Tampilkan postingan dengan label N#-dadang kadarusman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label N#-dadang kadarusman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Natin Menciptakan Tempat Kerja Yang Menyenangkan

Gubrak!
Sebungkus kacang disco menimpa meja Fiancy. Dia gagal menangkapnya ketika bungkusan itu masih melayang di udara. Musim hujan makanan telah tiba. Dari setiap pojok kubikal bisa saja tiba-biba terbang makanan kering. Apa lagi selepas liburan panjang seperti saat ini. Hari jumat tanggal merah. Bablas lagi liburan selama 3 hari. Makanan paling aneh pun bisa berdatangan entah dari mana asalnya.
 
Kehebohan memenuhi atmosfir kubikal. Semua orang terlihat senang. Tertawa dan berteriak girang. Hingga terlarut dalam kegembiraan yang mereka ciptakan.
 
Sebungkus lanting melayang diatas kepala orang-orang.
Lalu seseorang di ujung ruangan melompat untuk menangkapnya. Ketika bungkusan itu berhasil diraihnya. Semua orang bertepuk tangan.
 
Dari kubikal lainnya tiba-tiba saja ada bungkusan warna orange terbang. ”Tangkap,” teriak seseorang. Lalu orang lainnya melompat. Namun meleset. Lemparannya terlalu tinggi. Kemudian seseorang dibelakangnya berteriak. ”Yeeeeaaaa.... gue yang dapet!” Dia mendapatkan sebungkus keripik sanjay.
 
Beragam jenis makanan sudah beterbangan selama hampir sepuluh menit. Tidak lagi terhitung berapa bungkusan. Tidak lagi bisa diidentifikasi jenis makanan apa saja yang sudah dilemparkan orang-orang.
 
Gampang.
Kalau hanya mencari perusahaan yang mau membayar kita mahal. Banyak kok perusahaan bagus yang nggak pelit. UMR sudah bukan lagi pembahasan serius. Buat mereka berapapun nilai UMR yang ditentukan pemerintah nggak ngaruh apa-apa. Soalnya mereka sudah membayar jauh lebih tinggi dari itu.
 
Yang susah dicari itu adalah perusahaan yang kita merasa senang berkerja disana. Kebanyakan orang merasa gerah. Meskipun AC di setiap ruangan sampai bikin orang pada menggigil. Apa lagi kalau ada bule-nya disana. AC central pula. Semua orang lokal yang lebih suka hangat mesti pake baju tebal. DTG deh, pokoknya. Dingin Tapi Gerah.
 
Di kubikal. Orang-orang sangat beruntung.
Karena disana mereka merasakan suasana yang menyenangkan. Pendapatan? Yaaaa...., sedanglah. Tidak terlalu tinggi. Tidak juga rendah. Termasuk menengahlah. Tapi. Soal kegembiraan saat menjalani kehidupan kerja. Disinilah tempatnya. Makanya, orang jarang kabur. Malah ada yang balik lagi setelah hengkang beberapa bulan.
 
Apa sih yang membuat orang tidak betah di tempat kerja?
Uang. Mungkin. Gaji kecil. Pasti membuat orang terus mencari tempat kerja yang baru. Tapi. Setelah gaji memenuhi ukuran yang pantas. Ternyata banyak juga orang yang tetap hengkang. Kalau pun nggak sampai hengkang, mereka tidak merasakan nikmat dan lezatnya bekerja disana. Kantornya juga berasa seperti kuburan. Sepi. Dengan penghuni yang nggak saling sapa seperti para zombie.
 
Apa sih yang membuat orang-orang pada betah di kubikal?
Uang. Mungkin. Gaji lumayan. Jika pendapatan sudah pantes, paling tidak orang-orang tidak mengkhawatirkan urusan perut atau kebutuhan rumah tangga yang lainnya. Tenang dengan urusan rumah.
 
Tapi. Itu sama sekali tidak menjelaskan mengapa orang di kubikal lebih ceria dan terlihat bahagia dibandingkan dengan kentor sebelah yang bayarannya nggak kalah. Atau..., mungkin lebih tinggi. Jadi. Apa sebenarnya yang membuat orang suka bekerja di kubikal?
 
Sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis jika setiap penghuni kubikal harus membawa buah tangan unik yang mereka dapatkan ditempat liburan. Kemudian mereka memberikannya kepada orang lain di kubikal.
 
Cara mereka membagikan makanan itu pun nggak sembarangan. Nggak ada ceritanya tuch yang datang ke meja orang lain terus bilang;”Nih cobain deh oleh-oleh yang gue bawa...”
 
Nggak ada juga yang datang ke meja orang lain terus bilang;”Nyicipin dong makanan yang elo bawa.”
 
Nggak ada.
Yang ada adalah: mereka meberbangkan bungkusan makanan itu dari kubikalnya masing-masing. Lalu, siapapun boleh menangkapnya selagi makanan itu melayang diudara. Jadi. Sebenarnya mereka bukan sekedar membagikan makanan. Melainkan menciptakan kegembiraan. Itu adalah salah satu pemandangan yang bisa ditemukan di kubikal. Setiap Senin pagi.
 
Biar pun begitu. Ada aturan yang mereka terapkan. Misalnya. Hanya makanan kering yang boleh diterbangkan. Makanan basah disimpan di pantry untuk siapa saja yang menginginkannya.
 
Selain itu. Bobot makanan pun perlu diperhatikan. Kalau beratnya sepuluh kilo ya nggak boleh dilempar dong. Bisa bikin jontor muka orang kan?
 
Aturan mainnya sederhana. Tak seorang pun di kubikal yang boleh menyimpan makanan untuk dirinya sendiri. Mereka harus segera memberikan makanan miliknya. Atau yang didapatnya dari orang lain. Kepada orang lain lagi. Makanya. Semua orang pada sibuk menerbangkan. Dan menyambar bungkusan makanan yang melayang diudara.
 
Nggak heran jika dari setiap kubikal selalu ada makan yang terbang. Ditangkap oleh orang di kubikal lain. Lalu diterbangkan lagi menuju kubikal lainnya.
 
Hal itu berlangsung selama 15 menit. Hanya 15 menit. Nggak boleh lebih. Itulah aturan mainnya sesuai kesepakatan yang mereka sendiri tentukan. Setelah waktu 15 menit berakhir. Nggak ada lagi yang boleh menerbangkan makanan. Hanya tawa dan keceriaan saja yang bersisa.
 
Setelah itu. Mereka harus mendeklarasikan makanan apa saja yang diperolehnya. Kemudian. Mereka menikmatinya sebagai cemilan selama mengerjakan tugas-tugasnya disepanjang hari itu.
 
Keceriaan. Itulah yang bisa dengan mudah ditemukan di kubikal.
Kebersamaan. Itulah yang dibangun oleh mereka. Kegembiraan. Itulah yang mereka ciptakan. Kekeluargaan. Itu yang mereka buat bersama.
 
Di ruang kantor lainnya. Hal-hal semacam itu susah dicari. Keceriaan. Kebersamaan. Kegembiraan. Kekeluargaan. Sudah menjadi barang langka. Sementara mereka mencarinya. Mereka juga menyebut itu sebagai kegagalan perusahaan menciptakan tempat kerja yang menyenangkan.
 
