhenti begitu saja.
 
Sekris sendiri kaget dengan akibat yang ditimbulkan oleh pertanyaannya.
”Ups! Perasaan aku sudah berbisik....” begitu dikatakan dalam hatinya. Telapak tangan kanannya menutupi mulutnya yang seksi.
 
Semua orang di kubikal berharap Pak Mergy tidak mengambil hati. Tapi percuma aja. Beliau bertanya ”RAPAT APA?”. Lagi-lagi Opri yang kena getahnya untuk menjelaskan.
 
”Sudahlah anak-anak, nggak perlu membahas lagi soal Natin yang nggak masuk kantor” tanpa disangka Pak Mergy meresponnya dengan ceria.
 
Sekarang gantian orang-orang di kubikal yang penasaran. KENAPA?
”Saya sudah tahu penyebabnya” kata Pak Mergy. ”Ternyata Natin bukan tidak masuk kantor,’ lajutnya. ”Tapi, Natin tadi itu dipanggil oleh Pak Presiden Direktur......
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Haaaah? Natin  dipanggil Pak presiden Direktur? Jadi… rapat-rapat kita selama ini apa gunanya?. Mulut orang-orang di kubikal menganga.
 
Tiba-tiba saja semua orang kubikal menyadari bahwa keberadaan seseorang secara fisik tidak menujukkan apakah mereka bekerja atau tidak. Ada orang yang secara fisik berada di kantor tapi tidak mengerjakan apapun. Ada yang fisiknya tidak terlihat. Tapi hasil kerjanya terasa ….. 
 
Catatan Kaki:
Kehadiran seseorang di kantor belum menjadi jaminan jika hari itu, dia mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat buat kantor
 

Natin Menjadi Managing Director

Hanya sebentar saja orang sadar.
Orang-orang di kubikal nyadar bahwa meskipun fisiknya nggak kelihatan, nggak berarti orang lain nggak kerja. Yang kelihatan fisiknya pun belon tentu kerja.
 
Mereka sadar jika sekarang adalah saatnya untuk kerja. Setelah setengah harian tadi konsentrasi mereka buyar. Hanya gara-gara nggak melihat Natin. Lain kali, mereka nggak bakal lagi langsung curiga Natin nggak masuk kantor kalau batang hidungnya nggak kelihatan.
 
Jari jemari mereka hampir menyentuh toots keyboard desktop. Tanda bahwa pekerjaan hari itu bisa segera dimulai. Tapi nggak jadi. Seperti janjian saja. Semua orang di kubikal menghentikan jarinya dalam jarak kira-kira satu setengah senti dari keyboard.
 
Apa lagi yang menghentikan mereka dari pekerjaan sekarang?
Pikiran-pikiran yang menggoda benak mereka. Tiba-tiba saja mereka jadi kepikiran ini; ”Kok bisa ya Pak Presiden Direktur memanggil Natin ke ruang kerja beliau? Dia kan hanya seorang Office Boy!”
 
Oh, oh, oh....
Rasanya kok nggak pantes banget ada office boy yang dipanggil oleh Pak Presiden Direktur. Kalau para Direktur, panteslah. Lha, kalau OB? Aneh.
 
Orang-orang di kubikal menemukan keanehan yang sama.
Opri langsung berdiri. Eh, ternyata Aiti dan Fiancy juga berdiri. Begitu pula dengan semua orang yang lainnya di kubikal itu. Pikiran mereka sama.
 
”Emh, e-l-o pade mikir yang sama seperti yang gue pikirkan?” Opri memulai.
 
Semua orang di kubikal saling menatap satu sama lain. Hening untuk sementara waktu.
Lalu mereka semua mengangguk bersamaan sambil mulai menyerocoskan kehebohan. Persis seperti bebek yang sedang rapat di kandangnya.
 
Jangan-jangan....
Telunjuk orang-orang bergoyang-goyang....
”Jangan-jangan....” Fiancy bicara dengan nada getar menahan emosi.
Orang-orang tak sabar menantikan kelanjutannya. ” Natin dipromosikan.....” suaranya terpekik.
 
Haaahhhh....? Natin dipromosikan?
OB mau dipromosi jadi apa lagi? OB itu karir abadi sepanjang masa. Kalao udah jadi OB ya seumur hidup jadilah dia OB terus. Di promosi. Ngimpi....
 