The best place to work for. Begitu orang-orang menyebutnya dalam kalimat yang keren. Tempat terbaik untuk bekerja. Dulu orang mengira kalau tempat terbaik itu adalah yang memberikan bayaran paling tinggi. Sekarang. Paradigma itu sudah berubah 180 derajat.
 
The best place to work for itu telah berubah wajah menjadi sebuah tempat kerja dambaan para karyawan yang bisa memberikan suasana yang menyenangkan bagi setiap orang yang berada didalamnya.
 
Banyak juga perusahaan besar yang mengeluarkan investasi untuk menciptakan kantor seperti itu. Tapi mereka gagal. Tak sedikit juga yang sampai membentuk ’Task Force’ segala. Namun usaha mereka kandas. Bahkan banyak perusahaan papan atas yang menyewa konsultan management dengan bayaran ratusan juta. Hingga miliaran. Tapi ya itu. Ujung-ujungnya mereka cuman menghasilkan segepok dokumen yang nggak bisa diimplementasikan.
 
Dulu. Pak Presiden Direktur pun melakukan itu. Namun semua usaha itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya management memutuskan untuk fokus aja pada pekerjaan. Pokoknya pekerjaan selesai. Walhasil. Seperti di banyak perusahaan lainnya. Karyawan bekerja seperti robot. Datang – kerja – pulang. Begituuuuu aja setiap hari.
 
Gimana nggak boring tuch kerja kayak gitu?
Disaat semua orang boring itulah orang-orang menemukan keanehan. Ketika kembali ke kubikalnya masing-masing setelah istirahat siang. Semua orang mendapati gulungan kertas kecil di mejanya masing-masing. Kalau bukan kerjaan Natin, siapa lagi?
 
”Elo pade dapat gulungan kertas kayak gini, nggak?” Opri berteriak sambil mengangkat gulungan kertas itu.
 
”Iya. Gue dapat.” balas Fiancy.
”Gue juga.” Aiti nggak mau kalah.
Semua orang di kubikal mendapatkannya juga. Lalu tanpa diperintahkan siapapun mereka membukanya nyaris bersamaan. Lantas mereka membacanya keras-keras.
 
”Menuuuu hariiii ini!” teriak mereka. Menarik nafas panjang. Lalu membaca lagi:”Menciptakan,” kata mereka. ”Kegembiraanmu sendiri.” lanjutnya. Persis seperti anak SD yang sedang membaca ikrar siswa pada saat upacara bendera.
 
Oh. Menu hari ini yang disajikan Natin rupanya berbunyi; ”CIPTAKAN KEGEMBIRAANMU SENDIRI ”
 
Sejak saat itulah kemudian orang-orang di kubikal sadar; mengapa usaha managemen untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan selalu gagal. Karena seperti kata Natin. Kegembiraan di tempat kerja itu hanya bisa diciptakan oleh dirimu sendiri.
 
Maka jika ingin bekerja di perusahaan yang mempunyai predikat ’The Best Place To Work For”, tidak harus mencari-carinya. Tidak usah melamar kesana kemari. Tidak perlu mengintip perusahaan lain. Tapi. Ciptakanlah suasana yang menyenangkan di tempat kerjamu sendiri. Natin bilang; ”Ciptakanlah kegembiraanmu sendiri.....”
 
”Masih ada makanannya?” tiba-tiba saja Pak Mergy muncul. Tangan kiri dan kanannya menenteng bawaan dalam plaktik besar yang tertutup rapi.
 
Orang-orang di kubikal saling pandang. Mereka nggak ingat jika Pak Mergy belum kebagian oleh-oleh. Tapi mau bagaimana lagi. Nggak ada lagi bungkusan yang masih utuh. Semuanya sudah dibongkar.
 
”Yah. Sudahlah,” katanya. Meski terlihat tabah. Namun terasa sekali aura kekecewaan diwajahnya. ”Nggak ada yang ingat pada saya....” katanya.
 
Semua orang merasakan irisan kecil didalam hatinya. Nyeseeeel banget kenapa sampai lupa pada Pak Mergy. Seandainya saja ada satu bungkus yang masih utuh. Pasti mereka tidak perlu terlalu malu.
 
”Setidaknya, adaaaa gitu ya orang yang tergerak hatinya untuk membantu meringankan beban saya,” Pak Mergy meringis seolah menahan beban berat di kiri dan kanan bawaannya.
 
”Oke Pak, kami bantu. Kami bantu...” orang-orang serempak tergopoh. Lumayan. Bisa menjadi penebus dosa atas lupa mereka. Semua orang pun berebut mengangkat kantong plastik besar yang dibawa Pak Mergy. Tapi karena semua orang pada berebutan, akibatnya sungguh diluar dugaan.
 
Wadah barang bawaan Pak Mergy robek, hingga semua isinya jatuh berserakan!
O-o..... Semua orang menutup wajahnya masing-masing. Nggak kuasa memandang tampang Pak Mergy.
 
”Ya ampuuuuuuunnnnnn....” teriak Pak Mergy. Nyaris histeris.
 
Mereka hanya berani mengintip dari sela-sela jemari tangan. Ada berbagai bungkusan makanan kering yang berserakan. Mungkin semuanya itu akan dipaketkan oleh Pak Mergy untuk keluarganya di kampung. Mereka hanya bisa membayangkan betapa marah Pak Mergy atas ulah mereka yang doyan bikin rusuh itu. Meskipun niat mereka untuk membantu. Sekarang. Mereka hanya bisa pasrah.
 
”Baiklah anak-anak,” lanjut Pak Mergy. Semua telinga pasrah. Mau terima omelan apa saja. ”Semua makanan ini saya bawa untuk kalian......”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
“Sekarang kita nikmati bersama-sama ya…..” sambung Pak Mergy. Semua orang senang alang kepalang. Mereka mengerubuti Pak Mergy. Sambil melompat-lompat mengelu-elukannya.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari betapa indahnya ketika kegembiraan dan kebersamaan itu bisa dibangun bukan hanya dengan sesama kolega. Tetapi juga bersama atasan dan bawahan. Mereka semakin tahu sekarang. Bahwa tempat terbaik untuk bekerja itu bukanlah tempat yang harus dibangun oleh managemen. Atau dicari-cari di lokasi lain. Melainkan tempat yang bisa diciptakan oleh kita sendiri. Disini. Kata Natin. Ciptakan kegembiraanmu sendiri……disini.
 
Catatan Kaki:
Nggak ada perusahaan yang bisa menciptakan ”The Best Place To Work For” tanpa keterlibatan karyawannya secara langsung.
 

Kamis, 19 Juli 2012

Natin #45: Karyawan Yang Adil

RC! itu adalah singkatan dari Red Code!
Artinya sama seperti lampu merah untuk memperingatkan sesuatu yang sangat penting sekali. Jadi, kalau orang-orang di kubikal mengirim pesan lalu di kasih tanda RC! berarti keadaannya ‘gawat sekali’, dan mesti segera bertindak sebagaimana mestinya. Makanya begitu menerima pesan dari Fiancy itu, Aiti langsung mencari-cari semua temannya yang tadi pada turun makan siang bareng-bareng.
 
Masalahnya, dia sekarang nggak tahu mereka berada dimana. Nggak jelas gitu deh pokoknya. Awalnya sih tadi pada ngumpul di kios yang sama. Tapi namanya keasyikan nawar dan nyobain ini itu, semuanya pada nggak nyadar sudah berseliweran kemana-mana. Gilanya lagi, suasana disitu ribut banget sampai-sampai mereka nggak bisa mendengar bunyi handhone yang mendering-dering. Walhasil, Aiti mesti nyari teman-temannya dari satu kios ke kios lainnya.
 
Didepan kantor ada sebuah jalan kecil. Sebenarnya jalan itu nggak terlalu kecil sih. Cukup besar untuk dilintasi dua mobil tanpa harus gantian salah satunya mesti berhenti saat kedua mobil itu sedang berpapasan. Masalahnya disepanjang jalan itu sekarang sudah dipenuhi dengan kios-kios di kedua sisinya. Apalgi di tanggal gajian, orang yang jualan itu makin bejibun. Makanya, mobil sudah tidak lagi bisa leluasa melintasinya. Padahal, itu adalah jalan alternatif untuk menghindari 3 in 1. Apalagi kalau pas jam makan siang. Jalan itu sama sekali nggak bisa dilintasi. Kecuali sama orang yang nekat atau tersesat.
 
Ada ribuan manusia yang memadati jalan itu setiap kali jam makan siang tiba. Bayangkan aja. Di lingkungan itu ada 3 tower gedung perkantoran. Masing-masing tingginya mencapai 30 lantai. Bahkan ada yang sampai lebih dari 50 lantai. Semua orang pada sembunyi di kantornya masing-masing sambil pada manyun didepan komputer dan kertas kerjanya. Tapi pada jam makan siang, tiba-tiba saja semuanya pada berhamburan keluar seperti tawon yang lagi panik karena sarangnya di penuhi asap oleh para pemburu madu. Makanya tidak heran kalau mulai dari jam 11.30  sampai jam 13.30 suasana di jalan itu jadi sangat berisik sekali.
 
Ngomong-ngomong, dari jam 11.30 sampai jam 13.30? Apa nggak salah ya? Enak banget kerja di Jakarta. Jam istirahat makan siangnya kok sampai selama itu ya? Nggak juga sih. Sebenarnya jam makan siang itu sama aja kok. Dari jam 12.00 sampai jam 13.00. Nggak tahu deh, kenyataannya ada aja tuch orang-orang yang sudah pada berhamburan keluar dari kantornya sejak jam setengah dua belasan. Mungkin asap di kantor sudah mengepul duluan kali ya. Makanya tawon-tawon itu sudah pada berhamburan sebelum waktunya.
 
Di jalan sempit itu banyak pilihan makanan. Dari mulai gado-gado, sate, ketoprak, sampai yang aneh-aneh. Tapi semuanya murah. Makanan rakyat banget deh pokoknya. Kalaupun cuman punya uang empat ribu rupiah, masih bisa makan kenyang. Masuk aja ke warung padang. Minta nasi putih satu setengah. Terus diguyur dengan berbagai macam kuah. Pakai sayur. Bumbu rending. Kerupuk. Dapet deh duh makan enak banget sampai kenyang. Kalau punya 5 ribu, bisa beli ketoprak atau gado-gado. Air minum sih sudah mereka sediakan.
 
Selesai makan, biasanya orang-orang nggak langsung balik ke kantornya. Tapi jalan-jalan dulu sambil sesekali berhenti di kios-kios kecil yang menjual bagi anak. Asesoris hand phone. Atau penjual VCD bajakan. Lumayan loh, disana semuanya dijual dengan harga miring. Termasuk sepatu dan jam tangan merek terkenal yang bedanya bisa sampai ratusan ribu dibandingkan dengan toko. Yang bikin lama, bukan membelinya. Tapi proses tawar menawarnya. Biar harga cuman beda 500 perak, tapi kan lumayan juga. Apa lagi kalau baru gajian seperti saat ini. Lumayanlah bisa beli filem baru buat iseng-iseng nonton di rumah.
 
Kalau Ibu-ibu sih biasanya beliin baju atau kaos buat anak-anak. Mestinya sih emang jadi tanggungjawab Bapaknya untuk beli keperluan anak-anak. Tapi kalau ngarepin bapaknya beli baju anak-anaknya kayaknya sih mesti nunggu berabad-abad lamanya biar kejadian. Ada aja alasan yang dikatakan Bapaknya. Baju yang lama masih baguslah. Lemari udah kepenuhan lah. Anak-anak nggak boleh dimanjakanlah. Pokoknya semua alasan ada. Mendingan langsung aja beliin dari gaji sendiri. Buat anak sendiri ini. Sekalian mengkompensasi karena setiap hari mereka jarang ketemu ibunya. Ntar kalau mereka merengek kan bisa bilang;”Mama kerja kan biar bisa beli baju kamu sayang….” Makanya. Anak-anak pun jadi matre.
 
Emang sih, orang bilang cewek-cewek yang paling doyan menawar. Tapi khusus di sepanjang jalan itu, nggak berlaku begitu. Mau cewek atau cowok, sama-sama lama kalau tawar menawar. Bedanya, kalau cewek menawar dengan berbagai macam harga. Misalnya, kalau penjualnya bilang 50 rebu. Maka cewek-cewek itu bakal nawar mulai dari 5 rebu. Naik jadi 7 rebu. Naik lagi ke 9 rebu. Terus begitu sampai diangka tertinggi penawaran yang mereka yakin penjualnya nggak bisa turun lagi.
 
Kadang-kadang, nawar juga nggak pake niat buat ngebeli. Terutama untuk barang-barang yang mahal dan bermerek. Terus aja tawar harganya serendah mungkin. Naikin sedikit-sedikit tapi jangan sampai terlalu dekat dengan harga terendahnya pedagang. Soalnya, kadang-kadang ada pedagang yang bilang; “Ya udah deh Mbak, ambil. Penglaris….”
 
Repot tuch kalau sampai begitu. Jadi susah mengelak. Makanya, orang-orang itu menggunakan taktik ‘harga mustahil’. Caranya gampang kok. Mereka memperkirakan  harga penawaran yang pastinya pedagang nggak bakal mau kasih. Nah, sambil nawar-nawar dengan harga yang nggak mungkin itu mereka bisa mencoba barang yang ditawarnya  berkali-kali. Setelah puas. Dilepas lagi. Terus dibalikin deh.
 
Kalau cowok, begini cara mereka menawar: “dua puluh lima rebu aja ya?!”
Pedagangnya pasti bilang;”Waah, nggak bisa mas. Modalnya aja nggak bisa segitu.”
Cowok itu terus bilang gini: “Ya udah… sini saya cobain dulu …”
 
Nah setelah mencoba-coba itu, dia berjalan mondar mandir. Tapi sama sekali dia nggak menawar lagi. Cuman mukanya aja yang seperti sedang menghitung-hitung. Padahal biasanya nggak pernah bisa ngitung kalau nggak pake kalkulator. Setelah dua puluh menit merasakan barang bermerek itu dia mencopotnya, lalu mengembalikannya kepada pedagang. “Ada model yang lain nggak?”
 
Pedagangnya bilang;”Nggak ada lagi, Mas. Kalau mau nanti saya ambilkan dulu di gudang..”
“Nggak usah deh kalau gitu. Lain kali aja….” Nah, artinya lain kali itu sama dengan ‘gue ngabur dulu, ya…’
 
“Pake yang ini aja Mas, modelnya pas banget loh sama Mas,” kata pedagang itu. Namanya juga pedagang pastinya tahu aja gimana caranya meyakinkan calon pembeli kalau barangnya paling pas.
 