Tapi...,
Ngapain Pak Presiden Direktur memanggil Natin selama itu jika bukan untuk dipromosi.
Semua orang di kubikal terdiam. Mereka tidak berani mengambil resiko jika kesimpulan mereka keliru. Terlebih lagi. Mereka tidak berani mengambil resiko jika Natin benar-benar di promosi.
 
”Oke, kita rapat lagi.” Opri kembali memimpin pertemuan penting itu. Kali ini rapat soal jabatan apa yang kira-kira akan diberikan kepada Natin. Manager OB, tidak mungkin karena OB di kantor hanya dia satu-satunya. Sekretaris, nggak mungkin. IT nggak mungkin. Finance, juga nggak mungkin. Semua posisi sudah terisi.
 
Fiuh... lega rasanya.
Natin nggak mungkin dipromosikan. Nggak ada posisi kosong. Maka rapat itu pun menyimpulkan bahwa hipotesa soal Natin yang akan dipromosi hanya isapan jempol belaka. Mereka pun bubar.
 
Aiti dan teman-temannya kembali menuju ke kubikal masing-masing. Nggak ada yang merasa aneh kecuali Sekris yang harus melintasi ruang kerja para boss. Tepat di pojok sebelah tenggara, dia melintasi sebuah ruangan besar yang sejak 3 bulan ini kosong.
 
Sekris berhenti tepat ketika melintas di ruangan itu.
Jantungnya berdegup kencang ketika dia melihat label di pintu ruangan itu. ”Managing Director.” Jabatan yang kosong sejak 3 bulan lalu....
 
Pikirannya mengelana kemana-mana.
Sel-sel otaknya mengembara ke berbagai tempat. Semua informasi berputar-putar dalam kepalanya. Lalu saking rumitnya putaran otak itu dia tidak dapat menguasainya. Sampai akhirnya Sekris berteriak;” Natin menjadi Managing Director!!!!!”
 
Teriakan itu nyaris membuat jantung semua orang di kubikal copot.
Benar. Hanya itu posisi yang lowong saat ini. Oh, bagaimana mungkin seorang OB diangkat jadi Managing Director?
 
Seperti zombie. Tak seorang pun bisa bicara lagi. Mereka hanya bisa berdiri. Lalu berjalan perlahan menuju ke ruang kosong tempat Sekris berdiri. Disana mereka hanya bisa menatap pintu bertuliskan ’Managing Director”. Tanpa bisa berkata-kata.
 
”Siapa yang bilang Natin diangkat jadi Managing Director?” teriakan Pak Mergy membuyarkan hipnotis itu.
 
Seperti orang linglung. Mereka semua saling pandang satu sama lain. Lalu menunjuk kearah ruang kosong yang cozy itu.
 
Pak Mergy geleng-geleng kepala.
”Jangan mengada-ada,” katanya. ”Nggak mungkin itu.” lanjutnya. ”Hayo, balik lagi ke kubikal masing-masing.”
 
Maka para zombie itu pun kembali.
Tapi, pikiran mereka semua dipenuhi oleh teka-teki. Termasuk isi kepala Pak Mergy. Mungkinkah Natin mendapatkan promosi jabatan yang sedemikian bergengsi?
 
”Huuuuuhuhu huhu...”
Tiba-tiba saja terdengar suara aneh itu. Semua orang di kubikal penasaran dari mana datangnya. Oh. Dari ruangan Pak Mergy.
 
Rencananya mau duduk kembali di kubikal masing-masing. Tapi suara ’huhuhu huhu’ telah menghipnotis mereka untuk yang kedua kali. Sehingga arah semua orang sekarang berpindah. Menuju ke pintu ruangan Pak Mergy yang sudah kembali tertutup rapat.
 
”Huuuuu huhu huhu...” Pak Mergy menangis lagi.
Hati semua orang kubikal tersayat oleh kepedihan. ”Kenapa Natin yang dipromosikan menjadi Managing Director......” desah Pak Mergy di sela isak tangisnya.
 
Ya. Mengapa Natin dipromosikan menjadi Managing Director. Tidak ada logikanya. Setiap orang di kubikal merasa jika seorang OB tidak pantas dipromosikan setinggi itu.
 