Tapi, sejago apapun pedagangnya nggak bakalan bisa membuat calon pembelinya beneran beli kalau niatnya emang cuman pengen nyobain aja. Nggak lebih dari itu. Kalau sampai beli sih bukannya nggak kepengen. Tapi kan budgetnya nggak ada buat beli sampai seharga itu. Mendingan sekalian nungguin diskon di toko sampai 70% terus dibeli pake kartu kridit yang bisa dicicil sampai 12 bulan. Kalau belon diskon, ya sabar aja kali. Sambil nyobain di pinggir jalan itu untuk menghibur diri.
 
Ditengah hiruk pikuk itulah gadget Aiti tiba-tiba bunyi. Ada ping dari Fiancy. “Elo pade sebaiknya cepetan balik deh. RC!”
 
Karena ada kode RC!-nya, Aiti langsung meletakkan barang yang tadi lagi ditawarnya. Lalu melihat kekiri dan kekanan. Mencari teman-temannya yang tak lagi berada pada posisi awal ketika mereka masuk ke kios itu. Semuanya sudah pada bertebaran seperti tikus-tikus yang tersesat di labirin penuh keju yang tidak bisa dibelinya.
 
Nggak seorang pun yang menjawab teleponnya. Suara ribuan orang yang sedang mabuk hari gajian itu membuat dering telepon mustahil untuk bisa didengar. Makanya tidak ada pilihan lain buat Aiti selain menyusuri kios itu satu persatu. Usahanya tidak sia-sia. Beberapa temannya sudah berhasil ditemukan nyempil diantara gerombolan orang-orang yang sedang pada rebutan belanjaan. Setelah semuanya berkumbul, lalu mereka bergegas kembali ke kubikal.
 
“Sebentar dulu…” bisik Aiti. “Ada yang kurang,” katanya.
Semuanya temannya terdiam, sambil memikirkan apanya yang kurang. Tiba-tiba saja mereka menyadari kalau masih ada satu lagi teman yang belum ditemukan. Gawat kalau sampai dia nggak mengetahui sedang ada RC di kubikal. Apalagi ketika Fiancy kembali mengirim pesan agar mereka secepatnya balik ke kubikal. Mereka sekali lagi berpikir; apanya ya yang kurang?
“OPRI!” teriak semua orang.
Benar. Ternyata mereka hampir saja melupakan gadis tomboy itu. Mereka mengerti kalau mesti segera balik ke kubikal. Tapi mereka tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian mengambil resiko RC! yang sudah diperingatkan Fiancy.
 
Untuk menyingkat waktu, akhirnya mereka membagi tugas untuk menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Namun ketemu atau tidak, semuanya mesti kembali ke tempat itu dalam waktu 10 menit. Dan selama pencarian itu semuanya mesti fokus kepada gadget. Kalau sudah ketemu langsung kaish tahu teman-teman biar nggak buang waktu.
 
Paling asik kalau bisa terbang seperti capung. Bisa melihat dengan jelas dari atas. Bagaimana mereka berkerumum, rapat sebentar. Lalu menyebar. Capung itu hanya bisa melihat kepala mereka menyelinap diantara ribuan kepala lainnya yang sedang demam belanja hari gajian. Sesekali kepala itu menghilang dibawah atap kios dadakan yang terbuat dari parasut. Kemudian kepala-kepala itu keluar lagi. Lalu sembunyi lagi di kois sebelahnya lagi. Hanya satelit mata-mata Amerika yang bisa menyaingi pemandangan yang di lihat oleh capung itu.
 
Sudah delapan setengah menit. Nggak seorang pun yang mengirim pesan kalau Opri sudah ditemukan. Di menit ke-9 gadget semua orang berbunyi. Aiti yang mengirim pesan itu. Mereka lega mendengarnya. Artinya Opri sudah ditemukan. Makanya mereka semangat sekali untuk langsung membacanya. Sayang, beritanya tidak seperti yang mereka harapkan. “Waktu sudah habis,” begitu isi pesan dari Aiti. “Kita balik ke titik pertemuan…..”
 
Sesaat kemudian capung itu melihat kepala-kepala yang berlarian menuju ke satu titik yang sama. Dan secara bersamaan pula, mereka sampai di titik itu. Karena waktunya tidak banyak, mereka pun sepakat untuk mengirim pesan ke Opri sekali lagi. Siapa tahu dia bisa segera membacanya untuk segera kembali ke kubikal karena ada Red Code!
 
Kira-kira 5 menit kemudian, mereka tiba di lobby gedung perkantoran. Disana ada sofa dimana orang-orang bisa bersosialisasi. Bunga angrek warna warni. Dan pewangi ruangan yang menyegarkan. Udara sejuk langsung membelai lembut wajah mereka yang memerah karena terpapar matahari Jakarta. Kalau direkam dalam filem gerak lambat kelihatan banget ketika rambut mereka bergoyang ditiup angin yang berhembus dari AC besar yang terdapat di setiap sudut ruangan.  Dalam filem lambat itu juga kelihatan wajah mereka yang berubah menjadi lebih segar menikmati kesejukan yang tiada tara. Untuk beberapa detik, mereka bisa melupakan konsekuensi dalam RC! yang dikirim fiancy.
 
Filem slow motion itu sepertinya telah membuat waktu berjalan lebih lambat sehingga mereka bisa benar-benar menimati saat-saat menyegarkan itu selama mungkin. Kibasan rambut tertiup angin, gerakan tangan yang beriringan dengan kaki mereka, pergantian posisi tubuh, semuanya semakin melambat. Seolah-olah semua orang bisa melihat setiap 1 per sejuta detik yang mereka lalui. Saking melambatnya, mereka hampir berhenti!
 
O-ow. Sebentar dulu.
Sekarang mereka benar-benar berhenti. Nggak ada lagi adegan dalam film slow motion itu. Mereka berdiri seperti patung. Sedangkan tatapan mata mereka mengarah kepada satu titik yang sama. Opri!
 
Rupanya dia sudah berada di lobby lebih dulu. Sedang asyik-asyiknya bertengger di sofa. Mestinya mereka lega telah berhasil menemukan orang yang dicari-carinya. Tapi mereka sama sekali nggak merasa lega. Mereka merasa kesal. Bukan karena orang itu telah membuat mereka kalang kabut terpanggang udara siang bolong Jakarta. Mereka justru kesal karena ternyata di sofa itu Opri sedang bersama…. Voldy!
 
Dalam diam itu mereka menyaksikan dengan mata kepada sendiri kalau kedua sejoli itu sedang berbicang asik sambil sesekali diselingi tawa lepas. Dasar ya cewek centil itu. Ngakunya nggak ada hati sama Voldy. Eh, malah dia membiarkan teman-temannya sampai keringetan. Sementara dia sendiri enak-enakan kencan.
 
Aiti dan teman-temannya memutuskan untuk nyuekin Opri. Lalu mereka langsung menuju ke lift. Tapi mereka balik lagi. Rasanya tidak adil kalau membiarkan Opri ketinggal RC! Selain itu, mereka juga merasa perlu membalas kesusahan selama ini dengan menghentikan pembicaraan romantis itu.
 
“Oooh, jadi elo disini Pri….” Aiti sengaja menggunakan intonasi dengan nada agak menyindir.

Opri langsung terperanjat mendapati teman-teman sudah pada berjejer dihadapan mereka berdua. Secara sepontan Opri menggeser posisi duduknya sehingga jaraknya dengan Voldy jadi lebih menjauh.
 
“Mmmh… ini… ini nggak seperti dugaan elo….” Baru sekali itu mereka melihat pipi Opri merah. Sebelumnya. Sama sekali nggak pernah semerah itu.
 
Aiti langsung menarik tangannya; “Elo mesti menjelaskan soal itu nanti!” katanya. “Sekarang kita punya RC!” katanya lagi. Lalu mereka bergegas menuju ke lift yang sedari tadi sudah menganga.
 
Ketika tengah diseret teman-temannya itu Opri masih sempat melirik ke arah Voldy. Dia hanya melihat cowok itu mengangkat bahu dengan mimic wajahnya yang agak kecewa. Tapi Opri tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pikirannya terlalu sibuk untuk membuat alasan yang tepat buat teman-temannya. Sekarang dia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
 
Di kubikal, Fiancy sudah menunggu dengan gelisah.”Hiiih! Gimana sih elo pade? Lama amat!”
 
Semua gadis itu tidak menjawab. Hanya mengangkat tangan kanan mereka lalu mengarahkan telunjuknya ke wajah Opri. Orang yang ditunjuk itu mengkerut. Sepertinya badanya mengecil hingga tersisa tinggal 10 %nya saja.
 
“Gue nggak punya waktu buat dengerin alasan elo,” hardik Fiancy.
“Emangnya ada apa-an sih?” balas Aiti. Dia yang merasa ketiban tanggungjawab besar untuk mengumpulkan semua orang di tengah keramaian ribuan karyawan yang ikhlas untuk langsung miskin lagi setelah selama sehari punya duit. Mereka ikhlas, kalau besok sudah harus bokek lagi.  
 
“Elo lihat aja di meja masing-masing.” jawab Fiancy.
Mereka pun segera berhamburan. Kemudian mendapat sehelai kertas di mejanya. Diatas kertas itu ada tulisan dengan stabilo merah “Jangan disentuh! Dibaca saja!” Larangan itu tidak separah pesannya berikutnya. Di kertas itu tertulis begini:
 
Mulai bulan depan, gaji setiap orang akan dipotong secara pro-rata sesuai jumlah jam kerja yang disia-siakannya……”
 
Tiba-tiba saja mereka merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Nggak nyangka kalau management memutuskan sampai sejauh itu. Tanpa bertanya pun mereka sudah mengerti apa maksudnya. Selama ini, jam makan siang mereka sering molor sampai dua kali lipat. Aturan jam 12.00 sampai jam 13.00. Tapi mereka sering telat balik lagi. Dan sering juga perginya lebih pagi lagi.
 
Mereka terdiam diantara sesal dan kesal. Menyesal karena terlena dengan kenikmatan-kenikmatan yang menyebabkan mereka lupa pada amanah dalam pekerjaannya. Mereka juga kesal, karena pendapatan mereka bisa berkurang. Mereka nggak mau terima keputusan itu, tapi bagaimana cara memprotesnya. Jangankan mengajukan keberatan kepada management. Menyentuh kertas itu saja dilarang!
 
Akhirnya mereka cuman mengomel sambil pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Semua orang tepaku di depan mejanya masing-masing. Berdiri seolah sedang menunduk. Ada yang menangis. Ada yang memejamkan matanya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bekerja juga tidak bisa karena meja kerja mereka terhalang oleh kertas keputusan pemotongan gaji yang tidak boleh disentuh itu. Mereka hanya bisa diam terpaku seperti anak sekolahan yang sedang di setrap berdiri 2 jam oleh gurunya.
 
Tiba-tiba luang AC mengeluarkan angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya. Udara dingin langsung menyembur ke sekujur tubuh yang hanya berdiri terpaku itu. Semakin lama hembusan angin AC itu semakin membesar sehingga bisa meniup kertas di atas meja mereka hingga bergerak-gerak. Lalu…. Kertas yang tidak boleh disentuh itu beterbangan.
 
“Sssshhhh… ini kenapa sih AC nya kok jadi gini?” hati semua orang dipenuhi oleh pertanyaan yang sama. Seperti doa, bisikan hati mereka menghentikan keanehan AC secara serta merta. Membuat kertas yang beterbangan itu kehilangan tenaga. Setelah beberapa kali salto di udara, semua kertas itu pun kembali mendarat diatas meja mereka. Namun sekarang, dalam posisi yang terbalik.
 
Semua orang di kubikal tidak lagi bisa membaca keputusan pengurangan gaji itu. Sebagai gantinya, mereka melihat pesan Natin ini:
 
TIDAK ADIL JIKA GAJI DI KURANGI
TIDAK ADIL JUGA JIKA JAM KERJA DISIA-SIAKAN
 
Tidak perlu seseorang untuk menceramahi. Mereka mengakui jika selama ini sering sekali menyia-nyiakan jam kerja ketika meninggalkan kantor untuk makan siang. Bukannya mereka tidak mengerti soal aturan. Tetapi mereka sering terlena. Dan karena sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Mereka merasa hal itu sebagai sebuah kelaziman. Apalagi kalau melihat orang lain juga melakukan hal yang sama.
 
Mereka menyadari jika selama ini telah berbuat tidak adil kepada perusahaan. Mereka menuntut lebih banyak dari perusahaan. Namun mereka sering tanpa sadar mengurangi jumlah pelayanannya yang mestinya mereka berikan. Mereka marah ketika gajinya dipotong. Tapi mereka nggak merasa salah jika mengurangi jam kerja dengan melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan pekerjaan.
 
Mereka terus merenungkan kejadian itu hingga seseorang berceloteh.  “Kalian sedang mengheningkan cipta?” katanya. “Kayak upacara bendera sekolahan aja….”  
 
“Baca dulu pesan diatas meja Bapak,” jawab Opri. “Baru bicara lagi…” tambahnya.
 
Pak Mergy yang penasaran buru-buru berlari ke ruang kerjanya. Hatinya menangkap aura yang mencekam sedang terjadi disitu. Ketika mendapati pesan dalam selembar kertas itu. Beliau terkejut dan langsung berteriak;”Alamak…. Kalau gaji saya dipotong gimana saya bayar cicilan kartu kredit?”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…....  
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa ada hak yang sama diantara karyawan dan perusahaan. Pastinya perusahaan wajib memberikan seluruh hak karyawan. Baik yang diatur dalam undang-undang ketenaga kerjaan, norma yang berlaku, maupun kesepakatan lainnya yang dibuat dalam perjanjian kerja. Sebaliknya. Karyawan juga wajib menunaikan semua tugas, pekerjaan dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
 
Bayangkan ketika belanja sekilo telur. Kita sudah membayar sesuai harga yang disepakati. Tapi tukang telur itu mengurangi timbangannya. Tentu kita nggak bakal seneng. Gaji kita juga seperti itu loh. Perusahaan sudah membayar sesuai kesepakatan. Kalau kita mengurangi jam kerja seperti itu, kita jadi mirip dengan penjual telur yang mengurangi timbangan. Belum lagi kalau ngomongin soal dosa.  Ngeri. Takut Tuhan marahin kita karena timbangan yang dikurangi itu. 
Catatan Kaki:
Jika perusahaan wajib membayar kita secara penuh, maka kita wajib memberikan takaran penuh melalui penggunaan jam kerja dengan sebaik-baiknya.