”Mengapa Natin, oh....mengapa Natin....” suara lirih Pak Mergy kembali terdengar jelas dari lubang kunci.
 
Ya. Mengapa Natin.
”Saya kan sudah lama menjadi manager...” kata Pak Mergy lagi. ”Seharusnya saya yang diangkat jadi Managing Director...hohohoho...hoooooo hoho hoho....”
 
Tak tahan mendengar ratapan seseorang yang sudah sedemikian lamanya mengharapkan jabatan itu. Periiih hati tersayat oleh harapan yang sirna secara tiba-tiba.
 
Tak lam kemudian terdengar rintihan yang menyedihkan dari dalam ruangan; ”Gimana kalau nanti saya dipimpin oleh orang yang selama ini saya rendahkan.....”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tidak seorang pun bisa membayangkan untuk menjadi bawahan seseorang yang selama ini dianggap remeh.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu tentang nasib seseorang. Hari ini, seseorang bisa jadi boss. Besok. Mungkin dia menjadi bawahan. Hari ini. Seseorang menjadi bawahan. Tapi besok. Dia mungkin menjadi boss besar.
 
Sesal mulai menyelusupi hati mereka. Tak ada gunanya, menyepelekan kehadiran orang lain. Bahkan sekalipun mereka menduduki posisi yang paling rendah sekalipun….. 
 
Catatan Kaki:
Jabatan itu hanyalah titipan sementara. Hari ini kita memilikinya. Namun tak pernah tahu, kapan akan kehilangannya.
 

Natin Menolak Jadi Managing Director

Keadaan serba berubah.
Terutama sejak beredarnya isyu Natin   menjadi Managing Director. Semua orang menjadi kikuk. Bagaimana harus mengubah sikap terhadap OB yang beruntung itu.
 
Rasanya aneh aja. Gimanaaa gitu. Kalau Natin  sudah jadi boss kan nggak mungkin kita bersikap dengan cara yang sama seperti biasanya.
 
Cara bicara kita. Mesti lebih sopan. Perilaku kita. Mesti lebih santun. Perlakuan kita. Mesti lebih manusiawi. Pokoknya semuanya mesti berubah. Soalnya, Natin  sudah bukan OB lagi. Dia pejabat tinggi perusahaan sekarang.
 
Oh. Seandainya selama ini orang-orang di kubikal memperlakukan OB itu sama seperti halnya mereka memperlakukan orang lain. Tentu orang-orang itu nggak perlu setresss mikirin perubahan perlakukan yang harus mereka lakukan.
 
Sekarang orang-orang di kubikal sudah sadar. Bahwa setiap orang yang ada di kantor mempunyai derajat dan kemuliaan yang sama. Apa pun peran mereka. Penting. Bukan hanya untuk perusahaan. Tapi juga untuk orang-orang yang ada disekitarnya.
 
Jadi. Sungguh sangat penting memperlakukan semua orang itu sama. Mau atasan kek. Bawahan kek. Teman. Rasa hormat patut diberikan kepada semua orang.
 
Oh oh oh... gimana caranya menghormati orang-orang yang statusnya berada dibawah kita? Gampang kalau menghormati boss. Tapi pada orang-orang yang bukan boss? Beraaaat banget.
 
”Sudahlah teman-teman. Nggak usah dipikirin. Santai aja lageee...” Opri berusaha menepis kegalauan orang-orang di kubikal.
 
”Santai gimana Pri...,” Fiancy mengelak. ”Gue sih nggak bisa semudah itu berubah sikap sama Natin.” lanjutnya. ”Kerasa banget ngejilatnya, tahu gak sih.”
 
”Ya nggaklah.” Sangga Opri. ”Memang sudah kodratnya kalau orang yang punya jabatan tinggi itu lebih dihargai,” katanya. ”Elo juga kalau mendadak jadi boss bakal gua hormatin lebih dari elo yang sekarang kwekekekekek.....”
 
Tak ada orang lain yang ikut tertawa bersamanya.
Orang-orang di kubikal menatap tajam kearahnya. Saling menatap. Lalu pergi meninggalkan Opri sendiri. ”Nggak lucu!” begitu kata mereka nyaris berbarengan.
 
Dalam kesendirian itu Opri merasakan kehampaan didalam hatinya.
Benar. Kata-katanya tadi terasa tidak lucu sama sekali. Orang-orang hanya menghormati jabatannya. Bukan pribadi temannya. Jika dia lebih menghormati jabatan sahabatnya, maka tidak ada artinya lagi persahabatan itu.
 
Itulah sebabnya, mengapa di kantor kita jarang sekali mempunyai sahabat. Sebab, ketika kita saling berlomba untuk memperebutkan jabatan. Maka persahatan sering sekali dikorbankan.
 
Beda sekali dengan orang-orang yang dengan tulus menghormati sesamanya. Sekalipun dengan office boy. Mereka menaruh hormat yang tidak berkurang nilainya.
 
Banyak hal yang direnungkan Opri dalam kesendirian ditengah kubikal yang dipenuhi orang galau itu. Dan selagi dia merenung, tiba-tiba saja disampingnya sudah berdiri Pak Mergy.
 
”Ngapain kamu melamun kayak gitu?” entah sejak kapan Pak Mergy berdiri disitu. Seperti magnet. Suaranya menarik perhatian seluruh penghuni kubikal. Mereka siap memasang daun telinga untuk nguping seperti biasanya.
 
”Emmh... nggak Pak... saya....” Opri nyari kecopotan jantungnya.
 
”Masih galau soal Natin  yang jadi Managing Director ya kalian?” Tuduh Pak Mergy.
”Lho, kok Bapak tahu sih?” Seru Opri. Kaget dengan pengetahuan Pak Mergy.
 
”Kamu galau mesti bersikap apa kan?” katanya lagi.
”Lho, kok Bapak tahu sih?” Pertanyaan Opri mewakili suara semua penghuni kubikal.
 
”Kikuk kalau harus dipimpin oleh mantan OB kan....?” lanjut Pak Mergy.
”Lho, kok Bapak tahu sih?” Selain berkata begitu, semua orang merasa heran. Mengapa Pak Mergy sama sekali tidak menunjukkan kegalauan yang sama.
 
”Lho kok Bapak tahu. Lho kok bapak tahu. Ya taaaahu dooong....” wajah Pak Mergy makin berbinar-binar.
 
Semua orang di kubikal melihat ketulusan disetiap kata dan nada bicaranya. Sekarang mereka melihat teladan yang baik untuk belajar tentang kebesaran hati. Menerima dengan legowo keberuntungan dan kesuksesan orang lain.
 
Dari sikap Pak Mergy semua orang bisa belajar menerima promosi jabatan temannya sebagai kemenangan bersama. Bukan untuk disesali. Bukan untuk dicemburui.
 
”Oh ya. Saya ingin beri tahu kalian satu hal lagi....” lanjut Pak Mergy.
Semua telinga dipasang tajam-tajam. Orang yang dari tadi masih duduk di kubikalnya sekarang ikut berdiri karena penasaran.
 
”Dengarkan baik-baik ya...” kata Pak Mergy kemudian. ” Natin  tidak jadi dipromosi jadi Managing Director.”
 
”Haaaaah? Natin  tidak jadi dipromosi menjadi Managing Director?” semua orang tergagap-gagap. Entah karena mereka merasa lega. Atau mungkin ada alasan lain yang hanya mereka sendiri yang tahu.
 
”K-kenapa Pak....?” Aiti memberanikan diri bertanya.
”Itulah yang saya juga kurang mengerti,” balas Pak Mergy. ”Soalnya, saya dengar.....” Pak Mergy berhenti sejenak.
 
Ketika nafas orang-orang di kubikal nyaris berhenti karena penasaran, Pak Mergy meneruskan; ” Natin  menolak tawaran menjadi Managing Director.”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tidak seorang pun bisa memahami, mengapa ada orang yang menolak diberi jabatan tinggi dan bergengsi.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa tidak semua orang silau dengan jabatan. Diantara mereka yang saling sikut dan menghalalkan segala cara, ada segelintir orang yang tidak terpengaruh oleh perebutan itu. Bagi orang itu, bekerja; bukan semata-mata soal jabatan….. 
 
Catatan Kaki:
Jabatan itu bukanlah sekedar prestise dan fasilitas mewah. Melainkan seperangkat amanah, yang wajib ditunaikan.
 