Natin #46: Jebakan Keberlimpahan

Hari itu keadaan di kantor berjalan normal-normal saja. Setidak-tidaknya dari pagi sampai jam sepuluh lewat lima belas menit. Semua orang masih pada sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka fokus, sehingga pekerjaannya bisa lebih cepat selesai dengan akurat. Kalau nggak fokus, pekerjaan malah jadi semakin lama menyelesaikannya. Bisa sih selesai cepat. Tapi sering ada kesalahan. Jadinya ya mesti diulang lagi. Nah. Urusan mengulang pekerjaan itu yang paling nyebelin. Bisa lebih sulit daripada ngerjain dari awal, loh. Belum lagi kalau sampai dimarahin orang lain karena kesalahan itu. Pokoknya kalau lagi kerja, bagusan fokus deh.
 
Orang-orang di kubikal juga bukannya nggak mau putus komunikasi dengan teman-teman semuanya. Tapi mereka rela menunda keinginan itu demi kelancaran pekerjaan Kan mereka berada disitu karena perusahaan sudah baik hati memberi kesempatan. Kalau nggak? Mana bisa mereka bertengger di kubikal? Pastinya mereka nggak bakal dibolehin masuk, kan? Kayaknya nggak pantes banget kalau kita membalas kebaikan perusahaan dengan kerja asal-asalan. Bukan asal-asalan sih, tapi konsentrasi terdistraksi oleh kecanggihan gadget komunikasi.
 
Bayangin aja. Itu gadget nggak pernah berhenti berbunyi. Kalau diikutin terus pastinya udah merusak semua hal. Hidup kita jadi terkooptasi oleh benda kecil yang bawelnya melebihi mak lampir itu. Pengaruhnya juga lebih kuat daripada nenek sihir. Setiap bunyinya bagaikan mantra yang menyebabkan pemiliknya terhipnotis. Begitu ada bunyi ’durirang’ dia langsung berhenti dari aktivitas apapun. Gatel kalau nggak langsung membanca pesan-pesan yang datang meski sama sekali nggak penting sekalipun.
 
Sejak selalu diingatkan oleh Natin, keadaan di kubikal jauh lebih baik dari sebelumnya. Boleh dibilang nggak ada lagi yang mainin gadget komunikasi itu di jam kerja. Soal ini emang mesti kompakan. Kalau ada satu orang aja yang ngaco, bisa bahaya. Semua orang kan bukan malaikat. Kalau digoda oleh suara durirang dari ping seseorang pasti konsentrasinya buyar. Jika itu tidak penting-penting amat, nggak usah mainin gadget selama jam kerja. Nanti aja disaat istirahat.
 
Selain itu, hari ini semua orang di kubikal punya agenda yang sangat penting. Yaitu meminta penjelasan Opri soal kejadian di sofa lobby kemarin. Bagaimanapun juga Opri wajib memberikan klarifikasi soal hubungannya dengan Voldy. Bukan apa-apa sih. Tapi kan selama ini mereka kelihatannya sama sekali nggak ada kecocokan. Apa lagi Opri yang diragukan kalau dia memiliki hormone estrogen. Soal kepergok kemarin itu, semua orang di kubikal akan bersidang setelah semua pekerjaan mereka selesaikan.
 
Makanya, sekarang semuanya pada fokus biar bisa menyelesaikan pekerjaan secepatnya dan seakuratnya. Jangan sampai pas sidang nanti ada interupsi karena ada pekerjaan yang mesti di perbaiki. Ketika setiap orang sedang tenggelam dalam kesibukannya masing-masing itu, tiba-tiba saja ‘pet!’. Listrik mati.
 
Tahu nggak sih, baru sekali itu listrik mati di kubikal. Baru sekali itu juga orang-orang mengalami seperti apa gelap berada didalam sebuah gedung perkantoran bertingkat yang nggak pake listrik. Meskipun itu siang hari bolong, tapi keadaannya seperti di tengah hutan belantara dibawah langit kelam tanpa bintang. Telunjuk sendiri pun nggak kelihatan.
 
Kalau di ruang bos-bos dan para manager sih masih mending. Soalnya ada cahaya matahari yang menerobos lewat jendela kaca. Secara kubikal kan berada di bagian tengah. Makanya nggak ada seberkas cahaya pun yang bisa lolos sampai kesitu. Cuman ada suara-suara sofran yang panik aja yang bisa kedengaran. Teriaknya macam-macam. Ada yang mengomeli PLN. Ada juga yang terpaksa menempel ditembok sambil menahan nafas dengan butiran-butiran keringat berjatuhan soalnya ketika listrik mati dia sedang berada dalam perjalanan menuju ke toilet.
 
“Tenang, tenang….” Sebuah suara terdengar nyaring. Semua orang juga tahu kalau itu Opri. “Jangan panik,” katanya. “Sebentar lagi genset dihidupkan kok….”
 
“Yaaa… kirain elo mau melakukan confession, Pri…” balas seseorang. Pasti Aiti.
“Apaa-an sih?” hardik Opri. Dia berpura-pura tidak mengerti.
“Eh, elo jangan kira bisa bebas begitu aja ya…?” Aiti nggak kalah gertak.
 
“Iiih… sudah dong kalian jangan ribut aja…haduuh gimana nih… mana sih kok gensetnya nggak nyala-nyala…..” Suara Jeanice terasa gemetar. Dia paling takut sama gelap. Nggak sampai fobi sih, ngakunya. Cuman nggak nyaman aja kalau berada di lingkungan yang sama sekali nggak ada cahayanya. Kalau tiba-tiba ada hantu gimana? Kalau ada kecoa yang merayap gimana? Kalau ada paku keinjek gimana. Dia terus nyerocos nggak jelas gitu. Biar pun begitu dia tetap nggak merasa kalau dirinya itu terkena nyctophobia.
 
“Tenang aja Jean, bentar lagi gensetnya pasti nyala..” Opri menghiburnya. Tapi mau gimana lagi, mereka nggak bisa saling mendekat karena sama sekali nggak bisa ngelihat apapun. Kalau bergerak juga malah beresiko kejedot meja atau benda-benda lainnya.
 
Mereka sudah hampir sepuluh menit menunggu. Tapi tidak ada tanda-tanda listrik akan menyala. Sekarang kegelisahan mereka semikin menjadi-jadi.
 
“Cari Natin dong… siapa tahu dia menyimpan senter atau apa kek….” Teriak Fiancy.
“Dia juga sama nggak bisa ngeliat apa-apa Fi…” balas Aiti.
“Setidaknya kan bisa dicoba dulu Ti, emangnya elo mau nunggu sampai kapan?” sengit Fiancy.
“Lha terus yang mau nyari Natin siapa?” tukas Aiti. “Boro-boro nyari orang lain. Telunjuk elo sendiri aja kan nggak keliatan Fi…”
 
“Haah, susah amat sih. NAAAATIIIIIIIIN!” suara Fiancy langsung menggema di seluruh pojok kubikal.
 
Nggak ada jawaban.
Fiancy sekali lagi berteriak. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Tapi. Juga nggak ada jawaban. Hening sesaat. Dan seterusnya.
 