Natin Diantara Fakta Dan Rumor

Libur panjang berakhir sudah.
Lumayan. Jumat tanggal merah. Sabtu  dan Minggu, bukan hari kerja. Bablas 3 hari nggak mesti setor muka ke mandor di kantor.  
 
Tapi ya ini kan sudah Senin lagi. Ya sudah berakhir toh liburannya.
Waktunya kerja lagi. Hari ini mesti kerja lebih ekstra. Semua orang juga tahu kalau sehabis liburan panjang, pasti kerjaan bertumpuk-tumpuk. Kalau nggak gesit di hari Senin ini. Pasti besok tambah berat lagi. Mangkanya, ayo semua semangaaaaaaaadddh!
 
Setiap kali habis liburan panjang, orang-orang di kubikal berkerumun. Biasa. Saling bertukar icip-icip oleh-oleh yang mereka peroleh di tempat liburan. Sambil sekalian bercerita tentang acara liburannya masing-masing.
 
Rata-rata mereka pergi bersama keluarga. Ke tempat rekreasi. Tapi, karena gaji bulan ini baru turun hari Senin ya pilih tempat-tempat yang irit saja. Yang penting anak-anak pada heppi.
 
Yang paling kesian para jomblo. Libur panjang malah tambah setress doang. Tapi, ya mau gimana lagi. Terima nasib aja. Selagi masih ada guling montok di kamar. Bisa pelukan seharian. Rasanya sih..., sama aja. Cuman, nggak merintih waktu menciumnya.
 
Yang paling heboh ceritanya orang-orang yang liburan ke Anyer. Main cebur-ceburan, dan bikin rakit dari ban bekas dan batangan bambu. Seru, katanya. Lumayan. Bisa jadi refreshing dari kerjaan yang tuntutannya naudzubillah. Mereka itu orang-orang hebat. Dan kelak, mereka bakal menikmati buah dari kerja keras dan kegigihannya.
 
”Gue seneng banget,” teriak Opri. ”Selama 3 hari nggak mesti mikirin Natin,” lanjutnya.
Sontak saja. Semua orang terdiam. Yang tadi tertawa. Berhenti tertawa. Yang tadi makan keripik pedas. Berhenti mengunyah. Lupa kalau lidahnya sudah terbakar cabe merah.
 
Semua keceriaan yang sedang mereka nikmati tiba-tiba sirna begitu saja. Tepat ketika Opri menyebut kata ’ Natin.’  Oh. Liburan benar-benar telah berakhir.
 
”Emh.. s-sori. Sori. Gue....keceplosan.” Opri sadar jika kata-katanya telah mengungkit sebuah kenangan yang tidak ingin lagi mereka ingat. Tapi sudah terlambat. Semua orang sudah terlanjur ingat lagi.
 
Tak ada yang menyalahkan Opri. Tapi. Tak ada lagi selera untuk membagi cerita tentang liburan. Mungkin memang sudah saatnya kembali kepada realitas. Dalam dunia komputer, dan berkas-berkas.
 
Satu demi satu meninggalkan kerumunan. Melangkah ke kubikalnya masing-masing. Opri jadi nggak enak hati. Tapi, dia juga nggak mau disebut penyebab membekunya suasana di Senin pertama ini.
 
”Lagian siapa juga yang memulai omong kosong soal Natin ini!” teriaknya.
 
Kejadian yang tidak direncanakan Opri berulang untuk kedua kalinya. Semua orang berhenti. Belum satu pun yang sudah tiba di kubikalnya.
 
Kepala boleh beda. Tapi isinya sama; ”Iya ya, siapa orang yang pertama kali memulai omong kosong soal Natin ini!?”
 
Sembilan setengah detik setelah itu. Semua wajah berpaling. Setiap pasang mata tertuju kepada sosok subur nan bongsor.
 
Merasa dipelototi. Sekris meringis.
”Kok, elo pade ngeliatin gue siiiiih.....?”
 
”Elo tuh yang mulai!” teriak semua penghuni kubikal.
”Yeeeee, kok gue siiiiih.....” protes Sekris.
 
Kericuhan kecil berlangsung selama beberapa menit. Mereka melakukan flash back. Merunut ke belakang. Sampai kepada adegan ketika pekan lalu Sekris berhenti didepan ruangan kosong untuk Managing Direktur. Pada saat itulah opini semua orang digiring kepada sebuah kesimpulan bahwa; Natin ditawari jadi Managing Director.
 