“Mungkin elo mesti memanggilnya dengan mesra kali Fi…” sindir Aiti. Sedari tadi dia sudah mengingatkan kalau itu nggak akan ada artinya.
“Maksud elo apa?” hardik Fiancy.
 
Untuk sesaat kemudian, suasana senyap di kubikal tergantikan oleh percekcokan kedua cewek  yang saling menyindir itu. Maklum, kedua cewek itu dicurigai sama-sama punya hati sama Natin. Tapi nggak ada yang berani mengakui. Atau, mungkin juga mereka masih ragu apakah Natin bisa membuat masa depan mereka serba berkecukupan. Meskipun bijaksana dan banyak ilmu, tapi kalau profesinya hanya jadi office boy; kan mereka juga mikirin gimana kebutuhan hidup mereka kelak akan tercukupi. Atau…, mungkin mereka menunggu Natin yang duluan nembak. Masalahnya. Natin bakal nembak siapa?
 
Buat Jeanice keributan itu menjadi hiburan yang berguna sekali. Dia jadi yakin kalau dirinya tidak sendirian diruang gelap itu. Hatinya merasa tenteram setiap kali ada suara atau tanda-tanda keberadaan orang lain disekitarnya. Jadi, meskipun geli mendengarkan keributan yang ditimbulkan oleh kedua cewek itu, dia sama sekali nggak berminat untuk menghentikannya. Dia malah berharap keributan itu terus berlangsung sampai listrik menyala lagi.
 
“Ada yang punya lilin nggak?” Suara Sekris terdengar menyeruak ditengah keributan itu.
“Elo jangan ngomong yang nggak-nggak ya Kris!” Fiancy dan Aiti langsung membentaknya. Kayaknya suara Sekris mengganggu perdebatan seru mereka soal Natin.
 
“Lagian Sekris, lagi gelap-gelap gini kok yang dicari lilin sih…” celetuk Mrs. X. “Nggak enak pake lilin, lagi.. hihi….” Cekikiknya.
“Hush! Kamu itu ya X!,” Mbak Aster menimpali. “Jangan ngomongin yang tujuh belas tahun keatas sama mereka dong X…” tambahnya. “Mereka kan belum tahu kalau gelap-gelap itu enaknya ngapain…hihi….”
 
Kebayang ya. Kalau kita nggak punya matahari. Pasti hidup kita selamanya gelap kayak gini. Dalam keadaan gelap itu ternyata bukan cuman nggak bisa ngelihat. Tapi kita bener-bener nggak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk sekedar mikirpun otak jadi seperti kehilangan tenaga gitu. Orang juga bereaksi macam-macam dalam kegelapan. Ada yang panik. Ada yang uring-uringan. Ada yang pikirannya jorok. Mungkin ada juga yang mencuri-curi kesempatan.
 
Sudah hampir dua puluh menit. Mereka masih mematung disitu.
Dan listrik masih juga padam. Rasanya sudah seperti setahun direndam dalam kelam.
“Pada kemana sih ini orang-orang? Kok nggak ada yang mau nolong?” protes Sekris. Nggak jelas kepada siapa protes itu ditujukan.
 
Tapi emang aneh juga sih. Biasanya pihak gedung memberi pengumuman. Kalau genset akan segera dihidupkan. Atau setidaknya ada pengarahan mesti ngapain. Ini nggak ada sama sekali. Apakah semua orang dibuat nggak berdaya kali ya? Atau… jangan-jangan, hanya mereka yang masih selamat….? Atau… jangan-jangan mereka tidak sadar jika sebenarnya dunia sudah berakhir. Kalau terjadi kiamat? Kan bisa aja. Iya ya… jangan-jangan ini kiamat. Oh, betapa ruginya orang-orang yang belum sempat kawin.
 
Mbak Aster pun meneruskan cekikikannya bersama Mrs. X. Sementara penghuni kubikal lainnya masih sibut dengan perdebatan mereka masing-masing. Terasa sekali jika ada jurang yang lebar diantara kedua generasi itu.
 
Dalam keadaan yang serba mencekam dan konyol itu, tiba-tiba gadget Jeanice berbunyi nyaring. Oh, akhirnya terhubungn juga dengan dunia luar!
 
Mereka semua gembira bukan kepalang. Bukan soal ada sambungan teleponnya. Tapi sekarang mereka bisa melihat seberkas cahaya. Nyala dari hand phone Jeanice terlihat begitu terangnya sehingga semua benda yang ada di mejanya bisa kelihatan jelas sekali. Iyya ya. Kenapa dari tadi nggak kepikiran untuk mengaktifkan hand phone. Kan dari layar monitornya bisa mengeluarkan cahaya untuk memandu mereka mencari jalan keluar. Dasar otak beku!
 
Jeanice segera meraih gadgetnya. Dari nomor yang tidak dikenal.
Tapi peduli amat deh. Angkat aja. Siapa tahu dari team penyelamat atau petugas penanggulangan bencana.
 
“Haloh…” Jeanice segera menyapa. Tapi dia terlambat. Sambungan itu keburu putus.
Meski begitu, tak seorang pun yang merasa kecewa. Penelepon itu seolah telah mengirimkan solusi yang tepat guna. Semua orang di kubikal meraih gadgetnya masing-masing. Lalu mereka menyalakannya.
 
Tanpa di komando. Sambil mengaktifkan gadget itu mereka berjalan perlahan. Lalu berkumpul di lorong kubikal yang agak luas. Kemudian mereka saling berpegangan tangan.
 
“Semua sudah pada kumpul disini ya?” Tanya Opri.
“Sudah!” setiap orang menyahut dengan nyaring.
“Oke kalau gitu, listen up galz…!” teriak Opri lagi. Maklum. Dia satu-satunya yang pernah ikutan klub pecinta alam. Jadi naluri survivalnya boleh dibilang paling menonjol. Dia bersiap-siap untuk memberikan penjelasan tentang exit strateginya. Namun sebelum dia sempat berbicara tiba-tiba ada yang menyahut dari pojok ruangan. Suaranya seperti orang yang dicocok hidung. Rada bindeng.
 
“Saaahaayaaa…masih berada disiiihiniiiii hiiii…. hihihihi…. “ katanya.
Kontan aja semua orang pada menjerit-jerit. Handphone yang mereka pegang pada berjatuhan karena tangan mereka terlalu sibuk untuk saling bepelukan….
 
“Hahaha… elo pada takut ya hahahaha…..” Orang yang bikin suara serem tadi tertawa terbahak-bahak.
 
S14L4N!
“VOLLDYYYYY!!!!!!!” semua orang kesal alang kepalang. Jantung mereka nyaris copot karena ulah cowok ngaco itu.
 
“Hahaha… kena elo pade ya…!” Voldy tertawa makin terbahak.
“Jangan gitu dong, Vold….” Kata Opri. Suaranya terdengar tegas tapi lembut.
Aneh sekali. Voldy langsung menurut. “O… I – iyya… maafin gue ya….” Katanya.
 
Semua orang di kubikal pada termangu. Apakah yang sedang terjadi di dunia ini?
“Gara-gara cowok elo tuch Pri, kita semua kehilangan sumber cahaya,” maki Aiti.
 
“Heh, jangan sembarangan nuduh ya Ti…” Opri kembali menunjukkan kegarangannya.
“Gue nggak nuduh. Emang kenyataannya gitu kok,” Aiti nggak mau kalah.
“Maksud elo kenyataan apa?” Desak Opri.
“Terserah elo deh!” cuek Aiti.
“Gue nggak terima ya kalau alo nuduh gue pacaran sama Voldy…” Opri sewot.
“Loooh… siapa yang nuduh elo pacaran sama Voldy…..?” Semua orang di kubikal menimpali. “Elo aja yang merasa kali, Pri…..”
 
Oh… Kalau saja lampu menyala, pasti kelihatan banget wajah Opri yang memerah. Dia sudah keceplosan sendiri. “Engh… m-maksud gue….”
 
“Aiti kan bilang kalau gara-gara dia tuch HP kita pada jatuh. Jadinya kita nggak bisa ngeliat apa-apa lagi!”
 
Sebenarnya bukan masalah bagi Opri untuk berdebat dengan semua orang diseluruh dunia. Tapi, tadi dia terlanjur mengucapkan kata-kata yang menempatkan posisinya jadi serba salah. Makanya dia nggak memperpanjang perdebatan itu. Malah berusaha untuk mengalihkan perhatian. “Enggh… k-kita… cari gadgetnya lagi deh ya.. please….”
 
Semua orang meraba-raba lantai kubikal. Siapa tahu beruntung bisa menemukan gadget itu ditengah kegelapan yang nggak ada tanda-tanda bakal berakhir. Namun sia-sia saja. Tak seorang pun berhasil menemukan satu-satunya harapan sumber cahaya itu. Sekarang mereka hanya bisa pasrah aja. Sambil duduk melingkar diatas lantai yang sama sekali tidak kelihatan itu.
 
“Stay together, oke…” kata Jeanice. Antara menghibur orang lain, dan mencari ketentraman bagi dirinya sendiri.
 
Masuk akal. Dalam keadaan seperti itu mendingan diam bersama sambil menunggu pertolongan. Ternyata, kebersamaan itu memang menentramkan hati. Saat bisa saling berpegangan itu, mereka tidak lagi takut pada apapun. Mereka malah bisa merasakan kedekatan satu sama lain.
 
Ketika tengah berada dalam pasrah itu, tiba-tiba Aiti mendengar nada bunyi ping gadgetnya. Sekris juga mendengar bunyi unik dari gadgetnya. Ternyata gadget semua orang mendapatkan pesan masuk. Gila. Rupanya gadget yang dicari-cari itu malah bertumpuk ditengah-tengah lingkaran mereka. Ketika ada pesan masuk secara bersamaan nyalanya menjadi seperti api unggun di bumi perkemahan.
 
Mereka pun segera berhamburan meraih api unggun itu. Takut kalau-kalau keburu mati lagi sehingga mereka bisa kehilangan jejak untuk mencarinya. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Mungkin petugas penyelamat yang tadi berusaha menelepon Jeanice. Karena keadaan tidak membaik, maka petugas itu mengirimkan pesan kepada semua nomor telepon yang terdaftar. Mereka buru-buru membuka pesan itu. Sambil berharap ada penjelasan bagaimana menemukan jalan keluar yang aman. Kemudian mereka membaca pesan ini di layar monitor gadgetnya masing-masing:
 
DITENGAH-TENGAH KEGELAPAN
KITA SADAR BETAPA BERHARGANYA SEBERKAS CAHAYA  
 
Setelah selesai membaca pesan itu, listrik langsung menyala kembali. Lucu banget. Betapa awut-awutannya mereka dalam posisi noraknya masing-masing. Mereka berteriak kegirangan. Tapi segera menyadari jika hari ini, Natin telah membawa mereka kepada pengalaman yang tak terlupakan. Mereka mendapatkan pelajaran berharga yang sedemikian kuatnya meresap kedalam jiwa.
 
Natin benar jika selama ini keberlimpahan menyebabkan kita lupa pada anugerah-anugerah kecil yang kita dapatkan. Betapa banyak keberuntungan yang kita peroleh. Namun karena kita terlalu sibuk dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar, maka keberuntungan kecil sering kita abaikan. Padahal, tanpa keberuntungan kecil itu; kita tidak punya keberuntungan besar. Karena keberuntungan besar itu merupakan gabungan dari berbagai macam keberuntungan kecil yang kita dapatkan dalam hidup.
 
Jika kita punya uang sepuluh juta misalnya. Kita sering tidak menghargai beberapa koin uang seribu yang tercecer dilantai. Padahal tanpa koin ribuan itu, uang kita tidak genap sepuluh juta. Ketika kita menikmati suasana yang menyenangkan di tempat kerja. Kita sering lupa pada kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan oleh orang-orang disekitar kita. Padahal, tanpa kebaikan-kebaikan kecil dari teman-teman itu, kehidupan kerja kita tidak akan terasa nyaman.
 
Seperti berkas cahaya yang terpancar dari handphone itu. Baru terasa terangnya ketika kita tengah berada dalam kegelapan. Sewaktu kita bertabur cahaya? Kita menganggapnya tidak bermakna. Mungkin. Begitu juga halnya dengan kebaikan yang diberikan oleh perusahaan. Disaat kita sedang berada dalam keberlimpahan, kita menganggap kebaikan perusahaan itu terlampau kecil untuk dihargai. Kita sering merasa jika perusahaan tidak memperhatikan. Atau mendapatkan lebih banyak daripada apa yang dibayarkannya pada kita. Apapun yang dilakukan perusahaan, kurang kita hargai. Sebel banget kerja disini! Coba kita kehilangan pekerjaan itu? Baru terasa nilainya.
 
“Oooh, rupanya kalian disini ya…” tiba-tiba saja Pak Mergy keluar dari ruang kerjanya. “Syukurlah…” katanya.
 
“Lho, selama ini Bapak kemana aja…?” seru Opri setengah nggak percaya.
“Emngh.. s-saya… sembunyi di kolong meja….” Pak Mergy menjawab dengan polosnya.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…....  
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa keberlimpahan yang tidak disyukuri itu bisa menjebak orang untuk menyepelekan kebaikan-kebaikan kecil yang didapatkannya. Ketika merasa tidak butuh pada orang lain, kita memandang mereka sebelah mata. Ketika merasa diri sudah memiliki segala-galanya, kita menganggap orang lain tak berarti apa-apa.
 
Nggak hanya kepada sesama manusia kita menganggap begitu. Ketika kehidupan sudah beranjak semakin membaik, kita juga sering merasa jika semuanya itu adalah hasil jerih payah kita. Padahal, semua yang kita raih ini adalah gabungan dari kebaikan demi kebaikan kecil yang secara terus menerus Tuhan anugerahkan seiring dengan berjalannya waktu. Dan jika sekarang anugerah itu menjadi sedemikian besarnya. Maka itu bukanlah semata-mata hasil kerja kita sendiri. Ada jejak jasa teman-teman kita disana. Atasan. Bawahan. Atau kolega. Dan yang pasti, ada jejak tangan Tuhan disana. Jejak yang layak kita syukuri, setiap hari.

Catatan Kaki:
Sesekali kita perlu berada pada situasi sulit, agar bisa lebih memahami bahwa hidup kita dipenuhi dengan sederet kemudahan yang senantiasa Tuhan anugerahkan.