Ternyata benar. Karyawan itu butuh liburan yang berkualitas untuk bisa berpikir jernih. Tanpa liburan yang cukup, otak mereka hanya dipenuhi pikiran yang belum tentu benar. Seperti orang-orang di kubikal itu. Mereka mulai mempertanyakan; ”Apa benar, Natin ditawari jabatan Managing Director?”
 
”Kris, elo yakin Natin ditawari jadi Managing Director?” desak Opri.
”Lhoooo..... kok nanya ke gue sih....” wajah bulat itu dipenuhi kecemasan. ”Kan, bukan gue yang mengambil kesimpulan itu,” desahnya. ”Kita semua, kaaaan....?” lanjutnya.
 
Nggak ada yang boleh nyalahin Sekris. Karena kesimpulan itu memang dibuat atas keputusan bulat. Tapi.... APA GUNANYA rapat-rapat kita selama ini, eh!?
 
”Halaaaah, kalian ini. Bisanya cuma ribbbbbuuuut aja.” Pak Mergy datang sambil menenteng tas kerjanya. ”Wis toh. Liburan uwis bbbar.”  wajahnya tampak sumeringah. ”Hayo kerja. Waktunya kerja lagi.”
 
Bunyi ’jeklek’ terdengar ketika Pak Mergy memutar kunci ruang kerjanya. Dipegangnya gagang pintu. Tapi tidak langsung didorong. Pak Mergy menggerak-gerakkan daun telinganya. ”Kalian masih disitu?” Katanya.
 
Orang-orang di kubikal masih bekerumun di tempatnya. Tak seorang pun beranjak. Meski sekarang Pak Mergy sudah membalikkan badannya ke arah mereka.
 
”Ada apa ini?” katanya.
Dengan malu-malu Fiancy memberanikan diri. ”Anu Pak... emmmh...” kedua tangannya melilit-lilit.
 
”Kamu ini ngomong apa?” Pak Mergy melotot.
”B-Bapak tahu darimana kalau Natin ditawari jadi Managing Director?” akhirnya...
 
Hlo!? Kok kalian malah tanya begitu?” Gantian Pak Mergy yang terserang sawan. Sekujur tubuhnya terguncang. ”Lha bukannya kalian sendiri yang kasih tahu saya kalau si Natin itu ditawari Pak Presiden Direktur untuk jadi Managing Director?!”
 
Semua orang di kubikal meringis. Nggak ada yang berani menatap wajah Pak Mergy.
”Kalian ini gimana sih!” Pak Mergy makin histeris. ”Kok ngasih informasi yang salah sama atasan gitu toh....”
 
Semua orang di kubikal ingin minta maaf. Tapi tak ada yang berani mengatakannya.
”Haddduuuuh..., haddduh.” Pak Mergy memukul-mukul kepalanya sendiri. ”Mau saya simpan dimana muka saya ini, hadduh.”
 
Orang-orang semakin merinding.
”Maaaalu saya sama Pak Presiden Direktur, hadddduoh. Masak Manager kok nggak bisa mbedain antara gossip sama fakta. Haddddduuuuuuoh....hohohooo.....”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tidak seorang pun menyangka jika kecerobohan mereka mengambil kesimpulan telah mengubah sebuah fakta menjadi gossip yang berbahaya.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa sebuah informasi tidak bisa ditelan mentah-mentah begitu saja. Harus diteliti dulu kebenarannya sebelum di blow-up hingga menjadi sebuah kehebohan.  Ternyata. Tidak semua hal yang kita dengar di kantor, benar-benar benar; seperti adanya bunyi yang kita dengar.
  
Catatan Kaki:
Kantor adalah pabrik penghasil rumor yang paling besar. Maka, belajarlah memilah setiap informasi yang Anda dengar.

Natin Memahami Karakter Pekerjaan

Gara-gara bangun telat. Semuanya jadi berantakan.
Meskipun sudah berusaha ngebut waktu di kamar mandi, tapi tetap saja nggak bisa menolong banyak. Akhirnya Opri terlambat tiba di kantor.
 
Mesin jeglegan pasti memberinya angka merah di lembar absesnsi. Dan si bongsor Sekri pasti nggak bisa melihat mukanya di kubikal. Nggak ada tempat untuk sembunyi. Nggak ada lokasi buat melarikan diri. Seisi kubikal pasti tahu kalau dia datang telat pagi ini.
 
Sungguh di luar dugaan. Belum ada orang di kubikal!
Puji Tuhan. Orang lain datang lebih telat lagi. Selamatlah sudah mukanya Opri. Dia bukan satu-satunya orang yang telat ngantor hari ini.
 
Segala sesuatu juga kalau dilakukan berjamaah mah pasti aman. Soal pekerjaan apa lagi. Kalau semua orang males. Nggak bakal kelihatan sama boss kalau orang-orang pada males. Keadaan jadi runyam kalau ada satu saja oknum yang sok rajin. Dia bisa membuat orang lain seperti keledai paling lelet di semua planet.
 
Opri menyalakan komputernya.
Mengecek voice mail kalau-kalau semalam atau tadi pagi sudah ada telepon yang masuk. Kosong. Nggak ada yang mesti di follow up. So, semuanya baik-baik saja.
Oooooh....., nyamannyaaaa hidup ini. Kerjaan ringan. Bayaran lumayan.
 
Lama kelamaan, Opri merasa heran sendiri. Kenapa sampai sekarang orang-orang nggak kunjung menunjukkan batang hidungnya? Apa iya mereka setelat itu? ”Aneh,” pikirnya.
 
Keganjilan itu mendorong Opri untuk bangkit dari kursinya. Lalu berdiri untuk menengok apa yang terjadi di kubikal lain.
 
Mak bedhudhu!
Semua komputer di kubikal lain sudah pada ’On’. Jadi, sedari tadi rupanya orang-orang di kubikal sudah pada datang! Tapi, pada kemana mereka?
 
Setengah panik Opri memencet-mencet keyboard gadgetnya; ”Pade dimane lu?” Lalu buru-buru menekan tombol ’send’.
 
Bunyi ’kling’ menandakan jawabannya sudah datang. ”Di pantry. Elo cepetan kesini deh!”
 
Hah? Di pantry? Ngapain mereka nongkrong di pantry selama itu? Biasanya kan cuman buat ngambil minum doang? Satu dua menit juga udah pada bubaran.

Opri sadar jika semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan pergi kesana. Maka dia pun melompat secepat kilat. Benar saja. Semua orang berkerumun di pantry.
 
Ngapain sih ini orang-orang? ”Minggir-minggir, gue mau masuk.” Diseruaknya kerumunan yang tak biasa itu. ”Ada apa-an sih ini?” sungutnya.
 
”Elo liat sendiri aja deh Pri,” jawab orang-orang.
Sesampai di garis paling depan, barulah Opri sadar apa yang sedang terjadi. Di pantry itu sekarang ada sebuah white board seukuran 80 cm x 120 cm. Tapi bukan kehadiran white borad baru itu yang bikin heboh. Melainkan tulisannya. Di white board baru itu tertulis begini:
Menu hari ini:
MEMAHAMI KARAKTER PEKERJAANMU
 
Hah? Ada-ada saja.
Mana Natin? Apa maksud dia menulis kalimat aneh semacam itu?  
Semua orang menggeleng. Sedari tadi mereka mencari-cari dimana Natin. Tapi tak seorang pun melihatnya.
 
Karena orang yang menulisnya tidak ditemukan, maka tidak ada yang bisa meminta klarifikasi darinya. Akhirnya, orang-orang mereka-reka sendiri apa maksudnya. Setiap orag di kubikal mempunyai sudut pandangnya masing-masing. Namun, setelah semua kepala menyampaikan pendapatnya; mereka sampai kepada kesepahaman yang sama.
 
Di kantor, biasanya mereka melihat pekerjaan orang lain lebih mudah atau lebih enak dari pekerjaannya sendiri. Orang kantoran menganggap kerjaan orang lapangan itu lebih enak. Bisa jalan-jalan terus. Dan nggak mesti nongol di kubikal tepat jam 8.
 
Sebaliknya. Orang lapangan bilang kerjaan orang kantoran itu terlalu enak. Nggak dikejar-kejar target. Nggak mesti panas-panasan. Nggak mesti dijemur dibawah terik matahari. Nggak bakal diomelin sama pelanggan. Nggak perlu kena debu polusi dan asap knalpot.
 
Orang IT yang ngurusin server mengeluhkan kalau pekerjaannya menuntut mereka kerja 24 jam sehari. Jam 2 pagi pun mereka harus segera meluncur ke kantor jika terjadi masalah dengan server. Orang enginering juga begitu.
 
Orang remittance sering ngomel karena jam kerja mereka lebih panjang dari karyawan lainnya di bank. Setelah orang-orang kubikal pulang. Mereka harus merangkum semua transaksi perbankan hari itu. Dan langsung mengirimkan laporannya ke Bank Indonesia.
 
Hanya Natin yang tidak pernah terdengar mengeluhkan pekerjaannya. Padahal, tak ada orang lain di kantor itu yang mau mengerjakan tugas-tugasnya. Kerjaan Office Boy emang nggak jauh beda dengan Babu. Menyedot debu di karpet. Mengepel lantai ruang meeting. Mencuci gelas dan piring. Membersihkan WC yang bau pesing.
 
Apa lagi di WC-nya para ladies. Tempat sampah sering berubah jadi penampungan roti tawar yang berwarna merah.
 
WC para gentlement nggak kalah bermasalah.
Udah ditulisin gede-gede: ”Kalau pipis, dudukan toiletnya diangkat!” Eeeeh... teteeeeeep aja itu muntahan burung-burung pada berceceran.
 
Siapa yang mau menggantikan kerjaan Natin? Nggak ada. Tapi. Kenapa nggak pernah sekalipun Natin terdengar mengeluhkan semuanya itu?
 
Orang-orang di kubikal mengerti sekarang. Natin. Nggak pernah mengeluh soal pekerjaannya. Karena dia. Sudah Memahami. Karakter Pekerjaannya.
 
Semua orang punya peran dan fungsinya masing-masing. So, nggak ada gunanya untuk saling iri kepada orang lain. Do your part. I’ll do mine. Itulah makna dari kebersamaan. Ketika setiap orang dikubikal menyelesaikan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Bisa dipastikan. Di kantor itu, semua hal berjalan lancar.
 
”Disini rupanya kalian bergerombol?” tiba-tiba suara Pak Mergy menyeruak. ”Kenapa? Sudah bosan kalian mengerumun di kubikal, eh?!” katanya. ”Hayo, kerja. Kerja. Kerja!!”
 
Semua orang berhamburan menuju ke kubikalnya masing-masing. Meninggalkan Pak Mergy sendirian di pantry itu. Saat sendiri itulah Pak Mergy bisa membaca tulisan di white board baru itu. Dia terenyuh membacanya. Ini adalah menu terbaik yang pernah disajikan oleh seorang Office Boy selama berpuluh-puluh tahun karirnya.
 
Dia senang semua orang di kubikal telah menyadari hal itu. Dan dia berharap; nggak ada lagi yang iri-irian pada pekerjaan orang lain. Malah sebaiknya, mereka saling menyokong. Dan saling menolong satu sama lain.
 
Pak Mergy masih tersenyum ketika melangkah keluar dari pantry. Sambil menenteng segelas kopi panas yang diseduhnya sendiri. Namun, ketika melintasi kubikal. Wajahnya mendadak terlihat sedih sekali. Lalu bibirnya mengucapkan beberapa kalimat yang memilukan hati.
 
”Seharusnya kalian juga memahami karakter pekerjaan saya.” katanya. ”Kalau saya sering marah-marah sama kalian, itu karena tuntutan pekerjaan saya. Bukan keinginan saya.....”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Kehidupan di kantor berjalan dengan warna-warninya tersendiri. Kadang kita senang pada teman. Kadang kita sebel juga pada mereka. Kadang kita rukun dengan atasan. Tapi, lebih sering berantemnya.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa pekerjaan kita, memiliki karakternya masing-masing. Maka memahami karakter pekerjaan itu penting. Agar kita nggak merasa kita sendiri yang kerja berat. Karena semua juga begitu. Dan agar kita. Bisa memahami. Kenapa orang lain berperilaku begini dan begitu. Mungkin. Pekerjaan mereka menuntutnya untuk begitu. 
 
Catatan Kaki:
Pahamilah karakter pekerjaan kita. Jika jiwa kita tidak cocok, ganti profesi aja. Bukannya mengeluh melulu.